Menyapih dengan Cinta, Bukan dengan Obat Merah

Sebagaimana cerita sebelumnya, sebulan sebelum Kelana 2 tahun saya baru mulai menguatkan hati untuk berenti menyusui. Sekarang mengingat Kelana bulan ini menginjak 2 lebih saya putuskan untuk mulai menyapih. Dengan demikian, saya siap untuk gak uwel uwelan nenenin Kelana, tapi mengganti nenen dengan aktivitas lain yang sama berkualitasnya dengan menyusui. Strategi sudah disusun, tinggal eksekusi. Yang jelas gak bakalan tiba-tiba berenti nyusui begitu aja. Ibarat orang pacaran, kalau diputusin sepihak kan sakit banget ya, apalagi pacarannya udah bertahun tahun heuheu *hapasih.

Strategi menyapih yang pertama kali saya eksekusi adalah membangun komunikasi dengan Kelana. Pada awal proses menyapih saya hanya menyampaikan kepada Kelana fakta yang ada, bahwa Kelana sekarang usianya 2, udah gede, seharusnya udah berenti nenen. Dengan membangun komunikasi yang baik seperti ini saya mengharapkan pengertian dari Kelana bahwa dia akan segera berhenti nenen. Setelah berkali kali saya sampaikan hal ini pada Kelana, respon yang Kelana berikan bukan positif menjauh dari nenen malah semakin posesif dan agresif.

Kelana malah semakin gencar meminta nenen kapan pun apalagi kalau hari libur. Kelana jadi sering gelisah tidur malamnya yang mana ujung-ujungnya gerilya mencari nenen. Saya pikir sikap Kelana yang seperti ini hanya akan berlangsung sebentar sebagai aksi protes, tapi lama-lama saya amati lagi rupanya bukan protes yang mau dia sampaikan melainkan perasaan insecure. Mungkin Kelana merasa dengan tidak nenen dia akan kehilangan kasih sayang, kehilangan kedekatan dengan ibunya, atau kehilangan kenyamanan. Mungkin kemarin saya terlalu bersemangat untuk menyapih sampai beberapa kali menolak permintaan nenen yang kemudian diterjemahkan Kelana sebagai tindakan tidak mengasihinya. Kemudian saya diskusikan sama Abahnya Kelana mengenai sikap Kelana ini dan kami menyusun strategi baru, hasil modifikasi dari eksekusi yang pertama.

Kalau sebelumnya si Abah Kelana masih gak tega denger Kelana nangis tengah malem gara-gara ga dikasih nenen dan kemudian membangunkan saya untuk “membungkam” mulut Kelana dengan nenen, sekarang dia sudah memberikan dukungan penuh untuk menyapih Kelana. Setelah mengantongi dukungan dari suami, strategi kedua adalah berbagi tugas. Tugas saya menyusui seperti biasa hanya kalau diminta oleh Kelana, sementara tugas Abahnya membuat Kelana jadi sibuk sehingga pikirannya teralihkan dari nenen. Kami sepakat untuk berhenti bilang stop nenen pada Kelana. Kalau Kelana nangis tengah malem minta nenen, pertama yang disodorkan adalah segelas air putih. Awalnya dia masih uring-uringan, tapi lama kelamaan setelah beberapa teguk minum dia kembali tidur lagi hampir tanpa perlawanan yang berarti🙂

Pelan tapi pasti, proses menyapih Kelana mulai beranjak dari stagnan-uring-uringan ke frekuensi-berkurang-banyak. Saat ini ada semacam aturan tidak tertulis buat kami bertiga (saya, abahnya kelana, dan Kelana) bahwa nenen hanya boleh pada malam sebelum tidur. Aturan ini tidak saklek, tapi juga tidak selonggar “boleh nenen kapanpun dimana pun“.  Kami tidak menyerah pada obat merah, plester, atau apapun pada puting susu yang terlihat menakutkan buat Kelana. Kami berusaha membangun komunikasi yang lebih ‘kena‘ lagi dan tidak menakutkan buat Kelana.

Menyusui tanpa dukungan siapapun adalah non-sense. Bila ada ibu yang merasa keras kepala dan tutup telinga mengantarkannya sukses menyusui, maka dukungan dari suami lah yang menguatkan. Buat saya, menyusui Kelana sudah tuntas. Sekarang dia masih nenen sesekali waktu malam, tidak saya larang tapi juga tidak disodor-sodorkan.

Selamat berjuang kawan-kawan sepersusuan!🙂

This entry was posted in Diary, Family, Kesehatan, Menyusui and tagged , , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

One thought on “Menyapih dengan Cinta, Bukan dengan Obat Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s