Pacitan, The Background

Sore ini kegiatan saya beda dengan hari hari biasanya. Saya membaur dengan riak ombak pantai Teleng Ria, Pacitan yang riang. Saya ditemani Yaya dan beberapa teman life guard berenang melewati bibir pecah ombak, menikmati naik turun gelombang laut, dan sesekali tertampar gelombang yang keburu pecah. Pemandangan indah bebukitan disekeliling seperti pagar yang membatasi pantai dari Samudera Hindia. Meskipun matahari mulai menghilang dibalik bukit, namun tak satupun keindahan terenggut. Semua sempurna, menghapus lelah saya yang menghabiskan waktu 3 jam berkendara dari Yogyakarta.

Kemanjuan wisata selancarnya tidak serta memajukan sumber daya manusianya. Sebagian penduduk mulai menjual tanahnya kepada investor asing yang tertarik dengan bisnis cottage/hotel/penginapan yang sedang menjamur di deretan pantai Pacitan. Sekarang ini sejumlah penduduk yang menjual tanahnya mulai menyesal karena telah menyerahkan “rumah” mereka dibangun oleh orang asing. Supir travel yang membawa saya datang ke Pacitan dengan jujur mengatakan bahwa Ia tidak bisa berbahasa Inggris padahal sebagian besar tamu yang diantarkannya datang dari luar Indonesia. Beberapa remaja senang nongkrong di pantai bercengkrama dengan kawannya dan mengeluarkan kata-kata yang kasar. Ouch!

Mungkin, anak-anak jalanan di kota besar sudah banyak yang urus, katakanlah demikian. Tapi anak-anak pinggir kali, anak-anak pinggir pantai di desa, mereka (yang tidak gigih) akan sulit mendapat akses ilmu dan kesempatan. Mana ada orang tau kalau tidak betul-betul datang ke lokasi. Kita lihat nanti, apa yang bisa kita lakukan di sini bersama Project Child Indonesia.

Good morning from Pantai Teleng Ria, Pacitan
Have a nice day everybody 😉

Harry`s Hotel, 2 februari 2014
Advertisements

Self Healing : Hidup Sehat dan Bahagia

Hidup di kota besar tidak sehat seperti Jakarta memang sangat sangat menantang tubuh kita beradaptasi semaksimal mungkin dengan bakteri virus dan penyakit yang ajaibnya suka tiba tiba datang. Kalau tidak pintar-pintar merawat diri bisa-bisa dilahap penyakit.

Penyakit kan awalnya datang karena daya tahan tubuh menurun, daya tahan tubuh menurut saya sangat tergantung pada asupan yang masuk ke tubuh. Dalam hal asupan makan, selama ini saya merasa cukup bisa menjaga. Well, memang tidak sehat sehat amat tapi saya jaga otak saya tetap waras saat memutuskan mau makan apa. Saya juga berolah tubuh, biasanya saya lari sore. Tapi menjaga makan dan olah raga aja tidak cukup. Ada batin yang stres karena tekanan pekerjaan, ada pikiran yang lelah karena macetnya jalanan pulang Kantor, yang jika tidak diolah akan menjadi racun buat tubuh. Untuk itu saya merasa perlu tau bagaimana cara menjaga tubuh agar tetap seimbang, tetap tegak berdiri kala racun bernama stres mulai menggelayuti pikiran, sehingga tidak kebablasan migraine atau flu.

Tepat sebulan lalu saya ikut kelas self healing Reza Gunawan di klinik True Nature. Infonya saya dapat dari opini kawan di twitter, lebih detil kunjungi blog rezagunawan.com. Saat itu instrukturnya Mbak Diwien. Mbak Diwien adalah salah satu terapis pengobatan holistik (kalau tidak salah begitu istilahnya) yang saat ini berpraktek di Klinik True Nature. Kelas self healing dikondisikan tenang, adem, dan tercium aroma lembut di ruangan. Peserta hanya terdiri dari 6 orang. Salah satu pesertanya berasal dari Kalimantan Selatan. Luar biasa ya, kesehatan mahal harganya. Ketika ditanya alasan ikut kelas self healing dia bilang, sudah frustasi dengan obat-obatan dari dokter tapi penyakitnya datang lagi datang lagi.

Saya percaya, ada bagian dari tubuh kita yang tidak tersentuh obat obatan kimia, sehingga penyakit tidak mau pergi atau mudah menyerang. Saya mulai percaya bahwa tubuh punya mekanisme menyembuhkan diri dari penyakit. Saya belum sampai pada tahap anti obat, tapi sejak hamil 2,5 tahun lalu, saya biasakan untuk tidak mudah mengkonsumsi obat untuk kebaikan janin dan tentu tubuh saya sendiri. Hasilnya apa, selama hamil 39 minggu saya tidak menderita keluhan batuk pilek sakit kepala dan lain sebagainya. Saya pikir malah selama hamil itu adalah performa terbaik tubuh saya. Berdasarkan pengalaman itu, saya teruskan untuk menjauh dari obat-obatan.  Continue reading

Papercraft, Hobi Rumahan

Berawal dari jalan-jalanku ke sunmor (sunday-morning) di Jogja, ada lapak yang menjual pola-pola papercraft, aku mulai menikmati membuat replika bentuk-bentuk dari kertas. Pertama kali mencoba aku memulainya dengan pola yang kuanggap mudah, kupilih replika Monas-Jakarta dan Windmill-Belanda.

Proyek pembangunan bernilai ribuan rupiah ini hanya menggunakan alat dan bahan yang sangat sederhana, kecuali bagian ngeprint pola-nya yang memang membutuhkan printer warna dengan kualitas baik. Printer yang biasa kugunakan untuk mencetak pola biasanya HP D1560 atau Canon seri MP250. Kedua printer ini mode cetak draft hasilnya masih dalam kualitas cukup baik.

Kertas yang digunakan ngeprint harus dilihat pola replika-nya besar atau kecil. Kalau ukuran replika akan besar atau sedang aku menggunakan kertas cover putih. Sementara, untuk pola replika kecil dan mini ku coba dengan pertas ink-jet 100. Kalau pola replika didapat gratis dari internet, bentuk dan besarnya replika yang akan dihasilkan sudah ada dibagian instruksinya. Continue reading

Ultah Rogads kedua – Khitanan Massal

Rogads di-khitan

Rogads di-khitan

“Berbagi tak pernah rugi” tampaknya sudah menjadi slogan kawanan Rogads. Mendengar sepenggal kisah tentang berdirinya Rogads dari senior-seniornya sedari awal berdiri kegiatan komunitas ini tak hanya berselancar dengan sepeda di jalan jakarta raya tapi juga berkelana menggalang dana untuk berbagi dengan sesama.

Ditahun ke-2-nya Rogads kembali mengadakan kegiatan sosial. Alhamdulillah kali ini dengan dana “seadanya” Rogads bekerja sama dengan berbagai pihak dapat melaksanakan Khitanan Massal di Kampus Stekpi Minggu 4 Juli 2009 lalu.

Berikut penggalan “Ucapan Terima Kasih” ketupat (ketua panitia) – Tante Ijul, atas keberhasilan acara Khitanan Massal :

Alhamdulillaaahirobbil’aalamiin… khitanan massal dalam rangka bakti sosial ulang tahun RoGad telah berlangsung hari Sabtu kemarin di STEKPI dengan lancar, tepat waktu dan sesuai rencana dan harapan kita semua. Ini semua berkat dukungan kawan-kawan semua dalam segala bentuknya. Klise, tapi memang benar. Tanpa niat baik yang tulus, doa, dukungan moril dan materil, sumbangan pemikiran, uang, tenaga dan waktu, kerja keras, komitmen, dedikasi, pengorbanan, kebersamaan, tenggang rasa, kesetiakawanan, rasa saling memiliki, dan keikhlasan dari kawan-kawan semua, dan izin-Nya, tentunya khitanan massal ini tidak akan pernah terwujud…..

(selengkapnya di weblog Rogads) Continue reading

Rogads ke Warteg

rogads @ Waroeng Cici Tegal

rogads @ Waroeng Cici Tegal

Belum lama bergabung dengan rombongan pekerja sepeda sudah banyak agenda acara menanti. Hari minggu kemarin salah satunya. Rogad (Rombongan Gado-gado) diundang ke acara pembukaan warung makannya Cici Tegal, namanya warungnya : Waroeng Cici Tegal. Lewat om Miko yang kenal dengan mbak Cici atau sebut saja om Miko yang ‘meracuni’ mbak cici untuk bersepeda, akhirnya mbak cici mengundang Rogad untuk hadir saat pembukaan warung barunya. Continue reading