Memaknai Kelana

Kelana adalah nama yang kami berikan untuk anak pertama kami. Arti namanya tak perlu diragukan lagi, jelas dengan gamblang Kami, orang tuanya, ingin Kelana berkelana. Melangkahkan kaki jauh menyeberangi samudera, berkelana sampai ujung negeri China.

Kami ingin Kelana menjadi manusia yang tidak ragu meninggalkan rumah untuk belajar hal-hal baru dari luar dunia sana.

Kami ingin Kelana memaknai setiap langkahnya untuk memperluas wawasan dan memperdalam keimanan kepada-Nya. Berkelana dengan mata dan hati untuk menerima hal baru kemudian merefleksikannya untuk memperkuat keimanannya.

Kami ingin Kelana menjadi pemimpin untuk dirinya melangkah, menyuburkan silaturahmi, menyebar benih ilmu pengetahuan yang dia miliki, menyianginya dengan kasih sayang dan semangat toleransi antar umat beragama seperti yabg diajarkan Rasullullah.

Seperti kata Ali bin Abi Thalib ra.
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudera tempat banyak ciptaan-Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nakhoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan”.

Cukuplah Al Quran dan hadist jadi pedoman, jangan lupa selalu bawa kompas dan peta, GPS bila perlu. Tapi umi sih yakin jaman kamu mulai berpetualang nanti mungkin GPS, peta, dan kompasmu sudah dalam bentuk hologram yang disimpan dalam kapsul di jam tanganmu ­čÖé 

Oya, jangan lupa selalu buat catatan harian, email-kan ke umi dan abah ya!

Salam sayang,

Abah&Umi

Menyapih dengan Cinta, Bukan dengan Obat Merah

Sebagaimana cerita sebelumnya, sebulan sebelum Kelana 2 tahun saya baru mulai menguatkan hati untuk berenti menyusui. Sekarang mengingat Kelana bulan ini menginjak 2 lebih saya putuskan untuk mulai menyapih. Dengan demikian, saya siap untuk gak uwel uwelan nenenin Kelana, tapi mengganti nenen dengan aktivitas lain yang sama berkualitasnya dengan menyusui. Strategi sudah disusun, tinggal eksekusi. Yang jelas gak bakalan tiba-tiba berenti nyusui begitu aja. Ibarat orang pacaran, kalau diputusin sepihak kan sakit banget ya, apalagi pacarannya udah bertahun tahun heuheu *hapasih.

Strategi menyapih yang pertama kali saya eksekusi adalah membangun komunikasi dengan Kelana. Pada awal proses menyapih saya hanya menyampaikan kepada Kelana fakta yang ada, bahwa Kelana sekarang usianya 2, udah gede, seharusnya udah berenti nenen. Dengan membangun komunikasi yang baik seperti ini saya mengharapkan pengertian dari Kelana bahwa dia akan segera berhenti nenen. Setelah berkali kali saya sampaikan hal ini pada Kelana, respon yang Kelana berikan bukan positif menjauh dari nenen malah semakin posesif dan agresif. Continue reading

Ayah Hebat

“Attachment tidak bisa dinikmati hari ini, dia (attachment.red) harus dibangun sekarang tapi dinikmati nanti, belasan tahun lagi”, kata┬ádr.tiwi┬ádalam parenting class Ayah Hebat bulan Juli lalu.

Dr. Tiwi adalah dokter anak yang sehari – hari berpraktek di RS. Bunda Menteng, Jakarta. Bukan kebetulan saya pilih dr. Tiwi jadi dokter Kelana, anak saya. Atas rekomendasi dari @ID_AyahASI, kebetulan RS tempat praktek beliau tidak jauh dari rumah, dan ternyata asuransi kesehatan Kelana bisa diterima di RS. Bunda maka berjodohlah kami ­čÖé

Kelas parenting ini agak beda karena sebagian yang datang berwajah sangar, tegas, dan berjenggot alias bapak-bapak. Mengangkat judul Ayah Hebat, seminar yang digagas dr. Tiwi ini cukup sukses mengundang para ayah kecebur ikut seminar. Saya yakin menyeret para ayah ikut seminar parenting pasti sama sulitnya dengan meminta ayah menceboki anaknya. Tapi saya yakin pula setelah kelas parenting “Ayah Hebat” ini bapak-bapak brewokan, sangar, dan kekar ini akan dengan sukarela membersihkan pup anaknya, bermain dengan anak jadi lebih penting daripada bermain gadgetnya, dan bahkan ke bengkel pun mengajak serta anaknya demi menyandang predikat Ayah Hebat. Continue reading

Next Step, Weaning With Love

Meskipun masih lama, masih beberapa minggu lagi, saya sangat deg deg an menantikan bulan september. Bulan ulang tahun ke-2 nya Kelana. Bulan komitmen menyusui tuntas menjadi 2 tahun. Dan bulan mulai menyapih heuheu…

Kegiatan susu-menyusui ini sangat lah nyaman buat kami berdua, saya dan Kelana. Kenyamanan itu justru menjadikan saya terlalu berat untuk mulai menyapih. Meskipun sejak 14 bulan, Kelana sudah tidak mau minum ASIP simpanan, tapi tidak membuatnya berhenti menyusu pada saya.

Ada yang menyarankan trik trik jadul untuk menyapih. Misalnya, nenennya dikasih betadine, minyak kayu putih, sampe brotowali. Pokoknya dikasih yg serem-serem dan pahit-pahit supaya Kelana gak mau nenen lagi. Heuheu ini kan salah satu bentuk penjajahan juga.. Hari gini masih ngejajah anak sendiri?? Iyuuuh, malu sama Bung Karno kaleee hahaha.

Cara jadul tadi mungkin efektif tapi meninggalkan trauma. Gimana kalau nanti Kelana diberhentikan paksa nenen dengan obat merah misalnya, trus dia cerita ke orang orang kalo nenen umi-nya bedarah, trus anak anak lain jadi gak mau nenen lagi ke ibunya gara gara diceritain Kelana kaya gitu. Hayook gimana.. Ya ini sih andai andainya saya aja, belum tentu kejadian hehe..

Inti sebenarnya karena saya belum siap secara mental menyapih Kelana yang baru (akan) 2 tahun sebentar lagi. Sejauh ini saya baru sosialisasikan dan sugestikan kalimat kalimat seperti ini :”Kelana, kalau udah 2 tahun nenennya udahan ya”. Diakhir kalimat tadi pasti diikuti dengan gelengan kepala Kelana, artinya gak mau ummiiii..!! Heuheu Laah trus piye….

Ya saya sih berharap ga akan sampai berurai air mata lebay yaah. Mudah mudahan beberapa hari kedepan saya akan menemukan our-own weaning with love. Kelana harus tau, walaupun nanti gak nenen lagi, ga ada sedikitpun kadar cinta yang berkurang buat dia. Yang ada, abah dan umi nya makin nambah karena Kelana makin gede makin pinter.

**Sun sayang Umi buat Kelana yang lagi diasuh Abah di rumah :-*

Mudik Kedua

2013. Dua tahun ini saya ikut meramaikan arus mudik dari ibukota menuju kampung halaman suami.

Kami merencanakan mudik dengan kereta dengan alasan kenyamanan. Hanya saja tak kunjung tergerak membeli tiket kereta sampai 2 minggu sebelum hari H. Akibat terlalu santai,  pilihan tanggal kereta kosong menjelang lebaran pun habis, begitu pula untuk tiket kembalinya. Pilihan kursi kosong hanya terdapat di hari H lebaran dan kembali di hari H mulai masuk kerja. Ya apa boleh buat, bukan pilihan buruk juga. Dengan jadwal yang demikian justru Kami bisa membagi waktu bersilaturahmi dengan tetangga dan saudara saya di Jakarta, sebelum berangkat mudik.

Jakarta-Cirebon dengan kereta, dilanjut Cirebon-Majalengka dengan Mobil carteran alhamdulillah lancar. Pas magrib, tiba di rumah Aki-Nini dengan selamat.

Sejak menikah, Saya punya keluarga baru di Majalengka. Keluarga yang saya sayangi sama seperti keluarga saya sendiri. Bukan keluarga pengganti, namun keluarga baru ini melengkapi. Perasaan rindu dengan kedua orang tua saya cukup terobati dengan mudik ke sini. Ada orang tua suami, alhamdulillah lengkap dengan adik kakak dan keponakan.

Idul fitri ini menjadi pengalaman baru lagi buat Kelana. Tahun lalu dia ikut mudik, umurnya hampir 1, kali ini umurnya hampir 2. Tambah luas ruang jelajahnya dan tambah banyak sudut eksplorasinya.

image

Kegiatan mudik Kelana : 1. Ngobok2 Kolam ikan Aki, 2 . Ngasih makan ikan dan kura-kura, 3. Ikutan nguras kolam ikan sama Aki

Mudik ini dinikmati semua. Kelana senang dengan teman dan kegiatan barunya di rumah Aki-Nini. Saya dan suami punya cukup waktu bersantai, dan meskipun singkat, tapi mudik ini cukuplah mengobati segala rindu Aki-Nini pada anak cucunya.

Selamat Idul Fitri, maaf lahir batin. Selamat kembali bekerja.
Libur panjang, kutunggu kau datang lagi!

Ngomong Dong Kelana

Klik untuk mengetahui sumber gambar

Anak saya, Kelana, bulan ini menginjak 22 bulan 2 minggu. Tapi belum ada satu kata pun yang terucap dengan jelas. Terbaru adalah kata “au” dengan anggukan berarti mau dan “aau” yang disertai geleng berarti tidak mau. Selebihnya adalah wawa, baba, awah, dan a lainnya untuk semua hal yang dia tunjuk ditambah gerakkan tubuh lainnya untuk memperjelas maksudnya.

Kelana sudah bisa memanggil Abahnya, walaupun dengan “b” yang tersamar dengan “w”. Kadang terdengar “Awah”, tapi cukup dimengerti maksudnya. Kalau beruntung, Kelana bisa menyebut “Abah” dengan benar dan kami beri tepuk tangan meriah karena dia berhasil hehe.. Continue reading