Suatu pagi, teladan yang baik

Suatu pagi saya sedang bersiap ke kantor. Saat itu ada anak tetangga main ke rumah, mau main sama Kelana katanya, saya silakan saja. Sambil berhias saya perhatikan mereka berdua dari pantulan cermin. Kelana merampas mainan yang dipegang temannya, bukan tindakan yang patut. Kejadian berikutnya adalah anak tetangga itu dilempar mainan karena Kelana kesal semua maiannya dipegang. Tiga kali kejadian rampas merampas dan sekali lemparan mainan, akhirnya saya turun tangan.
Saya membukuk, berusaha berada dilevel ketinggian yang sama dengan Kelana untuk memberitahunya bahwa perbuatannya tadi bukan perbuatan baik. Saya yakin dia paham kode telunjuk “stop” dan “dont do that” yang saya tunjukkan. Ditegur begitu, Kelana dengan wajah isengnya bukan berhenti malah melempar maiannya lagi. Saya ulangi kode telunjuknya, kali ini dia pura pura nangis. Sebenarnya saya gak tahan liat wajahnya saat pura pura nangis, lucu, tapi rampas dan lempar mainan bukan hal baik untuk diteruskan. Hal yang terjadi berikutnya adalah saya masuk dalam permaianan mereka, berusaha terlibat, dengan maksud memberikan teladan baik.

Lebih mudah untuk menegur dengan kata kata tapi tidak efektif untuk anak seusia Kelana. Saya sering meyakinkan diri bahwa Kelana mengerti maksud ucapan saya yang selalu saya lengkapi dengan bahasa tubuh. Tapi prakteknya, intonasi, kata kata, dan kode kode larangan tidak selamanya dituruti. Dan anak ini punya “senjata” pura pura nangis dan merasa bersalah dengan menutup wajahnya untuk menyelamatkan diri. Lucu yang gak lucu.

Kalau ada kategori, maka saya termasuk orang tua yang tidak lebay dengan larang ini itu. Ketegori lainnya adalah, saya ibu bekerja. Kelana saya percayakan pada si mbak yang dari silsilah kami masih sodara. Seharian ditinggal dengan si mbak, main dengan tetangga pastilah banyak hal terjadi. Saya tidak bisa mengharapkan kesempurnaan dari setiap perbuatan Kelana. Dia banyak melihat orang disekelilingnya yang berupa rupa perbuatannya. Pastilah sedikit banyak dicontohnya. Tugas saya dan suami dirumah adalah mencontohkan hal baik ratusan, bahkan ribuan kali untuk Kelana tiru dan dibawa dalam permainannya sehari hari.

Semoga kejadian pagi itu tidak terulang lagi.

—–
Selamat hari pendidikan nasional. Sebaik baik teladan manusia adalah teladan dari Rasullullah SAW.

This entry was posted in Diary, Family and tagged , , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

One thought on “Suatu pagi, teladan yang baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s