Taman Formalitas

Rumah mungil Kami dibangun dg konsep minimalis, seminimal budgetnya hehe.. Dibelakang rumah disisakan sedikit taman sebagai formalitas. Rupanya, taman formal malah ini menjadi pusat energi keluarga. Wangi rumput yang basah setelah hujan, batu alam yg disusun sedemikian bentuknya menjadi pijakan refleksi kaki, dan gemricik air mancur sangat menenangkan. Ini ruangan favorit saya.

Selamat datang di taman Kami..

image

Advertisements

Model Dinamika Spasial versus Model Spasial Dinamis

Mari kita telaah,

TATA KATA
saat membaca “model spasial dinamis” maka yang terlintas adalah sebuah gambaran analisis yang dimodelkan dengan data spasial berdasarkan variabel tertentu, yang mana bila variabelnya diubah akan mengakibatkan perubahan terhadap model spasialnya.
Kemudian, ada juga istilah “model dinamika spasial” yang terbayang adalah ada sebuah variabel yang diindikasi menyebabkan sesuatu, kemudian dihitung dengan algoritma tertentu, sebagian hasilnya ditampilkan kedalam rupa spasial dan sebagian lain berupa analisis-analisis kualitatif hasil kolaborasi variabel yang disertakan. Continue reading

Lukisan Khombouw, Oleh-Oleh dari Teman Lama

Resiko orang tua yang kerjanya mengabdi pada negara adalah bersedia ditempatkan diseluruh wilayah republik ini, sampai membawa aku dan keluargaku ke wilayah timur indonesia, Papua. Dulu orang menyebutnya Irian, bahkan sampai sekarang di keluargaku masih fasih menyebut pulau kepala burung itu dengan sebutan Irian 🙂

Sepanjang sekolah dasar kuhabiskan di Ibukota Papua, Jayapura. Setelah itu pindah ke Kalimantan. Sampai sekarang masih ada teman-teman sekolah dasarku yang tinggal di papua. Bertahun-tahun lost contact dari teman-teman sekolah dasar, tapi berkat friendster dan facebook kami saling menemukan satu sama lain. Jejaring semakin luas, semakin hari semakin bertambah temu teman SDku.

Sapa basa basi  sering terjadi. Hingga beberapa waktu lalu ada seorang teman yang menawarkan sebuah lukisan dari kulit kayu padaku. Oleh-oleh dari teman lama, katanya. Meskipun tak tau seperti apa bentuknya benda yang dimaksud, tapi ku iya-kan saja, tanda setuju. Eh tak tahunya paket kiriman dari papua itu bukan basa basi, dia sampai di rumah.

Ternyata begini bentuknya lukisan dari kulit kayu yang dimaksud. Cantik sekali.

Lukisan Khombouw

Lukisan Khombouw

Continue reading

K4mu5 tul1s4n 4l4y

Pernah ga nerima sms atau komen di blog/fb atau dimana aja yang tulisannya gede kecil trus ada kombinasi angka segala. Itu pasti kerjaannya kaum alay yang suka iseng nulis dengan huruf-huruf kombinasi besar kecil, angka, singkatan dan sebagainya yang ga umum dan bikin bingung. Misalnya begini :

“Halo apa kabar ?” kalao kaum alay yang nulis bisa jadi begini : “hl ap kBr ?” atau begini “h4L 4p kbr ?”

Lucu kan? Aneh juga kan? Repot kan?

Ternyata ada kamus konversi dari tulisan normal ke tulisan kaum alay.

Ini nih klik disini, coba aja sendiri “5kL1 kal jaD km 4ly ah.. bngn6, Rp0t, dn nybln”

Artinya : sekali kali jadi kaum alay ah.. bingung, repot, dan nyebelin

😀

Pembasmian Kutu Beras Tanpa Ampun

Sudah agak lama (sekitar awal februari) aku membeli beli beras untuk makan sehari-hari. Tapi karena belakangan lebih sering makan di luar, jadi aku hampir lupa kalau punya beras. Pas udah berasa duit mulai mepet, barulah ingat.

Bungkus beras kubuka, dan eh eh ada banyak benda hitam bergerilya di antara butir beras. OMG! Kutu! Lagi-lagi ketemu kutu. Beras yang sekarang menjadi gantungan hidupku digerogoti kutu!. Tak terima lah aku. Kulakukan apapun untuk mendapatkan beras itu kembali dari jajahan kutu. Jadilah kemarin kuhabiskan soreku untuk membasmi kutu yang tanpa sepengetahuanku bersemayam di dalam beras.

Aih.. banyak sekali..

Pembasmian kutu pun dimulai. Plok! Plok! Plok! tanpa ampun kutu yang keluar dari bungkus beras kutabok pake sendal jepit. Untuk memudahkan pembasmian, beras kutabur diatas koran. Tiap kutu yang keluar melewati koran, pasti tidak menyangka kalau umurnya hanya sampai saat itu. Dengan satu kali tabokan “Plok!” maka tamatlah riwayat si kutu.

Mungkin ada 1 – 2 kutu yang luput dari penglihatanku lolos dari tabokan maut. Pasti si kutu sekarang sedang menikmati hari-hari kebebasannya dan meratapi kepergian teman-temannya yang begitu cepat dengan cara biadab!. Mungkinkah si kutu sekarang sedang merencanakan aksi balas dendam ? wkwkwk… Maka, mulai hari ini aku akan selalu waspada terhadap benda hitam kecil dan bergerak bernama Kutu!.

Hati-hati ada Kutu!

Saat Banjir Benanga Samarinda

Melihat, mendengar, dan membaca : tanggul Situ Gintung jebol, menyisakan duka mendalam untuk kita semua. Tanggul situ jebol kabarnya karena usia tanggul yang memang sudah renta dan kurang perawatan, mungkin. Jika boleh kusamakan kejadian jebol tanggul situ/waduk pernah terjadi pada Bendungan Benanga di Samarinda tahun 1998. Hanya saja air tidak mengamuk keluar seperti tsunami kecil yang terjadi di Gintung namun tetap saja banjir memakan korban. Saat bencana itu terjadi, empat warga tewas dan ribuan orang diungsikan. Tercatat 30% dari 718 kilometer persegi luas Kota Samarinda kebanjiran akibat luberan air Karang Mumus dan jebolnya tanggul Waduk Benanga di kawasan utara kota.

Samarinda, banjir

Samarinda, banjir

Sedikit cerita pribadi tentang ini. Bendungan Benanga berada di hulu Karang Mumus. Bendungan jebol sekitar bulan juli-agustus 1998, saat tahun pertama keluargaku di Samarinda. Ketika Bendungan Benanga jebol, kami masih tinggal di rumah kontrakan yang berada kira-kira 500 meter di tepi Sungai Mahakam. Syukurnya, banjir tidak sampai di rumahku.

Banyak teman-teman sekolahku yang terpaksa bolos sekolah karena rumahnya kebanjiran. Atau banyak lagi yang rumahnya tidak kebanjiran tapi terpaksa tidak berangkat sekolah karena jalan menuju sekolah rata dengan air setinggi 1-1,5 meter bahkan ada yang sampai 2 meter.

Jarang ada angkutan umum yang beroperasi menuju sekolahku, sehingga kelaupun sangat ingin/harus berangkat sekolah maka diperlukan semangat tinggi. Harus menumpang perahu untuk menyebrangi jalanan ber-air. Setelah perahu melewati jalanan ber-air, sepatu harus tetap ditenteng agar tidak kuyup karena harus berjalan kaki ke sekolah dengan becek dimana-mana. Beberapa orang teman berangkat sekolah hanya beberkal buku tulis baru dan tidak berseragam karena perlengkapan sekolah hanyut terbawa air. Continue reading

Shakehand nongol di Kabare

Shakehand @ KabareJogja

Shakehand @ KabareJogja

Tadi sore, sembari menunggu temanku menyelesaikan urusannya, kuambil majalah Kabare Jogja yang tergeletak di meja lobi sebuah hotel di Jogja. Edisi yang kuambil berjudul besar Melacak Jejak Sang Perantau. Kubuka-buka halamannya lembar demi lembar, dan alangkah terkejutnya ketika kutemukan sebuah foto yang sangat kukenal. Foto itu kuambil tanggal 14 September 2008 saat akan melakukan perjalanan ke Jakarta dengan kereta dari Stasiun Tugu Jogja.

Foto yang kuberi judul Shakehand nongol di artikel utama berjudul sama persis dengan tema Bulan itu, Melacak Jejak Sang Perantau, bersama beberapa foto dokumentasi lain. Wah hebat, kataku.. Padahal ga bagus-bagus amat (imho)

Tapi.. Ko aku ga tau ya ?

Sayang waktuku tak banyak. Jadi tak kubaca seluruh tulisannya. Dari bahasa judul dan beberapa foto yang ada disana (termasuk foto jepretanku) jelas  bahwa artikel itu kira-kira berbicara tentang Jogja sebagai kota tujuan pelancong. Memang luar biasa daya tarik Jogja. Buat belajar suasananya masih kondusif apalagi untuk jalan-jalan. Ah nanti saja kalau ada waktu akan kubeli edisi itu. Continue reading