Menyapih dengan Cinta, Bukan dengan Obat Merah

Sebagaimana cerita sebelumnya, sebulan sebelum Kelana 2 tahun saya baru mulai menguatkan hati untuk berenti menyusui. Sekarang mengingat Kelana bulan ini menginjak 2 lebih saya putuskan untuk mulai menyapih. Dengan demikian, saya siap untuk gak uwel uwelan nenenin Kelana, tapi mengganti nenen dengan aktivitas lain yang sama berkualitasnya dengan menyusui. Strategi sudah disusun, tinggal eksekusi. Yang jelas gak bakalan tiba-tiba berenti nyusui begitu aja. Ibarat orang pacaran, kalau diputusin sepihak kan sakit banget ya, apalagi pacarannya udah bertahun tahun heuheu *hapasih.

Strategi menyapih yang pertama kali saya eksekusi adalah membangun komunikasi dengan Kelana. Pada awal proses menyapih saya hanya menyampaikan kepada Kelana fakta yang ada, bahwa Kelana sekarang usianya 2, udah gede, seharusnya udah berenti nenen. Dengan membangun komunikasi yang baik seperti ini saya mengharapkan pengertian dari Kelana bahwa dia akan segera berhenti nenen. Setelah berkali kali saya sampaikan hal ini pada Kelana, respon yang Kelana berikan bukan positif menjauh dari nenen malah semakin posesif dan agresif. Continue reading

Advertisements

Self Healing : Hidup Sehat dan Bahagia

Hidup di kota besar tidak sehat seperti Jakarta memang sangat sangat menantang tubuh kita beradaptasi semaksimal mungkin dengan bakteri virus dan penyakit yang ajaibnya suka tiba tiba datang. Kalau tidak pintar-pintar merawat diri bisa-bisa dilahap penyakit.

Penyakit kan awalnya datang karena daya tahan tubuh menurun, daya tahan tubuh menurut saya sangat tergantung pada asupan yang masuk ke tubuh. Dalam hal asupan makan, selama ini saya merasa cukup bisa menjaga. Well, memang tidak sehat sehat amat tapi saya jaga otak saya tetap waras saat memutuskan mau makan apa. Saya juga berolah tubuh, biasanya saya lari sore. Tapi menjaga makan dan olah raga aja tidak cukup. Ada batin yang stres karena tekanan pekerjaan, ada pikiran yang lelah karena macetnya jalanan pulang Kantor, yang jika tidak diolah akan menjadi racun buat tubuh. Untuk itu saya merasa perlu tau bagaimana cara menjaga tubuh agar tetap seimbang, tetap tegak berdiri kala racun bernama stres mulai menggelayuti pikiran, sehingga tidak kebablasan migraine atau flu.

Tepat sebulan lalu saya ikut kelas self healing Reza Gunawan di klinik True Nature. Infonya saya dapat dari opini kawan di twitter, lebih detil kunjungi blog rezagunawan.com. Saat itu instrukturnya Mbak Diwien. Mbak Diwien adalah salah satu terapis pengobatan holistik (kalau tidak salah begitu istilahnya) yang saat ini berpraktek di Klinik True Nature. Kelas self healing dikondisikan tenang, adem, dan tercium aroma lembut di ruangan. Peserta hanya terdiri dari 6 orang. Salah satu pesertanya berasal dari Kalimantan Selatan. Luar biasa ya, kesehatan mahal harganya. Ketika ditanya alasan ikut kelas self healing dia bilang, sudah frustasi dengan obat-obatan dari dokter tapi penyakitnya datang lagi datang lagi.

Saya percaya, ada bagian dari tubuh kita yang tidak tersentuh obat obatan kimia, sehingga penyakit tidak mau pergi atau mudah menyerang. Saya mulai percaya bahwa tubuh punya mekanisme menyembuhkan diri dari penyakit. Saya belum sampai pada tahap anti obat, tapi sejak hamil 2,5 tahun lalu, saya biasakan untuk tidak mudah mengkonsumsi obat untuk kebaikan janin dan tentu tubuh saya sendiri. Hasilnya apa, selama hamil 39 minggu saya tidak menderita keluhan batuk pilek sakit kepala dan lain sebagainya. Saya pikir malah selama hamil itu adalah performa terbaik tubuh saya. Berdasarkan pengalaman itu, saya teruskan untuk menjauh dari obat-obatan.  Continue reading