Memaknai Kelana

Kelana adalah nama yang kami berikan untuk anak pertama kami. Arti namanya tak perlu diragukan lagi, jelas dengan gamblang Kami, orang tuanya, ingin Kelana berkelana. Melangkahkan kaki jauh menyeberangi samudera, berkelana sampai ujung negeri China.

Kami ingin Kelana menjadi manusia yang tidak ragu meninggalkan rumah untuk belajar hal-hal baru dari luar dunia sana.

Kami ingin Kelana memaknai setiap langkahnya untuk memperluas wawasan dan memperdalam keimanan kepada-Nya. Berkelana dengan mata dan hati untuk menerima hal baru kemudian merefleksikannya untuk memperkuat keimanannya.

Kami ingin Kelana menjadi pemimpin untuk dirinya melangkah, menyuburkan silaturahmi, menyebar benih ilmu pengetahuan yang dia miliki, menyianginya dengan kasih sayang dan semangat toleransi antar umat beragama seperti yabg diajarkan Rasullullah.

Seperti kata Ali bin Abi Thalib ra.
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudera tempat banyak ciptaan-Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nakhoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan”.

Cukuplah Al Quran dan hadist jadi pedoman, jangan lupa selalu bawa kompas dan peta, GPS bila perlu. Tapi umi sih yakin jaman kamu mulai berpetualang nanti mungkin GPS, peta, dan kompasmu sudah dalam bentuk hologram yang disimpan dalam kapsul di jam tanganmu 🙂 

Oya, jangan lupa selalu buat catatan harian, email-kan ke umi dan abah ya!

Salam sayang,

Abah&Umi

Panggil Aku Ummi

Hal yang menjadi pemikiran setelah kelahiran Kelana, anak pertama saya, adalah akan membahasakan diri saya apa. Apakah ibu, mama, bunda, ummi, atau yang lain. Pertimbangannya adalah saya harus pastikan saya akan PD dipanggil dengan anak saya dengan sebutan “apapun itu”. Ini semacam membuat nama/ID email. Harus berkarakter. Dan panggilan ini harus dipastikan tidak boleh sama dengan panggilan saya ke mama saya, dan kakak ipar saya yang sudah lebih dulu dipanggil ibu oleh anaknya. Maka saya mencoret panggilan “mama” dan “ibu” dari daftar panggilan Kelana kepada saya. Kemudian saya terpaksa harus mencoret panggilan “mami” karena ini sudah dipakai paksa oleh mama saya untuk membahasakan dirinya untuk cucu-cucunya. Ah mengenai ini panjang pula ceritanya. Singkat cerita, berkuranglah pilihan panggilan ibu untuk saya. Tersisa bunda, ummi, ambu?, dan mommy (ini terdengar seperti mami dan sepertinya harus dicoret saja).

Sementara saya masih mencocok cocokkan panggilan ibu untuk saya gunakan, suami saya sudah mantap dengan panggilan “abah” bahkan sejak saya belum hamil, katanya lebih merakyat, lebih sunda.
Ditengah kegalauan saya ini, suami saya sering nyeletuk “udaaah dipanggil ambu aja, kan pasangan abah ya ambu”. Aiih..ambu., pikir saya terlalu sunda dan ‘gak gue banget’ hehehe.

Sebelumnya saya menyebut “aku-aku” saat bicara dengan Kelana. Terdengar tidak terkoneksi sekali, dengan anak kok aku aku. Lain waktu saya bicara lagi dengan Kelana menyebut diri bunda. Hm terdengar berwibawa dan berat sekali buat saya. Saya kembali ber-aku-aku dengan Kelana.

Lalu mau dipanggil apa? Continue reading

Cepet Sembuh, Nak

Tenang disaat anak sakit bukan perkara yg mudah untuk dilakukan. Apalagi ini anak pertama. Saya terdoktrin oleh buku buku perkembangan anak, pengetahuan tentang merawat bayi, dan sejenis itu untuk bersikap tenang dikala terjadi sesuatu pada bayi saya. Kali ini tingkat ketenangan saya diuji, bayi saya 4 bulan, sakit untuk pertama kalinya. Tidak terlalu berat untuk permulaan, “hanya” batuk pilek 🙂

Tubuh kecilnya diserang ntah apa hingga menyebabkan dia batuk berdahak. Nafasnya berat, tiap kali batuk, terdengar seperti dia berusaha sekuat tenaga mengeluarkan dahaknya, terkadang sampai stress dia teriak. Saat teriak, dia dengar suaranya sendiri dan tampang curious nya muncul, dia penasaran dg suaranya yg parau, kemudian dia teriak lagi. Dilakukannya berulang ulang hehehe. Timbul rasa geli ditengah rasa kasihan krn batuknya. Dasar anak kecil.

Hari hari pertama dia batuk masih saya biarkan. Menurut buku2 yg saya baca, batuk adalah reaksi alami utk mengeluarkan benda asing yg masuk dalam saluran pernafasan, ini juga dilakukan bayi. Sejauh ini hanya saya pantau suhu tubuh dan batuknya, sambil di terapi uap untuk bantu melegakan nafas. Sayang sekali cuaca mendung belakangan sehingga kita ga bisa sunbathing.

Jalan empat hari batuknya makin berat, diperparah dengan ingusan, muntah kemudian badannya panas. Oke, stay cool and calm. Saya sempat dipuji suami, tiap kali si bayi muntah dengan tenang saya telungkupkan badannya. Hehehe ini sih udah hapal, krn disemua buku perawatan bayi bilang kalau anaknya muntah/gumoh segera dimiringkan atau di telungkupkan supaya tidak tersedak.

Sementara yg dilakukan untuk menurunkan panas adalah dg berpelukan, membuat tubuh bayi saya nyaman dalam dekapan dada, seperti kanguru menggendong anaknya. Ini salah satu teknik skin to skin contact untuk menyelaraskan suhu tubuh bayi dg ibunya, diharapkan efek berpelukan ini suhu tubuh bayi menjadi normal kembali. Sambil berpelukan, kompres kepala, dan baskom air panas utk penguapan ruangan diganti terus. Dan tarraaa..panasnya turun. Obat penurun panasnya disimpen lagi, ga jadi dikasihkan. See, gak perlu panik kan? 🙂 Continue reading

Kelana Fototerapi

Suatu malam saya tanya suami saya, kapan si ade mesti kontrol ke dokter pasca kami keluar dari RS bersalin. Karena pertanyaan tadi, suami saya langsung bongkar tas berkas dari RS, salah satunya ada surat kontrol bayi tertanggal 12 september 2011. Saat itu tanggal 12 september, jam 8 malem. Loh berarti hari ini dong! Wew. Langsung cek n ricek praktek dokter anak ybs, dan syukurlah prakteknya masih buka.

Kami sama-sama kecapean ngurus new baby born Kelana karena dia jadi rewel sepulangnya dari RS. Jadi kami kurang memperhatikan hal lain macam kontrol ke dokter.

Kata Dokter…

Masuk ke ruangan dokter, Kelana disuruh baring dikasur periksa. Si dokter sentar senter matanya, cek nafas, liat mulutnya trus balik ke meja kerjanya nulis sesuatu. Sesuatu itu adalah surat pengantar dokter untuk petugas lab. Oh, saya disuruh bawa Kelana ke lab untuk cek darah.

Kata dokter (yang irit bicara ini), anaknya kuning, kita harus liat hasil cek darahnya. Udah tuh ngomongnya gitu doang plus judes trus saya disuruh cepet karena labnya mau tutup jam 9 malem itu.

Hah, kenapa dengan anak saya?

Dan si dokter pulang sebelum hasil lab selesai, jadi malam itu kami galau segalau galaunya. What should we do next?

Hasil cek lab Kelana bikin saya dan suami cemas. Disitu tertulis angka bilirubin normal dan hasil lab Kelana yang jauh dari normal. 16mg/dl. Hasil googling dan tanya sana sini, ternyata bayi yg bilirubinnya diatas 12mg/dl penyembuhan yang paling optimal adalah dengan fototerapi/disinar.

Saya sering dengar bayi kuning, bilirubin, dan semacamnya tapi saya gak nyangka ini kejadian sama anak saya. Sikap dokter yang dingin, angkuh, belagu, dan kurang komunikatif pada kami, bikin kami bingung dan saya kacau banget. Ditambah lagi dokter anak dan RS ini rupanya bukan yang pro ASI. Dokternya berkali-kali bilang “ibunya sih mau ASI eksklusif ya begini”. Jadilah saya baru jadi orang tua seminggu udah ngerasa gagal jadi ibu yang baik, Kelana sakit kuning pasti gara-gara produksi asi saya gak maksimal buat minumnya dia 😦 *drama dimulai. jeng jeng!!

Besoknya kita balik lagi ke RS yg sama , Kelana mesti fototerapi untuk ngebantu memecah bilirubin dalam darahnya. Fototerapi Kelana berlangsung selama lima hari. Tiap harinya Kelana disinar selama 16 jam trus sisanya istirahat boleh keluar dari ruang bayi, boleh bobok sama ayah ibunya. Trus kembali lagi ke ruang bayi 16 jam dst.

Sebelum ninggalin Kelana di ruang bayi saya harus menyaksikan Kelana ditusuk sana sini buat cari jalan cairan infus. Pencarian pembuluh darah didua punggung tangan mungilnya gagal karena pembuluh darahnya terlalu tipis (ya iyalah orok baru 6 hari, gila!). Tangis dan tatapan “minta tolongnya” Kelana bikin hati saya hancur sehancur hancurnya. Haduuuu suster kalo bisa saya aja yang ditusuk2 begitu.. Sambil megangin badannya Kelana yg nangis kejer, air mata saya juga ikutan ngucur tanpa diperintah. Suami saya milih gak menyaksikan kejadian itu. Dia bilang gak sanggup liat dua-duanya nangis.

Drama pencarian pembuluh darah infusan berakhir di kaki kiri Kelana. Disitu pembuluhnya lebih besar dan keliatan banget. Rasanya pengen ngegetok susternya, kenapa gak dari tadi aja liat kakinya. GGRRR!!

Fototerapi artinya : Sufor vs ASI

Selanjutnya Kelana dibawa ke ruang bayi yang mana ruangan itu steril dari non petugas medis. Saya gak diijinkan menengok anak saya selama fototerapi dan yang bikin saya tambah merana adalah bidan yang ngurusin bayi2 disitu nawarin si Kelana mau dikasih sufor apa.

Dengan tegas saya jawab, Kelana gak akan dikasih minum apa2 selain ASI. Titik. Saya rela jumpalitan kesakitan keperihan merah susu-anter susu ke rumah sakit demi Kelana. Cukup sampe disini aja penderitaan Kelana dan saya bakalan jadi ibu pecundang banget kalo sampe biarin Kelana ga minum ASI gara2 saya nyerah sama prosedur rumah sakit.

Susternya juga gak mau kalah tegas trus bilang, bayi yang fototerapi minumnya lebih banyak bu, jadi nanti kita tetep akan back up dg sufor kalo ASInya gak cukup. Jadilah sejak hari pertama sampe hari kelima Kelana masuk fototerapi saya kejar kejaran dengan waktu buat nyetok ASI supaya gak keduluan suster ngasih sufor ke Kelana. Alhamdulillah, kadang2 gagal 😦

Hari pertama Kelana fototerapi adalah pertama kali buat saya merah ASI, itu juga dalam kondisi stress, capek, dan sedih. Kondisi gak enak ini menyebabkan ASI yang keluar dari PD kanan dan kiri hanya 20 ml. Dikit banget. Dan ini bikin saya tambah stress karena mikirin gimana bisa menang sama jajahan sufor kalo sekali merah cuma dapet segini. Saya tersedu sedu lagi.

Setelah menenangkan dan meyakinkan diri bahwa saya pasti bisa kasih ASI cukup buat Kelana, Alhamdulillah pelan pelan di perahan selanjutnya volume ASI bertambah dengan sendirinya. Hari berikutnya sekali perah dalam waktu 2-3 jam ASI saya bisa sampe 120 ml. Emang bener, produksi ASI tergantung permintaan. Kalau permintaannya banyak, insyaallah yang keluar juga akan banyak. Akhirnya Kelana dapet support ASI yang cukup selama lima hari fototerapi. Sufor yang (terpaksa) saya beli buat back up minumnya cuman habis sedikit. Trus dihari terakhir sebelum Kelana pulang susternya bilang, salut buat ibunya tiap hari bulak balik nganter ASI padahal jaitan bekas operasi belom kering *terharu *elus elus breast pump-supporting tool selama nyetok ASI buat Kelana.

Setelah lima hari fototerapi bilirubinnya Kelana turun jauh, mendekati normal. Sekarang Kelana udah pulang ke rumah. Sehat wal’afiat, berat badannya nambah, kulitnya jadi lebih bersih dan cerah.

Sekarang PR buat kami, orang tuanya, cari dokter anak lain dan RS lain. Titik!!! *balikbadan. Sekian.

Selamat Datang, Nak!

image

PAGI SIANG

Ntah punya firasat apa rabu pagi saya kepengen nulis dan update blog (tulisan sebelumnya). Selama saya ngetik, Nadia, ponakan saya yang umurnya 1 tahun 8 bulan terus terusan elus elus perut saya, pake acara peluk peluk segala sambil nyengir badung. Tumben.

Siang itu memang saya ngerasa perut saya lebih sering kenceng dari pada biasanya, tapi saya pikir ini aktivitas normal kehamilan usia 39 minggu. Si ade lagi cari jalan keluar. “Lagi pula cuman kenceng kenceng biasa, ga ada tanda-tanda darah atau apa. Ayo dek, semangat!!”. Lanjut ngetik…

PECAH!!

Menjelang magrib suami saya pulang, dia bilang mau ke Tenggarong ketemu orang sekalian mau nonton tari-tarian dayak dan kutai. Suami malah nawarin saya mau ikut apa engga. Sempet kepikir pengen juga nonton tariannya, kapan lagi.. (nunggu si adek gak lahir lahir sih). Tapi saya ngebayangin perjalanan Samarinda Tenggarong bakalan lama aja udah males. Ah, im not in good mood for travelling.

Mungkin sudah diatur sama Allah, suami saya di sms temennya katanya mobilnya gak bisa jemput karena banjir. Saya ya otomatis seneng doong hehe.. Yaudah kita dirumah aja nonton tv.

Jam 20.15, Lagi asik asik ngobrol santai tidur tiduran, tiba tiba bunyi “duuusss!!!” diikuti basah dari daster saya. Saya kaget, langsung bangun dari tempat tidur dan banjir… Seperti balon air yang dipecahin, airnya  terusan keluar. Bukannya rembes lagi, bocor!

Kemudian rentetan kalimat keluar dari mulut saya :
“eh eh ketubanku pecah! Ketubanku pecah a!!”
“eh aku gak boleh panik, gak boleh panik!”
“duh, banyak banget keluarnya!! Minum a, minum!! Aku harus banyak minum, kasian ade bayinya!!”

Saya berusaha menenangkan diri. Sambil teriak ke bawah (maksudnya ngasih tau kakak saya yang ada di bawah) “Kak, ketubanku pecah!! Siapin mobil!”. Kakak saya nyaut “HAH? Ban mobil pecah?!”. Gubrag!!

Cerita selanjutnya adalah semua orang siap siap. Kakak saya siapin mobil, Suami saya full siaga dompet dan galaxy tab (mungkin hanya itu yg dia pikir penting untuk nemenin oranga mau melahirkan. Duit dan dokumentasi hehe..).
Sambil jalan pelan-pelan ke mobil saya telepon rumah sakit, cek kamar paviliun mana yang available untuk malam ini. Dokter sudah diberitau via sms kalau ketuban saya pecah dan gak ada rasa sakit sama sekali.

Dijalan air terus rembes ke sarung yang saya pakai.  Saya inget-inget yang saya baca selama ini dan mengubungkannya dengan kondisi saya saat itu. Ketuban saya pecah duluan, gak ada kontraksi sama sekali, mules juga engga. Artinya, bahaya dong!! Glek.

Sampai detik itu saya sangat mengharapkan merasakan sakit perut, mules, atau apalah yang memicu bukaan jalan lahir untuk anak saya. Nyatanya, sampai di rumah sakit air terus menerus keluar. Awalnya tidak berwarna, lama kelamaan jadi keruh, dan sampai akhirnya berwarna kehijauan.

Jam 21 diperiksa oleh dokter bukaan saya baru satu dan kepala bayi masih jauh. Jika kondisinya begini, dia gak berani ambil resiko untuk menginduksi menunggu agar bukaan lengkap untuk persalinan normal. Terlalu beresiko untuk bayi. Satu satunya jalan agar ibu dan bayi selamat adalah lewat  operasi.

Kemudian kami diberi waktu untuk berdiskusi sebelum memutuskan tindakan apa yang akan kami ambil. Kami sekeluarga liat liatan dan saling bertanya gimana gimana.. Ini sih bukan diskusi karena ga ada pilihan lain lagi.

Saking banyaknya air yang sudah keluar sampai sampai perut saya keliatan banget banyak ciutnya. Saya elus elus perut saya, berusaha berkomunikasi dengan bayi dalem perut saya. Gerakan bayi saya melemah, perasaan saya campur aduk.

Saya sangat mengharapkan menjalani persalinan normal. Bukan hanya berharap, tapi selama ini sejak mengetahui kehamilan saya sehat dan ga ada masalah, saya upayakan segala aktivitas untuk mempermudah terbukanya jalan lahir.

Saya bicara dari hati ke hati sama bayi saya, “adek bayi sayang, beginikah cara kamu keluar ke dunia? Kalau memang iya, ummi ikhlas deh. Kita upayakan yang terbaik buat kamu dan kita semua yah”. Menetes air mata saya, kemuadian kami putuskan. Baiklah operasi secepatnya.

Mungkin semua tau saya sedih, ini bukan cara persalinan yang saya harapkan. Papa menguatkan, “melahirkan tu kalo gak mormal ya operasi. Be strong ya”. Saya abaikan perasaan, dan mulai menguatkan diri, kompakan sama ade bayi yang mulai kehabisan cairan amniotiknya.

Jam 21.35 tempat tidur saya didorong menuju ruang operasi.

RUANG OPERASI YANG DINGIN..

Di dalam ruang operasi, yang ada cuma tebaga medis. Ga ada suami, apalagi personil keluarga  yang boleh mendampingi. Ruangan harus steril, saya mulai menggigil. Saya takut. Seumur umur belum pernah masuk ruang operasi.

Semua dijalankan sesuai SOP. Saya disuruh duduk membungkuk seperti udang, terus disuntik ditulang belakang saya. Selang berapa menit kaki saya lemas, bagian perut kebawah rasanya kebas. Saya disuruh mengangkat kaki, sekuat tenaga saya berusaha tapi kaki saya tidak juga terangkat. Obat bius mulai bekerja maksimal. Bibir saya gemetar, saya tambah ketakutan.

Satu satunya yang menguatkan saya adalah percaya bahwa Allah akan menyelamatkan kami dengan caraNya.

Dan satu satunya tenaga medis di ruangan itu yang saya suka adalah dokter anestesi. Lembut dan keibuan. Dia tau saya ketakutan, dia tau saya butuh pelukan, dia genggam tangan saya trus bilang “berdoa ya sayang”. Saya kangen mamah..

BERJUANG!

Kepala dan tubuh saya dipisahkan pandangannya dengan kain. Saya cuma bisa menerka nerka apa yang dokter lakukan sambil bertanya tanya, apa tandanya kalau dia sudah lahir. Masih kebingungan di ruang operasi dan pengaruh obat bius yang bekerja di separo badan saya, tiba tiba dokter obgyn menginstruksikan kepada yang lain, “dorong! Dorong!”. Serta merta empat orang personil disekelilingnya menekan perut saya.

Disini perjuangannya.

Rupanya air ketuban yang keluar sejak awal mempengaruhi proses persalinan. Ade bayi mulai sulit keluar karena pelumasnya berkurang. Perut saya ditekan kuat kuat kearah irisan dari berbagai penjuru. Tidak kurang dari 4 orang kiri kanan atas bawah yang mendorong keluar bayi didalam perut saya.

Saat mereka konsentrasi mengeluarkan bayi dalam perut saya, saya hampir kehabisan nafas karena dorongan mereka juga menekan paru paru saya. Terbata bata dan megap megap saya bilang “saya gak bisa nafas, saya gak bisa nafas…”. Dokter anestesi yang keibuan bilang “bertahan ya, sebentar lagi anaknya keluar” (dengan backsound suara personil lain “tuh miring ke kiri”, “yuk dorong satu, dua tiga!!”, “nah nah dikit lagi”, “ibunya jangan ngeden ya!! Atur nafas! “). Dalem hati saya, begini kali rasanya mau mati ya, nafas sengal sengal, tenggorokan tercekat, dan luar biasa haus. Hosh hosh!!

OEK!! OEK!!

Setelah perjuangan berat sampe.nafas mau habis, akhirnya “Naaah.. Anaknya laki bu. Selamat ya…”
Saya liat anak saya dibersihkan, trus dibawa ke deket saya, disuruh cium. Trus mulutnya yang masih nagis oek oek didekatkan ke puting susu saya. Hak pertamanya, menyusu.

Mengenai IMD ini saya khusus request sama dokter. Karena tempatnya sempit, disana sini alat operasi jadi IMD bayi saya gak bisa ditaro di dada ibunya buat nyari puting susu sendiri, tapi didekatkan langsung ke puting biar langsung dia hisap. Cuma sebentar dia hisap, trus bayi saya dibawa pergi untuk dibersihkan dan lain lain di ruangan lain.

Rasanya seperti mimpi. Gak sanggup buat gak mewek…

Dia lahir tanggal 7 September 2011, jam 22.42 wita. Dia pilih caranya sendiri untuk lahir ke dunia. Dan berjuang keras untuk itu.

Selamat datang, Kelana. Mari menjelajah dunia @httsan.

🙂