Ngomong Dong Kelana

Klik untuk mengetahui sumber gambar

Anak saya, Kelana, bulan ini menginjak 22 bulan 2 minggu. Tapi belum ada satu kata pun yang terucap dengan jelas. Terbaru adalah kata “au” dengan anggukan berarti mau dan “aau” yang disertai geleng berarti tidak mau. Selebihnya adalah wawa, baba, awah, dan a lainnya untuk semua hal yang dia tunjuk ditambah gerakkan tubuh lainnya untuk memperjelas maksudnya.

Kelana sudah bisa memanggil Abahnya, walaupun dengan “b” yang tersamar dengan “w”. Kadang terdengar “Awah”, tapi cukup dimengerti maksudnya. Kalau beruntung, Kelana bisa menyebut “Abah” dengan benar dan kami beri tepuk tangan meriah karena dia berhasil hehe..

Sepertinya saya harus sabar menunggu Kelana memanggil Umi kepada saya.
Bahkan untuk menyebut namanya sendiri pun Kelana belum. Bisa dimaklumi karena namanya tidak se-simpel dada, hihi, haha atau wawa yang bisa sembarangan disebutnya. Suku kata namanya ada 3, ke-la-na. Mungkin buat Kelana sendiri namanya cukup sulit dilafalkan. Dan tidak ada nama panggilan lain untuk Kelana, selain Kelana hehe..

Yang menggembirakan adalah tangkapan pengertian (reseptif) Kelana terhadap perintah sangat baik. Dia bisa menunjukkan bagian tubuhnya dengan benar. Dari kepala sampai kaki semua tepat. Begitu pula dengan warna. Ketika bermain baloknya yang warna warni, dia bisa menunjukkan mana warna merah, kuning, hijau dengan benar. Komunikasi dengan Kelana tidak sulit, dia terlihat mengerti maksud ucapan saya. Tanda mengertinya tentu dengan anggukan. Selain itu, Kelana mengerti perintah sederhana seperti ambil gelas, tutup pintu, buang ke tempat sampah, pijitin umi dan lainnya.

Masalah justru datang dari lingkungan disekeliling, banyak orang yang membandingkan Kelana dengan anak seusianya. Buat mereka mungkin masalah bila anak hampir dua tahun belum bisa bicara. Kemudian selentingan orang menyalahkan saya karena sok nginggris membuat Kelana bingung. Buat saya ini bukan hal yang perlu dikuatirkan secara berlebihan. Saya bukan ibu yang tidak peduli dengan perkembangan anak. Bukan tidak beralasan juga kalau saya tidak begitu kuatir dengan belum bicaranya Kelana. Rasanya bukan karena lagu-lagu Barney yang berbahasa inggris yang membuat Kelana belum bisa bicara. Justru dengan lagu-lagu itu Kelana tau mana knee, hand, foot, bus dan sebagainya. Saya juga tidak mempersulit Kelana dengan berbahasa inggris sehari-hari. Karena anggapan orang bila banyak bahasa anak jadi bingung. Saya mengerti bahwa kemampuan anak tidak bisa disamakan. Saya tidak membandingkan Kelana dengan anak lainnya, tapi ada anak usianya lebih muda daripada Kelana sudah bisa menyanyi topi saya bundar dengan baik. Pastilah orang tuanya sangat bangga🙂

Sungguh saya berharap Kelana bisa memanggil saya umi tidak lagi ah eh ah eh. Saya menantikan “cerita hari ini” dari mulut kecilnya. Dan saya siap menjawab pertanyaan – pertanyaan ini apa – itu apa-nya Kelana sesulit apapun. Kata mama saya, bentar lagi. Semoga ya🙂

This entry was posted in Family and tagged , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

2 thoughts on “Ngomong Dong Kelana

  1. Pingback: Ngomong Dong Kelana | #MustVisit - Pintu Gerbang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s