Kicauan #wakatobi Part 2

Hari ini saya berkicau lagi tentang perjalanan ke Wakatobi. Melanjutkan cerita kemarin, sekarang settingnya di Pulau Kaledupa. Cerita ini belum pernah published sebelumnya.

Ada 108 tweets dan sungguh melelahkan karena diposting dg internet kacau balau. Tapi alhamdulillah, kicauan sukses diselesaikan 🙂

Untukmu yang tidak punya waktu ngetweet atau tidak punya akun twitter, aku udah siapkan transkripnya di sini. Atau yang main twitter juga boleh ngikutin cerita ini bisa twitter.com/anakkutu #wakatobi

*orang gila macam apa yg bikin cerita di twitter (nepok jidad) 😀

Continue reading

Advertisements

Berkicau tentang Wakatobi di Twitter

Akhirnya akhirnya… aku yg tadinya hanya penikmat twitter sekarang mencoba berkicau juga. Gara-gara ngikutin tweetnya trinity si naked traveler (@TrinityTraveler) yang sekarang sedang berada di wakatobi dan update laporan terkininya dari sana, aku jadi ingat perjalanan ke wakatobi setahun lalu.
Sebenarnya ceritanya sudah published di blog ini secara bersambung (category : wakatobi), tapi rasanya cara bercerita ala twitter yang hanya 140 karakter membuat cerita ini menjadi beda. Beberapa detil yang terlewat di cerita blog tercover di kicau-an twitter.
Memulai cerita dari pukul 10.00 wita akhirnya part pertama dari keseluruhan cerita wakatobi-ku selesai pada pukul 13.30, plus break 30 menit utk sholat dzuhur dan internet yang lemat lemot hehe… Tak taulah berapa orang yang mengikuti cerita ini, terima kasih, semoga berkenan. Maaf jika ada beberapa kata salah ketik, semoga maksudnya sampai. Silakan dikoreksi juga bila ada informasi yang salah.
Buat teman2 yg gak nge-tweet jangan kuatir. Sudah kusiapkan transkripnya di post ini. Maka, ini lah kicauan wakatobi bagian pertama hari ini (15-09-2010; 10.00-13.30) Continue reading

Senangnya Bermain Bersama Nemo di Pulau Hoga

cerita hoga

Pagi-pagi sekali kami bangun untuk mencuci. Untungnya di rumah ini kami sudah dianggap anak sendiri sehingga (agak) bebas beraktivitas ala rumahan. Selayaknya teman yang saling berbagi, dalam mencuci pun kami saling bagi tugas. Aku bagian ngucek, Yaya bagian bilas kemudian menjemur sama-sama atau salah satu yang pakaiannya lebih banyak. Persahabatan yang penuh perhitungan.

😀

Kami sarapan sambil membicarakan kemungkinan-kemungkinan perubahan rencana yang lazim terjadi selama kami di Wanci. Misalnya saja hari ini, harusnya kami masih tinggal di Wanci 1-2 hari lagi untuk survey keliling pulau baru kemudian menyebrang ke Kaledupa. Tapi semalam kami dapat tawaran untuk ikut ke Pulau Hoga bersama rombongan tamu Seminar Lingkungan Hidup yang kami ikuti kemarin. Bagaimana mungkin kami bisa menolak Pulau Hoga lewat begitu saja.. Akhirnya jadwal harus fleksibel, yang penting target tercapai. Continue reading

Kampung Laut Orang Bajo

2009-10-10_WKTB4

wanci in frame

Menurutku, Kota Wanci tidak jauh berbeda dengan kota kabupaten lain yang baru mekar. Kota lama yang sudah terbangun dirapikan sarana dan prasarananya, sementara itu pemerintah mempersiapkan lahan untuk perluasan kota. Infrastruktur, terutama jalan, sedang dalam proses perbaikan dan pengerasan. Bahkan jalan porosnya pun masih diaspal kasar, jadi sepanjang perjalanan mengelilingi Wangi-Wangi tubuh kami jogad joged di mobil.

Akses menuju Wakatobi terasa lebih mudah karena Bandara Matahora (bukan manohara) sedang dalam proses pembangunan. Meskipun belum sempurna, landasan pacu bandara sudah bulak balik dipakai Susi Air terbang dari Wanci-Kendari, Kendari-Wanci. Setidaknya saat terakhir aku kesana kondisinya seperti itu (8okt2009). Sementara pelayaran dari Kendari-Wanci dan Bau-bau-Wanci terbuka sangat. Continue reading

Senyam Senyum Sana Sini

Wanci dari Kapal

Wanci dari Kapal

Tidur nyenyakku digugah petugas tiket. Ternyata sudah pukul 5.30 jumat pagi. Saat petugas memeriksa tiket, kulihat daratan sudah dekat, ah tidak lama lagi kapal akan merapat di Pelabuhan Wanci. Segera kubangunkan yaya dari tidurnya. “Ya, Ya, bangun, udah deket!!”, kataku. Kami berdua lompat dari ranjang untuk melihat matahari terbit yang kesiangan hehe.. ternyata sunrise-nya jam 5 tadi, terlambat deh.

Mumpung sudah terang dan masih diatas kapal, maka ini saatnya mengeluarkan si nikko (kameraku dinamai nikko) untuk memuaskan dahaganya memotoh. Hoho..  tidak lama kemudian si nikko sudah terisi aneka pose kami di haluan kapal dan berbagai sudut pelabuhan Wanci.

Kapal sandar. Kami kembali ke kamar, beberes barang dan sedikit memoles wajah biar lebih segar saat bertemu orang darat. Mudah-mudahan ada yang jemput. Kalau tidak juga tidak apa, banyak tukang ojeg disana. Continue reading

Perjalanan Bau-Bau Ke Wanci

pelabuhan#2

suasana pelabuhan

Pelabuhan ini seperti pasar malam, ramai orang. Sepanjang  10 meter orang berjualan didepan kapal UKI Raya III yang akan berangkat malam itu dari Bau-Bau ke Wanci. Obor-obor kecil dari mereka menerangi langkah kami menuju kapal. Jarak sandar kapal “cukup” jauh sehingga membuatku hati-hati melangkah lewat papan panjang ke badan kapal, kuatir terpeleset karena sendal karet yang kugunakan gak yakin anti selip.

Kapal kayu ini cukup besar. Mungkin muat sekitar 100 penumpang, ditambah dengan motor yang satu-dua dibawa penumpang. Kata temanperjalanku, dia lebih nyaman naik kapal kayu seperti ini dibanding naik speedboat yang terbuat dari fiber. Alasan keamanan, katanya. Speedboat lebih mudah pecah dan karam kena hantaman ombak (ombak-ombak tertentu pastinya) dibanding kapal kayu. Juga dalam hal rancangan badan kapal, jika terjadi sesuatu (semoga tidak) penumpang lebih cepat menyelematkan diri dari kapal ketimbang dari speedboat. Ah, semoga kami selamat sampai tujuan.

Kapal kayu ini disiapkan untuk perjalanan jauh. Dilengkapi dengan kamar tidur yang didalamnya ada 2 pasang ranjang tingkat dengan alas kasur busa tipis, bantal, dan guling. Sementara di luar kamar berjajar ranjang tingkat dengan alas matras tanpa bantal guling. Harga tiket untuk penumpang berkamar 133 ribu rupiah ditambah pajak masuk penumpang di pelabuhan 2 ribu/orang. Pas 135 ribu. Sedangkan yang tidak dikamar harganya 80 ribu. Continue reading