Harimau Berworkshop

Saat mendengar kata harimau yang terbayang pasti si kucing besar yang buas itu. Harimau yang disini adalah salah satu program yang sedang berjalan di PTISDA BPPT. Harimau singkatan dari Hydrometeorological ARay for ISP Monsoon AUtomonitoring.

Setelah setahun ini bergerilya di sawah mencari organisme pengganggu tumbuhan,  kini saatnya publikasi hasil yang diperoleh dalam kegiatan Harimau. Tanggal 5 November 2009, PTISDA BPPT bekerja sama dengan BPP-OPT mengadakan Workshop Aplikasi Radar Cuaca untuk Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Rangkaian acara selama workshop adalah laporan-laporan kegiatan selama penelitian, aplikasi yang diterapkan untuk peramalan OPT, serta launching produk dari analisis peramalan OPT.

Produk yang di luncurkan berupa website peta sebaran OPT seluruh Indonesia. Yang dikerjakan tim BPPT dan data supportnya adalah tim dari BBP-OPT Jatisari, Karawang. Continue reading

Hari Terakhir –nyemplung- di Sawah [part #4 -end]

@ desa Srengseng, IDM

@ desa Srengseng, IDM

Jumat pagi yang mendung. Apa boleh buat, tunggu saja sampai jam 10 nanti. Jika tidak ada matahari maka tidak bisa mengukur. Memang, kegiatan yang satu ini sangat tergantung sekali dengan matahari. Atau, bisa jadi pengukuran dilakukan saat tidak ada matahari dengan syarat kondisi per-awan-an stabil, mendung sepanjang hari. Karena secara matematis nilai pantulan spectral objek dilapangan dihitung dengan mempertimbangkan batas atas dan batas bawah atau istilah kerennya white reference and dark reference.

White reference dan dark reference adalah ‘pengendali’ loncatan atau turunan drastis nilai spectral.

Saat itu kami memilih sabar menunggu terik dari pada mengambil resiko mengukur tapi tiba-tiba cuaca berubah ditengah-tengah pengukuran.

Ditengah penantian akan munculnya matahari kami memutuskan untuk mencari lokasi terbaik untuk mengukur. Pada bulan ini (saat itu awal Mei) sebagian besar sawah di Indramayu telah memasuki masa panen. Padahal padi yang masih harus diburu adalah padi fase vegetatif 2 (umur >40 hari).

tim-ses nyemplung sawah

tim-ses nyemplung sawah

Disini tim didukung oleh mantri tani untuk menemukan sawah yang masih vegetative 2 . Butuh waktu yang agak lama untuk mendapatkan site yang cocok. Ada tempat yang padi-nya bagus tapi aksesnya ga bagus, ada lagi yang tempatnya bagus tapi padi-nya bukan ciherang, Sekalinya dapet tempat yang cocok ternyata sudah masuk waktu sholat jumat. Kalau sudah begini tim mesti fleksibel. Sementara lelaki sholat jumat, yang perempuan di’buang’ disawah untuk memulai pengukuran duluan karena waktu yang tersisa hanya tinggal sebentar.

Setelah jumatan dan tim lengkap lagi, kami mulai jalan dipematang sawah untuk mencapai target. Padi fase vegetatif yang diinginkan berada ditengah-tengah sawah.

Ditengah-tengah perjalanan, pematang yang awalnya kering mulai becek. Makin dekat ke target makin basah pematang itu. Rasanya ga afdol kalo selama beberapa hari ini main ke sawah tapi ga nyebur lumpur apalagi untuk anggota tim yang baru ikutan ngukur spectral, hoho selamat! Kalau kondisinya seperti ini maka yang terbaik adalah melapas alas kaki, alias nyeker. Kecuali Bu Lilik, yang sudah dari awal pengukuran memakai bot tinggi karena bertugas nyemplung sawah untuk mencari daun sakit (karena beliau ahlinya), yang lainnya terpaksa harus gantung sepatu. Diujung pematang becek tempat target pengukuran, baru kami tau ternyata ada “jalan tol” yang lebar dan kering menuju target ini, ugh! 😀

Sampai dilokasi target waktu sudah semakin sempit, sudah 13.30. Akhirnya kami mengukur dengan tolerasi waktu sampai pukul 15 untuk memaksimalkan jumlah sampel.

Sampai hari ini, jumlah sampel walaupun tidak sama untuk tiap kelas, tapi dirasa sudah cukup (karena memang terbatasnya lagi waktu lapangan). Bagaimana dengan hasil ? Continue reading

Menyelamatkan Diri [Cerita di Indramayu part 3#]

storm

storm

Persis di depan rumah makan yang kami datangi ada kegiatan syuting ntah untuk film atau apa. Sesekali terdengar teriakan “camera roll, action!!”. Saat angin mulai kencang aku malah sibuk melihat kegiatan syuting di depan sana. Mereka pun menyadari angin semakin kencang sehingga mulai sibuk menyelamatkan properti mereka yang besar-besar dan mahal seperti, berbiji-biji lampu sorot, reflector, mic, kamera, belum lagi menyelamatkan artisnya.

Mbak Fauziah dan Bu Lilik memilih menyelamatkan diri masuk kedalam bangunan yang lebih kokoh. Sementara aku dihadapi dilema, antara ikan atau kabur, ah sial betul kenapa tadi makan begitu lambat, sekarang ada badai begini perut masih minta diisi. Mau lari tapi mata kemasukan pasir sampai perih sekali kalo dibuka.

Akhirnya sambil berusaha mengambil gelas minumanku dan kamera, kuputuskan untuk masuk ke bangunan tembok sementara para lelaki masih di luar. Ga kepikir sedikitpun untuk merekam kejadian di TKP. Terakhir kulihat Pak Hartanto kembali duduk menghadapi makanannya dan Pak Bambang masih seru dengan 3 udang terakhirnya, ntah dengan Pak Nurdin. Ah kalo dilanjut makan juga ga bakal nikmat lagi karena paling nasi sudah bercampur pasir, batinku. Continue reading

Cerita di Indramayu

kultum field spectrometry

kultum field spectrometry

Hari berikutnya kami sudah siap ‘perang’ di Indramayu. Cuaca cerah dengan kabut tipis dilangit, cukup pas (dan panas) untuk mengukur. Sesuai dengan ramalan cuaca weather.com.

Target pengukuran masih sama, padi varietas ciherang yang ber-OPT. Di sini kita tinggal melengkapi data yang kurang. Kenapa sih harus pindah tempat ? Menurutku ini dilakukan untuk memperkaya variasi kondisi padi ciherang di tempat yang berbeda. Mungkin aja tanah beda dan perlakuan beda menyebabkan tumbuh tanaman jadi beda nilai spectral-nya jadi beda. Meskipun kurasa perbedaannya tidak akan signifikan.

Berdasarkan laporan pengamat OPT, serangan BLB dan BRS pada padi ciherang di Indramayu relatif lebih sedikit daripada di Karawang. Kami mendapatkan lokasi yang ‘bagus’ untuk ngukur diperbatasan Kabupaten Indramayu dan Cirebon, namanya Desa Srengseng. Di lokasi ini serangan yang paling banyak adalah BRS pada padi fase pematangan (ripening).

Belum jam 10 pagi tim sudah tiba di lokasi. Untuk mengisi waktu sampai jam 10 kami melakukan kursus singkat tentang pengukuran spectral pada bapak ibu dari Dinas Pertanian dan BBPOPT yang sedari kemarin ikut tim nyempung di sawah milihin daun padi yang sakit. Saling tukar ilmu 🙂

Jam 10 tet tim turun ke sawah. Hari ini berarti sudah hari ke-3 kami di lapangan, tiap orang sudah ‘terbiasa’ dengan tugasnya masing. Siapa ngapain, megang apa, semua sudah ada orangnya sendiri-sendiri :). Pengukuran sesi pertama berjalan lancar. Alat oke, cuaca bagus, tim kompak. Continue reading

Sidik Padi ber-OPT [Karawang]

daun ber-OPT

daun ber-OPT

Minggu pertama jadi sarjana kuhabiskan di sawah (lagi) dalam rangka pengukuran spektral daun padi. Ini adalah kegiatan lanjutan dari kegiatan tahun lalu, Merekam Spectral Padi. Tahun lalu kegiatan di sawah fokus pada pengumpulan spectral library fase pertumbuhan padi di Indramayu dan Subang, kali ini kegiatan serupa dilakukan lagi untuk merekam spectral daun padi yang sakit di Karawang dan Indramayu.

Sakit apa sih ?

Sakit karena terserang OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). OPT yang dimaksud tentu saja OPT yang dominan ada di Karawang (dan Indramayu). OPT yang dominan ada di daerah ini antara lain, BLB (Bacterial Leaf Blight), BRS (Bacterial Red Stripe), BLAS, penggerek batang, dll tapi yang direkam nilai spektralnya fokus pada daun padi yang ber-BLB dan BRS.

 

Untuk apa repot-repot merekam pantulan spectral padi yang sakit ?

Hasil rekam spectral ini nantinya adalah spectral library (pustaka spektral) daun padi sakit dan padi sehat.  Secara teori, nilai spectral daun tumbuhan yang sehat dan sakit akan berbeda. Spectral library yang dikumpulkan dapat diintegrasikan dengan citra satelit untuk dilakukan deteksi lokasi mana saja yang terserang OPT dan berapa persen sebarannya tanpa harus turun ke lapangan. Namun, bukan berarti citra satelit itu sakti bisa memberikan informasi apa saja, tetap saja butuh pantauan langsung di lapangan. Namun, bila dilakukan untuk wilayah luas maka teknologi ini dapat dijadikan alternatif yang murah meriah. Continue reading