Panggil Aku Ummi

Hal yang menjadi pemikiran setelah kelahiran Kelana, anak pertama saya, adalah akan membahasakan diri saya apa. Apakah ibu, mama, bunda, ummi, atau yang lain. Pertimbangannya adalah saya harus pastikan saya akan PD dipanggil dengan anak saya dengan sebutan “apapun itu”. Ini semacam membuat nama/ID email. Harus berkarakter. Dan panggilan ini harus dipastikan tidak boleh sama dengan panggilan saya ke mama saya, dan kakak ipar saya yang sudah lebih dulu dipanggil ibu oleh anaknya. Maka saya mencoret panggilan “mama” dan “ibu” dari daftar panggilan Kelana kepada saya. Kemudian saya terpaksa harus mencoret panggilan “mami” karena ini sudah dipakai paksa oleh mama saya untuk membahasakan dirinya untuk cucu-cucunya. Ah mengenai ini panjang pula ceritanya. Singkat cerita, berkuranglah pilihan panggilan ibu untuk saya. Tersisa bunda, ummi, ambu?, dan mommy (ini terdengar seperti mami dan sepertinya harus dicoret saja).

Sementara saya masih mencocok cocokkan panggilan ibu untuk saya gunakan, suami saya sudah mantap dengan panggilan “abah” bahkan sejak saya belum hamil, katanya lebih merakyat, lebih sunda.
Ditengah kegalauan saya ini, suami saya sering nyeletuk “udaaah dipanggil ambu aja, kan pasangan abah ya ambu”. Aiih..ambu., pikir saya terlalu sunda dan ‘gak gue banget’ hehehe.

Sebelumnya saya menyebut “aku-aku” saat bicara dengan Kelana. Terdengar tidak terkoneksi sekali, dengan anak kok aku aku. Lain waktu saya bicara lagi dengan Kelana menyebut diri bunda. Hm terdengar berwibawa dan berat sekali buat saya. Saya kembali ber-aku-aku dengan Kelana.

Lalu mau dipanggil apa? Continue reading