Next Step, Weaning With Love

Meskipun masih lama, masih beberapa minggu lagi, saya sangat deg deg an menantikan bulan september. Bulan ulang tahun ke-2 nya Kelana. Bulan komitmen menyusui tuntas menjadi 2 tahun. Dan bulan mulai menyapih heuheu…

Kegiatan susu-menyusui ini sangat lah nyaman buat kami berdua, saya dan Kelana. Kenyamanan itu justru menjadikan saya terlalu berat untuk mulai menyapih. Meskipun sejak 14 bulan, Kelana sudah tidak mau minum ASIP simpanan, tapi tidak membuatnya berhenti menyusu pada saya.

Ada yang menyarankan trik trik jadul untuk menyapih. Misalnya, nenennya dikasih betadine, minyak kayu putih, sampe brotowali. Pokoknya dikasih yg serem-serem dan pahit-pahit supaya Kelana gak mau nenen lagi. Heuheu ini kan salah satu bentuk penjajahan juga.. Hari gini masih ngejajah anak sendiri?? Iyuuuh, malu sama Bung Karno kaleee hahaha.

Cara jadul tadi mungkin efektif tapi meninggalkan trauma. Gimana kalau nanti Kelana diberhentikan paksa nenen dengan obat merah misalnya, trus dia cerita ke orang orang kalo nenen umi-nya bedarah, trus anak anak lain jadi gak mau nenen lagi ke ibunya gara gara diceritain Kelana kaya gitu. Hayook gimana.. Ya ini sih andai andainya saya aja, belum tentu kejadian hehe..

Inti sebenarnya karena saya belum siap secara mental menyapih Kelana yang baru (akan) 2 tahun sebentar lagi. Sejauh ini saya baru sosialisasikan dan sugestikan kalimat kalimat seperti ini :”Kelana, kalau udah 2 tahun nenennya udahan ya”. Diakhir kalimat tadi pasti diikuti dengan gelengan kepala Kelana, artinya gak mau ummiiii..!! Heuheu Laah trus piye….

Ya saya sih berharap ga akan sampai berurai air mata lebay yaah. Mudah mudahan beberapa hari kedepan saya akan menemukan our-own weaning with love. Kelana harus tau, walaupun nanti gak nenen lagi, ga ada sedikitpun kadar cinta yang berkurang buat dia. Yang ada, abah dan umi nya makin nambah karena Kelana makin gede makin pinter.

**Sun sayang Umi buat Kelana yang lagi diasuh Abah di rumah :-*

Berkebun di Tembok Beton

Suatu minggu saya datang pada acara ulang tahun WWF di taman Ismail Marjuki. Salah satu booth pamerannya dari teh kotak sangat menarik, karena bukan memamerkan barang dagangannya tapi di booth nya malah seperti hutan. Rupanya teh kotak menggandeng Indonesia berkebun untuk memamerkan tanaman sayur mayur segar. Melihat sayuran dalam pot segar begitu siapa yang tidak tertarik, sayangnya mereka tidak menjual tanaman tanaman tersebut.
Sebelum pengunjung kecewa karena tidak bisa membawa pulang tanaman sayuran, SPG nya menawarkan sebuah paket berkebun yang diberikan gratis setelah kita membeli dagangannya. Dirayu SPG, saya pun tergoda membeli paket minuman berhadiah paket berkebun.

Isi paketnya : benih sayuran, agrobost pupuk, dan sebuah pot kecil. Sampai di rumah paket ini saya taro begitu saja. Belum ada niat menanam benih benih itu. Saya masih percaya pada keyakinan bahwa saya bertangan dingin dengan tanaman. Belum pernah sekalipun tetumbuhan sukses bertahan lama ditangan saya. Itu sebabnya paket berkebun ini dengan mudah saya abaikan. Hingga suatu hari saya kesambet ntah apa, tiba tiba tergugah menanam benih cabe kedalam pot.

Tanpa diduga, benih cabe mulai tumbuh. Saya jadi optimis bisa swasembada cabe hehe..keGRan. Sayangnya optimisme saya tidak bertahan lama. Hama pertama muncul. Tikus, masuk dari lubang yg digalinya di pojok taman, memporak porandakan tanaman cabe yg baru saja saya kagumi kemunculannya beberapa hari.

Saya tidak bisa menghindari tikus masuk ke halaman walaupun sudah menutup lubang-lubang potensial. Yang paling mungkin dilakukan adalah menanam ditempat yang tidak bisa dijangkau tikus. Dari hasil browsing “berkebun, Lahan sempit, kota, hama tikus” seabreg gambar kebun kebun mini diatap apartement, di pagar, bahkan di jendela kamar semua jadi kumpulan feeding untuk saya terapkan di taman.

Saya pilih metode berkebun dengan media tanam tanah untuk percobaan pertama. Pot nya saya pakai dari botol bekas air mineral. Botol 1,5 liter ini dibelah dua, diberi lubang kecil2 dan merata dibagian bawahnya. Supaya aman dari tikus botolnya saya gantung disalah satu sisi tembok taman.

image

Pot gantung dari botol air mineral bekas

Teknis menanamnya : setelah pot botol siap, isi botol dengan tanah yg sudah dicampur dengan kompos setinggi 3/4 botol. Saya beli tanah dan kompos yang siap pakai dari toko trubus. Kemudian ratakan permukaan tanah, buat lubang kecil dengan jempol sedalam kuku, tebar benih yg ingin ditanam, tutup lagi dengan tanah, siram. Selesai. Selanjutnya rawat bayam cukup disiram 2x sehari.

Tembok tempat menggantung pot ini cukup strategis. Pertama, tidak bisa dipanjat tikus. Kedua, tembok ini kena sinar matahari pagi dan teduh saat siang hingga sore. Ketiga, benih bisa langsung ditanam di pot karena tembok ini tidak terkena guyuran hujan secara langsung sehingga bibit bibit tanaman yang masih lemah batangnya tidak rusak kena hujan.

Pada tanam perdana saya pilih tanaman yg mudah dan cukup bandel, yaitu bayam. Dua hari setelah tanam benih, mulai muncul tunas dipermukaan tanah. Percobaan pertama dengan bayam bisa dikatakan cukup sukses. Saya bilang cukup sukses karena dengan pengetahuan seadanya, bahkan diawali dengan tidak yakin tentang berkebun, bayam tumbuh subur. Sebulan kemudian panen raya bayem 🙂

image

Panen Perdana Bayam

Panen raya perdana semakin memotivasi untuk menanam lebih banyak lagi. Menanam tanaman yang bisa dikonsumsi sehari hari. Tanaman produktif seperti sayuran, dedaunan yang sering dipakai memasak, dan bunga bungaan penarik kumbang. Tentunya diimbangi dengan menambah pengetahuan lebih baik tentang berkebun.

Panen raya perdana ini memberikan inspirasi bahwa menanam tidak perlu tangan tangan dingin seorang ahli. Menanam hanya perlu benih, tanah, air, dan matahari. Termasuk inspirasi bahwa kini tembok juga bisa ditanami.
🙂

Mudik Kedua

2013. Dua tahun ini saya ikut meramaikan arus mudik dari ibukota menuju kampung halaman suami.

Kami merencanakan mudik dengan kereta dengan alasan kenyamanan. Hanya saja tak kunjung tergerak membeli tiket kereta sampai 2 minggu sebelum hari H. Akibat terlalu santai,  pilihan tanggal kereta kosong menjelang lebaran pun habis, begitu pula untuk tiket kembalinya. Pilihan kursi kosong hanya terdapat di hari H lebaran dan kembali di hari H mulai masuk kerja. Ya apa boleh buat, bukan pilihan buruk juga. Dengan jadwal yang demikian justru Kami bisa membagi waktu bersilaturahmi dengan tetangga dan saudara saya di Jakarta, sebelum berangkat mudik.

Jakarta-Cirebon dengan kereta, dilanjut Cirebon-Majalengka dengan Mobil carteran alhamdulillah lancar. Pas magrib, tiba di rumah Aki-Nini dengan selamat.

Sejak menikah, Saya punya keluarga baru di Majalengka. Keluarga yang saya sayangi sama seperti keluarga saya sendiri. Bukan keluarga pengganti, namun keluarga baru ini melengkapi. Perasaan rindu dengan kedua orang tua saya cukup terobati dengan mudik ke sini. Ada orang tua suami, alhamdulillah lengkap dengan adik kakak dan keponakan.

Idul fitri ini menjadi pengalaman baru lagi buat Kelana. Tahun lalu dia ikut mudik, umurnya hampir 1, kali ini umurnya hampir 2. Tambah luas ruang jelajahnya dan tambah banyak sudut eksplorasinya.

image

Kegiatan mudik Kelana : 1. Ngobok2 Kolam ikan Aki, 2 . Ngasih makan ikan dan kura-kura, 3. Ikutan nguras kolam ikan sama Aki

Mudik ini dinikmati semua. Kelana senang dengan teman dan kegiatan barunya di rumah Aki-Nini. Saya dan suami punya cukup waktu bersantai, dan meskipun singkat, tapi mudik ini cukuplah mengobati segala rindu Aki-Nini pada anak cucunya.

Selamat Idul Fitri, maaf lahir batin. Selamat kembali bekerja.
Libur panjang, kutunggu kau datang lagi!

Taman Formalitas

Rumah mungil Kami dibangun dg konsep minimalis, seminimal budgetnya hehe.. Dibelakang rumah disisakan sedikit taman sebagai formalitas. Rupanya, taman formal malah ini menjadi pusat energi keluarga. Wangi rumput yang basah setelah hujan, batu alam yg disusun sedemikian bentuknya menjadi pijakan refleksi kaki, dan gemricik air mancur sangat menenangkan. Ini ruangan favorit saya.

Selamat datang di taman Kami..

image

Ngomong Dong Kelana

Klik untuk mengetahui sumber gambar

Anak saya, Kelana, bulan ini menginjak 22 bulan 2 minggu. Tapi belum ada satu kata pun yang terucap dengan jelas. Terbaru adalah kata “au” dengan anggukan berarti mau dan “aau” yang disertai geleng berarti tidak mau. Selebihnya adalah wawa, baba, awah, dan a lainnya untuk semua hal yang dia tunjuk ditambah gerakkan tubuh lainnya untuk memperjelas maksudnya.

Kelana sudah bisa memanggil Abahnya, walaupun dengan “b” yang tersamar dengan “w”. Kadang terdengar “Awah”, tapi cukup dimengerti maksudnya. Kalau beruntung, Kelana bisa menyebut “Abah” dengan benar dan kami beri tepuk tangan meriah karena dia berhasil hehe.. Continue reading

Suatu pagi, teladan yang baik

Suatu pagi saya sedang bersiap ke kantor. Saat itu ada anak tetangga main ke rumah, mau main sama Kelana katanya, saya silakan saja. Sambil berhias saya perhatikan mereka berdua dari pantulan cermin. Kelana merampas mainan yang dipegang temannya, bukan tindakan yang patut. Kejadian berikutnya adalah anak tetangga itu dilempar mainan karena Kelana kesal semua maiannya dipegang. Tiga kali kejadian rampas merampas dan sekali lemparan mainan, akhirnya saya turun tangan.
Saya membukuk, berusaha berada dilevel ketinggian yang sama dengan Kelana untuk memberitahunya bahwa perbuatannya tadi bukan perbuatan baik. Saya yakin dia paham kode telunjuk “stop” dan “dont do that” yang saya tunjukkan. Ditegur begitu, Kelana dengan wajah isengnya bukan berhenti malah melempar maiannya lagi. Saya ulangi kode telunjuknya, kali ini dia pura pura nangis. Sebenarnya saya gak tahan liat wajahnya saat pura pura nangis, lucu, tapi rampas dan lempar mainan bukan hal baik untuk diteruskan. Hal yang terjadi berikutnya adalah saya masuk dalam permaianan mereka, berusaha terlibat, dengan maksud memberikan teladan baik.

Lebih mudah untuk menegur dengan kata kata tapi tidak efektif untuk anak seusia Kelana. Saya sering meyakinkan diri bahwa Kelana mengerti maksud ucapan saya yang selalu saya lengkapi dengan bahasa tubuh. Tapi prakteknya, intonasi, kata kata, dan kode kode larangan tidak selamanya dituruti. Dan anak ini punya “senjata” pura pura nangis dan merasa bersalah dengan menutup wajahnya untuk menyelamatkan diri. Lucu yang gak lucu.

Kalau ada kategori, maka saya termasuk orang tua yang tidak lebay dengan larang ini itu. Ketegori lainnya adalah, saya ibu bekerja. Kelana saya percayakan pada si mbak yang dari silsilah kami masih sodara. Seharian ditinggal dengan si mbak, main dengan tetangga pastilah banyak hal terjadi. Saya tidak bisa mengharapkan kesempurnaan dari setiap perbuatan Kelana. Dia banyak melihat orang disekelilingnya yang berupa rupa perbuatannya. Pastilah sedikit banyak dicontohnya. Tugas saya dan suami dirumah adalah mencontohkan hal baik ratusan, bahkan ribuan kali untuk Kelana tiru dan dibawa dalam permainannya sehari hari.

Semoga kejadian pagi itu tidak terulang lagi.

—–
Selamat hari pendidikan nasional. Sebaik baik teladan manusia adalah teladan dari Rasullullah SAW.