Bermain Peran: Anak Cerminan Orang Tua

Diskusi mengenai pengasuhan anak dg ibu guru Kelana di sekolah jadi hal yg gw tunggu. Tiap ketemu bu guru pasti cerita dan hikmahnya beda.

Tadi pagi rapat ortu murid, seperti biasa membicarakan tentang tema bulanan. Yang beda dengan pertemuan dengan bulan lalu adalah 1 jam terakhir ortu diajak simulasi bermain di sentra bermain tempat anak kita sehari hari beraktivitas.

Pembagian kelompok sesuai dengan kelompok anak. Dari ruang rapat ortu, kami masuk barisan kelompok anak masing masing. Kemudian kami digiring masuk ke ruang bermain. Saat masuk ke ruang bermain, kami disambut ibu guru, sama dengan saat ibu guru menyambut anak anak datang.
Ortu diajak nyanyi, gerak tubuh, berdoa, sebelum masuk ke kegiatan inti di sentra bermain. Disini ortu disarankan untuk sesaat membayangkan menjadi anak masing masing. Well, gw cukup menikmati ‘menjadi’ Kelana sih haha..

Gw kebagian simulasi main di sentra bermain peran makro. Disentra ini kita akan berpura pura menjadi salah satu anggota keluarga, misal jadi ayah, ibu, kakak, kakek dll. Biasanya anak usia 2-3 tahun belum ingin menjadi siapa siapa, mereka cenderung memilih menjadi diri sendiri. Sifat egocentric mereka dominan *pelajaran baru 🙂

Ruangan sudah diset seperti rumah, ada ruang tamu, ada dapur, kamar tidur + boneka adik bayi, tempat cuci baju dan jemur, ruang makan, ada mobil, dan mushola. Well, yg jadi aneh adalah saat kita, org dewasa, disuguhi benda benda sungguhan itu trus mesti pura pura. Apa yang akan kami lakukan?

Mungkin karena daya eksplorasi dan daya khayal kita sudah tidak sepeka anak anak, jadilah kami hanya bermain dg barang barang yg sesuai fungsinya dg kegiatan sehari hari. Seperti mencuci dan menjemur, memasak, solat. Tanpa sadar di sana banyak ‘pritilan’ yg kalau sama anak kita pasti dieksplorasi. Misalnya ada sepatu org dewasa, topi, kaca mata, kerudung dll yg mendukung kita saat bermain peran.
Setelah bermain, kami duduk melingkar bernyanyi beberapa lagu, dan recalling kegiatan hari ini. Setiap akhir hari salah satu anak dari kelompoknya akan ditunjuk/ditanya siapa yg ingin cerita summary kegiatan hari itu. Selain melatih kemampuan bicaranya, anak juga dilatih percaya diri bicara ditengah teman temannya.

Satu kesan dari ibu guru yang menggelitik, “wah ruangan kita lebih rapi dari pada biasanya”, dengan kalimat itu kami tertawa terbayang saat anak anak kita yang main disana, pasti lebih seru 🙂

Kata ibu guru, biasanya saat main peran seperti ini anak anak secara tidak sadar mencerminkan ortu masing masing. Misalnya yg bapaknya suka membentak, dia akan melakukan itu. Yg ibunya ngomel melulu, bisa aja ditiru sama anak. Yang bapak ibunya bicara lembut, juga pasti keliatan. Ini kan semacam dilucuti anak sendiri ya..heuheu jadi malu sama diri sendiri.

Kalo didunia parenting ada istilah the trouble two, the ego three dan lain lain yang mana dari istilahnya aja bikin tangan ini mengurut dada, paringono sabar ibu, bapak..

Mudah mudahan gw selalu ingat bahwa anak adalah cerminan orang tuanya. Mudah mudahan gw kalo lagi kesel ga sampe berbuat hal bodoh yg menyakiti hati Kelana. Mudah mudahan gw dan suami bisa jadi contoh yg baik buat Kelana. Amiin..

Pelajaran moral nomor 212: belilah cermin, karna akan berguna saat mengasuh anak

😉

Menyapih dengan Cinta, Bukan dengan Obat Merah

Sebagaimana cerita sebelumnya, sebulan sebelum Kelana 2 tahun saya baru mulai menguatkan hati untuk berenti menyusui. Sekarang mengingat Kelana bulan ini menginjak 2 lebih saya putuskan untuk mulai menyapih. Dengan demikian, saya siap untuk gak uwel uwelan nenenin Kelana, tapi mengganti nenen dengan aktivitas lain yang sama berkualitasnya dengan menyusui. Strategi sudah disusun, tinggal eksekusi. Yang jelas gak bakalan tiba-tiba berenti nyusui begitu aja. Ibarat orang pacaran, kalau diputusin sepihak kan sakit banget ya, apalagi pacarannya udah bertahun tahun heuheu *hapasih.

Strategi menyapih yang pertama kali saya eksekusi adalah membangun komunikasi dengan Kelana. Pada awal proses menyapih saya hanya menyampaikan kepada Kelana fakta yang ada, bahwa Kelana sekarang usianya 2, udah gede, seharusnya udah berenti nenen. Dengan membangun komunikasi yang baik seperti ini saya mengharapkan pengertian dari Kelana bahwa dia akan segera berhenti nenen. Setelah berkali kali saya sampaikan hal ini pada Kelana, respon yang Kelana berikan bukan positif menjauh dari nenen malah semakin posesif dan agresif. Continue reading

Ayah Hebat

“Attachment tidak bisa dinikmati hari ini, dia (attachment.red) harus dibangun sekarang tapi dinikmati nanti, belasan tahun lagi”, kata dr.tiwi dalam parenting class Ayah Hebat bulan Juli lalu.

Dr. Tiwi adalah dokter anak yang sehari – hari berpraktek di RS. Bunda Menteng, Jakarta. Bukan kebetulan saya pilih dr. Tiwi jadi dokter Kelana, anak saya. Atas rekomendasi dari @ID_AyahASI, kebetulan RS tempat praktek beliau tidak jauh dari rumah, dan ternyata asuransi kesehatan Kelana bisa diterima di RS. Bunda maka berjodohlah kami 🙂

Kelas parenting ini agak beda karena sebagian yang datang berwajah sangar, tegas, dan berjenggot alias bapak-bapak. Mengangkat judul Ayah Hebat, seminar yang digagas dr. Tiwi ini cukup sukses mengundang para ayah kecebur ikut seminar. Saya yakin menyeret para ayah ikut seminar parenting pasti sama sulitnya dengan meminta ayah menceboki anaknya. Tapi saya yakin pula setelah kelas parenting “Ayah Hebat” ini bapak-bapak brewokan, sangar, dan kekar ini akan dengan sukarela membersihkan pup anaknya, bermain dengan anak jadi lebih penting daripada bermain gadgetnya, dan bahkan ke bengkel pun mengajak serta anaknya demi menyandang predikat Ayah Hebat. Continue reading

Suatu pagi, teladan yang baik

Suatu pagi saya sedang bersiap ke kantor. Saat itu ada anak tetangga main ke rumah, mau main sama Kelana katanya, saya silakan saja. Sambil berhias saya perhatikan mereka berdua dari pantulan cermin. Kelana merampas mainan yang dipegang temannya, bukan tindakan yang patut. Kejadian berikutnya adalah anak tetangga itu dilempar mainan karena Kelana kesal semua maiannya dipegang. Tiga kali kejadian rampas merampas dan sekali lemparan mainan, akhirnya saya turun tangan.
Saya membukuk, berusaha berada dilevel ketinggian yang sama dengan Kelana untuk memberitahunya bahwa perbuatannya tadi bukan perbuatan baik. Saya yakin dia paham kode telunjuk “stop” dan “dont do that” yang saya tunjukkan. Ditegur begitu, Kelana dengan wajah isengnya bukan berhenti malah melempar maiannya lagi. Saya ulangi kode telunjuknya, kali ini dia pura pura nangis. Sebenarnya saya gak tahan liat wajahnya saat pura pura nangis, lucu, tapi rampas dan lempar mainan bukan hal baik untuk diteruskan. Hal yang terjadi berikutnya adalah saya masuk dalam permaianan mereka, berusaha terlibat, dengan maksud memberikan teladan baik.

Lebih mudah untuk menegur dengan kata kata tapi tidak efektif untuk anak seusia Kelana. Saya sering meyakinkan diri bahwa Kelana mengerti maksud ucapan saya yang selalu saya lengkapi dengan bahasa tubuh. Tapi prakteknya, intonasi, kata kata, dan kode kode larangan tidak selamanya dituruti. Dan anak ini punya “senjata” pura pura nangis dan merasa bersalah dengan menutup wajahnya untuk menyelamatkan diri. Lucu yang gak lucu.

Kalau ada kategori, maka saya termasuk orang tua yang tidak lebay dengan larang ini itu. Ketegori lainnya adalah, saya ibu bekerja. Kelana saya percayakan pada si mbak yang dari silsilah kami masih sodara. Seharian ditinggal dengan si mbak, main dengan tetangga pastilah banyak hal terjadi. Saya tidak bisa mengharapkan kesempurnaan dari setiap perbuatan Kelana. Dia banyak melihat orang disekelilingnya yang berupa rupa perbuatannya. Pastilah sedikit banyak dicontohnya. Tugas saya dan suami dirumah adalah mencontohkan hal baik ratusan, bahkan ribuan kali untuk Kelana tiru dan dibawa dalam permainannya sehari hari.

Semoga kejadian pagi itu tidak terulang lagi.

—–
Selamat hari pendidikan nasional. Sebaik baik teladan manusia adalah teladan dari Rasullullah SAW.