Pacitan, The Background

Sore ini kegiatan saya beda dengan hari hari biasanya. Saya membaur dengan riak ombak pantai Teleng Ria, Pacitan yang riang. Saya ditemani Yaya dan beberapa teman life guard berenang melewati bibir pecah ombak, menikmati naik turun gelombang laut, dan sesekali tertampar gelombang yang keburu pecah. Pemandangan indah bebukitan disekeliling seperti pagar yang membatasi pantai dari Samudera Hindia. Meskipun matahari mulai menghilang dibalik bukit, namun tak satupun keindahan terenggut. Semua sempurna, menghapus lelah saya yang menghabiskan waktu 3 jam berkendara dari Yogyakarta.

Kemanjuan wisata selancarnya tidak serta memajukan sumber daya manusianya. Sebagian penduduk mulai menjual tanahnya kepada investor asing yang tertarik dengan bisnis cottage/hotel/penginapan yang sedang menjamur di deretan pantai Pacitan. Sekarang ini sejumlah penduduk yang menjual tanahnya mulai menyesal karena telah menyerahkan “rumah” mereka dibangun oleh orang asing. Supir travel yang membawa saya datang ke Pacitan dengan jujur mengatakan bahwa Ia tidak bisa berbahasa Inggris padahal sebagian besar tamu yang diantarkannya datang dari luar Indonesia. Beberapa remaja senang nongkrong di pantai bercengkrama dengan kawannya dan mengeluarkan kata-kata yang kasar. Ouch!

Mungkin, anak-anak jalanan di kota besar sudah banyak yang urus, katakanlah demikian. Tapi anak-anak pinggir kali, anak-anak pinggir pantai di desa, mereka (yang tidak gigih) akan sulit mendapat akses ilmu dan kesempatan. Mana ada orang tau kalau tidak betul-betul datang ke lokasi. Kita lihat nanti, apa yang bisa kita lakukan di sini bersama Project Child Indonesia.

Good morning from Pantai Teleng Ria, Pacitan
Have a nice day everybody 😉

Harry`s Hotel, 2 februari 2014
Advertisements