Menyapih dengan Cinta, Bukan dengan Obat Merah

Sebagaimana cerita sebelumnya, sebulan sebelum Kelana 2 tahun saya baru mulai menguatkan hati untuk berenti menyusui. Sekarang mengingat Kelana bulan ini menginjak 2 lebih saya putuskan untuk mulai menyapih. Dengan demikian, saya siap untuk gak uwel uwelan nenenin Kelana, tapi mengganti nenen dengan aktivitas lain yang sama berkualitasnya dengan menyusui. Strategi sudah disusun, tinggal eksekusi. Yang jelas gak bakalan tiba-tiba berenti nyusui begitu aja. Ibarat orang pacaran, kalau diputusin sepihak kan sakit banget ya, apalagi pacarannya udah bertahun tahun heuheu *hapasih.

Strategi menyapih yang pertama kali saya eksekusi adalah membangun komunikasi dengan Kelana. Pada awal proses menyapih saya hanya menyampaikan kepada Kelana fakta yang ada, bahwa Kelana sekarang usianya 2, udah gede, seharusnya udah berenti nenen. Dengan membangun komunikasi yang baik seperti ini saya mengharapkan pengertian dari Kelana bahwa dia akan segera berhenti nenen. Setelah berkali kali saya sampaikan hal ini pada Kelana, respon yang Kelana berikan bukan positif menjauh dari nenen malah semakin posesif dan agresif. Continue reading

Advertisements

Ayah Hebat

“Attachment tidak bisa dinikmati hari ini, dia (attachment.red) harus dibangun sekarang tapi dinikmati nanti, belasan tahun lagi”, kata dr.tiwi dalam parenting class Ayah Hebat bulan Juli lalu.

Dr. Tiwi adalah dokter anak yang sehari – hari berpraktek di RS. Bunda Menteng, Jakarta. Bukan kebetulan saya pilih dr. Tiwi jadi dokter Kelana, anak saya. Atas rekomendasi dari @ID_AyahASI, kebetulan RS tempat praktek beliau tidak jauh dari rumah, dan ternyata asuransi kesehatan Kelana bisa diterima di RS. Bunda maka berjodohlah kami 🙂

Kelas parenting ini agak beda karena sebagian yang datang berwajah sangar, tegas, dan berjenggot alias bapak-bapak. Mengangkat judul Ayah Hebat, seminar yang digagas dr. Tiwi ini cukup sukses mengundang para ayah kecebur ikut seminar. Saya yakin menyeret para ayah ikut seminar parenting pasti sama sulitnya dengan meminta ayah menceboki anaknya. Tapi saya yakin pula setelah kelas parenting “Ayah Hebat” ini bapak-bapak brewokan, sangar, dan kekar ini akan dengan sukarela membersihkan pup anaknya, bermain dengan anak jadi lebih penting daripada bermain gadgetnya, dan bahkan ke bengkel pun mengajak serta anaknya demi menyandang predikat Ayah Hebat. Continue reading

Next Step, Weaning With Love

Meskipun masih lama, masih beberapa minggu lagi, saya sangat deg deg an menantikan bulan september. Bulan ulang tahun ke-2 nya Kelana. Bulan komitmen menyusui tuntas menjadi 2 tahun. Dan bulan mulai menyapih heuheu…

Kegiatan susu-menyusui ini sangat lah nyaman buat kami berdua, saya dan Kelana. Kenyamanan itu justru menjadikan saya terlalu berat untuk mulai menyapih. Meskipun sejak 14 bulan, Kelana sudah tidak mau minum ASIP simpanan, tapi tidak membuatnya berhenti menyusu pada saya.

Ada yang menyarankan trik trik jadul untuk menyapih. Misalnya, nenennya dikasih betadine, minyak kayu putih, sampe brotowali. Pokoknya dikasih yg serem-serem dan pahit-pahit supaya Kelana gak mau nenen lagi. Heuheu ini kan salah satu bentuk penjajahan juga.. Hari gini masih ngejajah anak sendiri?? Iyuuuh, malu sama Bung Karno kaleee hahaha.

Cara jadul tadi mungkin efektif tapi meninggalkan trauma. Gimana kalau nanti Kelana diberhentikan paksa nenen dengan obat merah misalnya, trus dia cerita ke orang orang kalo nenen umi-nya bedarah, trus anak anak lain jadi gak mau nenen lagi ke ibunya gara gara diceritain Kelana kaya gitu. Hayook gimana.. Ya ini sih andai andainya saya aja, belum tentu kejadian hehe..

Inti sebenarnya karena saya belum siap secara mental menyapih Kelana yang baru (akan) 2 tahun sebentar lagi. Sejauh ini saya baru sosialisasikan dan sugestikan kalimat kalimat seperti ini :”Kelana, kalau udah 2 tahun nenennya udahan ya”. Diakhir kalimat tadi pasti diikuti dengan gelengan kepala Kelana, artinya gak mau ummiiii..!! Heuheu Laah trus piye….

Ya saya sih berharap ga akan sampai berurai air mata lebay yaah. Mudah mudahan beberapa hari kedepan saya akan menemukan our-own weaning with love. Kelana harus tau, walaupun nanti gak nenen lagi, ga ada sedikitpun kadar cinta yang berkurang buat dia. Yang ada, abah dan umi nya makin nambah karena Kelana makin gede makin pinter.

**Sun sayang Umi buat Kelana yang lagi diasuh Abah di rumah :-*

Taman Formalitas

Rumah mungil Kami dibangun dg konsep minimalis, seminimal budgetnya hehe.. Dibelakang rumah disisakan sedikit taman sebagai formalitas. Rupanya, taman formal malah ini menjadi pusat energi keluarga. Wangi rumput yang basah setelah hujan, batu alam yg disusun sedemikian bentuknya menjadi pijakan refleksi kaki, dan gemricik air mancur sangat menenangkan. Ini ruangan favorit saya.

Selamat datang di taman Kami..

image

Suatu pagi, teladan yang baik

Suatu pagi saya sedang bersiap ke kantor. Saat itu ada anak tetangga main ke rumah, mau main sama Kelana katanya, saya silakan saja. Sambil berhias saya perhatikan mereka berdua dari pantulan cermin. Kelana merampas mainan yang dipegang temannya, bukan tindakan yang patut. Kejadian berikutnya adalah anak tetangga itu dilempar mainan karena Kelana kesal semua maiannya dipegang. Tiga kali kejadian rampas merampas dan sekali lemparan mainan, akhirnya saya turun tangan.
Saya membukuk, berusaha berada dilevel ketinggian yang sama dengan Kelana untuk memberitahunya bahwa perbuatannya tadi bukan perbuatan baik. Saya yakin dia paham kode telunjuk “stop” dan “dont do that” yang saya tunjukkan. Ditegur begitu, Kelana dengan wajah isengnya bukan berhenti malah melempar maiannya lagi. Saya ulangi kode telunjuknya, kali ini dia pura pura nangis. Sebenarnya saya gak tahan liat wajahnya saat pura pura nangis, lucu, tapi rampas dan lempar mainan bukan hal baik untuk diteruskan. Hal yang terjadi berikutnya adalah saya masuk dalam permaianan mereka, berusaha terlibat, dengan maksud memberikan teladan baik.

Lebih mudah untuk menegur dengan kata kata tapi tidak efektif untuk anak seusia Kelana. Saya sering meyakinkan diri bahwa Kelana mengerti maksud ucapan saya yang selalu saya lengkapi dengan bahasa tubuh. Tapi prakteknya, intonasi, kata kata, dan kode kode larangan tidak selamanya dituruti. Dan anak ini punya “senjata” pura pura nangis dan merasa bersalah dengan menutup wajahnya untuk menyelamatkan diri. Lucu yang gak lucu.

Kalau ada kategori, maka saya termasuk orang tua yang tidak lebay dengan larang ini itu. Ketegori lainnya adalah, saya ibu bekerja. Kelana saya percayakan pada si mbak yang dari silsilah kami masih sodara. Seharian ditinggal dengan si mbak, main dengan tetangga pastilah banyak hal terjadi. Saya tidak bisa mengharapkan kesempurnaan dari setiap perbuatan Kelana. Dia banyak melihat orang disekelilingnya yang berupa rupa perbuatannya. Pastilah sedikit banyak dicontohnya. Tugas saya dan suami dirumah adalah mencontohkan hal baik ratusan, bahkan ribuan kali untuk Kelana tiru dan dibawa dalam permainannya sehari hari.

Semoga kejadian pagi itu tidak terulang lagi.

—–
Selamat hari pendidikan nasional. Sebaik baik teladan manusia adalah teladan dari Rasullullah SAW.

Lari

Setelah cukup lama rehat berjoging dan berlari karena hamil-melahirkan-dan keasikan ngurus anak, sekarang saya mulai lari lagi. Buat saya sekarang lari adalah olah raga yang paling memungkinkan dilakukan demi efektifitas pembagian waktu bekerja, olah raga, dan mengurus keluarga. Bersepeda dari rumah ke kantor tidak memungkinkan lagi karena satu alasan, sepeda saya tidak dibawa serta pidah ke Jakarta, dan berjuta perhitungan lain sehingga saya tidak membeli sepeda baru. Berenang juga tidak bisa rutin dilakukan karena harus cukup  direncanakan dan berbayar hehe..

Mulailah saya berlari. Resolusi tahun baru bertambah satu, rajin lari. Dan yang terpenting, resolusi ini sudah diamiini oleh suami :))

Untuk menambah motivasi, saya instal aplikasi gratis dari Nike+ di iPod. Aplikasi ini merekam waktu, jarak, dan kalori yang terbakar saat berlari kemudian bisa diposting pada akun pribadi nikeplus.nike.com. Melihat rekaman lari pada akun nikeplus menjadi motivasi tersendiri. Dan aplikasi ini sungguh tau bagaimana membesarkan hati pelari dengan sering memberikan penghargaan-penghargaan atas apa yang kita capai saat berlari. Misalnya, “the longest run”, “fastest run”, “most calories burned”, “3 times a week run”, dan sebagainya yang cukup membakar semangat untuk berlari lebih sering, lebih cepat, lebih jauh. Rasanya banyak aplikasi serupa di android atau Blackberry serupa Nike+ ini yang bisa digunakan.

Jejak Rekam Lari 11 Maret 2013

Jejak Rekam Lari 11 Maret 2013

Pengen lari bareng-bareng @IndoRunners tapi gak cocok waktunya. Thursday Night Running @IndoRunners jadwalnya jam 8 malam, yang mana jam tersebut saya dedikasikan untuk  di rumah ngelonin anak. Saya cukup nyaman lari dengan jadwal after 5 sepulang kerja di Taman Suropati dan setiap minggu pagi di car free day jalan Thamrin bareng Kelana dan Abahnya. Yaudahlah yaaa cukup kita ikutin @IndoRunners via twitter nya aja, dan sesekali ikut even lari yang mereka bikin. Simpel, sesimpel lari sore :))

Yaudah.. yang suka lari dari masalah, insaf laaah.. Lebih baik kita lari beneran aja di taman-taman terdekat 🙂

Panggil Aku Ummi

Hal yang menjadi pemikiran setelah kelahiran Kelana, anak pertama saya, adalah akan membahasakan diri saya apa. Apakah ibu, mama, bunda, ummi, atau yang lain. Pertimbangannya adalah saya harus pastikan saya akan PD dipanggil dengan anak saya dengan sebutan “apapun itu”. Ini semacam membuat nama/ID email. Harus berkarakter. Dan panggilan ini harus dipastikan tidak boleh sama dengan panggilan saya ke mama saya, dan kakak ipar saya yang sudah lebih dulu dipanggil ibu oleh anaknya. Maka saya mencoret panggilan “mama” dan “ibu” dari daftar panggilan Kelana kepada saya. Kemudian saya terpaksa harus mencoret panggilan “mami” karena ini sudah dipakai paksa oleh mama saya untuk membahasakan dirinya untuk cucu-cucunya. Ah mengenai ini panjang pula ceritanya. Singkat cerita, berkuranglah pilihan panggilan ibu untuk saya. Tersisa bunda, ummi, ambu?, dan mommy (ini terdengar seperti mami dan sepertinya harus dicoret saja).

Sementara saya masih mencocok cocokkan panggilan ibu untuk saya gunakan, suami saya sudah mantap dengan panggilan “abah” bahkan sejak saya belum hamil, katanya lebih merakyat, lebih sunda.
Ditengah kegalauan saya ini, suami saya sering nyeletuk “udaaah dipanggil ambu aja, kan pasangan abah ya ambu”. Aiih..ambu., pikir saya terlalu sunda dan ‘gak gue banget’ hehehe.

Sebelumnya saya menyebut “aku-aku” saat bicara dengan Kelana. Terdengar tidak terkoneksi sekali, dengan anak kok aku aku. Lain waktu saya bicara lagi dengan Kelana menyebut diri bunda. Hm terdengar berwibawa dan berat sekali buat saya. Saya kembali ber-aku-aku dengan Kelana.

Lalu mau dipanggil apa? Continue reading