Menyapih dengan Cinta, Bukan dengan Obat Merah

Sebagaimana cerita sebelumnya, sebulan sebelum Kelana 2 tahun saya baru mulai menguatkan hati untuk berenti menyusui. Sekarang mengingat Kelana bulan ini menginjak 2 lebih saya putuskan untuk mulai menyapih. Dengan demikian, saya siap untuk gak uwel uwelan nenenin Kelana, tapi mengganti nenen dengan aktivitas lain yang sama berkualitasnya dengan menyusui. Strategi sudah disusun, tinggal eksekusi. Yang jelas gak bakalan tiba-tiba berenti nyusui begitu aja. Ibarat orang pacaran, kalau diputusin sepihak kan sakit banget ya, apalagi pacarannya udah bertahun tahun heuheu *hapasih.

Strategi menyapih yang pertama kali saya eksekusi adalah membangun komunikasi dengan Kelana. Pada awal proses menyapih saya hanya menyampaikan kepada Kelana fakta yang ada, bahwa Kelana sekarang usianya 2, udah gede, seharusnya udah berenti nenen. Dengan membangun komunikasi yang baik seperti ini saya mengharapkan pengertian dari Kelana bahwa dia akan segera berhenti nenen. Setelah berkali kali saya sampaikan hal ini pada Kelana, respon yang Kelana berikan bukan positif menjauh dari nenen malah semakin posesif dan agresif. Continue reading

Advertisements

Next Step, Weaning With Love

Meskipun masih lama, masih beberapa minggu lagi, saya sangat deg deg an menantikan bulan september. Bulan ulang tahun ke-2 nya Kelana. Bulan komitmen menyusui tuntas menjadi 2 tahun. Dan bulan mulai menyapih heuheu…

Kegiatan susu-menyusui ini sangat lah nyaman buat kami berdua, saya dan Kelana. Kenyamanan itu justru menjadikan saya terlalu berat untuk mulai menyapih. Meskipun sejak 14 bulan, Kelana sudah tidak mau minum ASIP simpanan, tapi tidak membuatnya berhenti menyusu pada saya.

Ada yang menyarankan trik trik jadul untuk menyapih. Misalnya, nenennya dikasih betadine, minyak kayu putih, sampe brotowali. Pokoknya dikasih yg serem-serem dan pahit-pahit supaya Kelana gak mau nenen lagi. Heuheu ini kan salah satu bentuk penjajahan juga.. Hari gini masih ngejajah anak sendiri?? Iyuuuh, malu sama Bung Karno kaleee hahaha.

Cara jadul tadi mungkin efektif tapi meninggalkan trauma. Gimana kalau nanti Kelana diberhentikan paksa nenen dengan obat merah misalnya, trus dia cerita ke orang orang kalo nenen umi-nya bedarah, trus anak anak lain jadi gak mau nenen lagi ke ibunya gara gara diceritain Kelana kaya gitu. Hayook gimana.. Ya ini sih andai andainya saya aja, belum tentu kejadian hehe..

Inti sebenarnya karena saya belum siap secara mental menyapih Kelana yang baru (akan) 2 tahun sebentar lagi. Sejauh ini saya baru sosialisasikan dan sugestikan kalimat kalimat seperti ini :”Kelana, kalau udah 2 tahun nenennya udahan ya”. Diakhir kalimat tadi pasti diikuti dengan gelengan kepala Kelana, artinya gak mau ummiiii..!! Heuheu Laah trus piye….

Ya saya sih berharap ga akan sampai berurai air mata lebay yaah. Mudah mudahan beberapa hari kedepan saya akan menemukan our-own weaning with love. Kelana harus tau, walaupun nanti gak nenen lagi, ga ada sedikitpun kadar cinta yang berkurang buat dia. Yang ada, abah dan umi nya makin nambah karena Kelana makin gede makin pinter.

**Sun sayang Umi buat Kelana yang lagi diasuh Abah di rumah :-*