Finally, They Meet.

Bandara Juanda, Surabaya

“Itu mereka!!” Seru Hes pada Ted.

Dengan setengah berlari Sal menghampiri orang yang hampir pasti bernama Ted.

Sesaat lamanya mereka saling bertatapan takjub kemudian saling berjabat tangan. Erat, sangat erat dan berguncang-guncang. Saling berpelukan satu sama lain meluapkan kerinduan yang tak seorang pun dari Kami yang mengerti bagaimana perasaan meereka sebenarnya.

Ted tak kuasa menahan haru ketika akhirnya bertemu adik bungsunya itu. Tidak ada hal yang paling membuatnya menangis selain menemukan kembali keluarganya. Betapa tidak, selama ini Ted mengira Ia lah anak terakhir dari “The LD`s family”. Ternyata masih ada seorang anak bernama Sal yang lahir dari perempuan Indonesia yang dinikahi Papinya. Hanya Ted seorang yang tidak mengetahui hal itu.

Sementara Sal, yang selama ini mati-matian berusaha melupakan masa lalunya yang tidak bisa dibilang indah itu kini tak tau harus senang atau sedih bertemu dengan Kakak kandung yang tidak pernah sekalipun dilihatnya itu.

“Maaf ya aku emosional” Kata Ted dengan bahasa Indonesia khas bule-nya.

Kami tersenyum turut merasakan kebahagian yang  Ted dan Sal rasakan.

Sal lahir dari perempuan betawi yang dinikahi Roby, Papinya, pasca tahun 1960. Perempuan betawi yang cantik di masanya, yang memegang teguh agama yang diyakininya, yang single parent untuk ke-5 anaknya karena ditinggal mati suami pertama, dan secara keseluruhan perempuan ini memiliki kharisma perempuan kampung yang tidak dimiliki perempuan Belanda sebelumnya dan luar biasa membuat Roby jatuh cinta.

Sejak kecil sekali sebelum sekolah, Sal telah menyadari bahwa kelurganya tidak seperti keluarga normal kebanyakan. Papi dan Emaknya tidak tinggal bersama, Sal kecil tidak mengerti. Rutinitasnya tiap akhir pekan dan libur sekolah adalah diantar Emak ke rumah Papi dengan becak langganan, kemudian Emak langsung pulang. Begitu berlangsung sepanjang tahun sampai Sal tidak diantar lagi saat Emak menggapnya sudah bisa naik bis sendiri.

Sal kecil hidup dalam keterbatasan. Tinggal di rumah Emak yang semakin lama semakin sempit karena kakak-kakaknya semakin besar dan berkeluarga. Ada yang tinggal, ada yang pergi. Kerja Emak hanya mengaji dan mengurus anak cucu. Biaya sekolah Sal ditanggung secara bergantian oleh kakak-kakak Sal yang kadang kala menjadi macet disaat saat tertentu.

Terang-terangan Roby berkata pada Sal kecil bahwa Ia tidak bisa membantu secara finansial kebutuhan-kebutuhan Sal karena bisnis Roby bangkrut . Pedih hati Sal kala mengingat perkataan ayahnya. Cita-cita menjadi dokter harus Ia kubur dalam-dalam karena tak ada biaya. Kakak-kakaknya yang tidak pernah mengecap bangku kuliah dengan heroiknya hanya mampu membiayai tahun pertama kuliah teknik Sal di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Selebihnya, Sal sendiri yang membating tulang untuk membiayai kuliahnya sampai selesai.

Sepanjang hidup Sal, hanya ada dua kakak se-ayah yang dikenalnya, yaitu De dan Daniel. Yang lain, Ia hanya tau nama tapi tidak pernah bertemu muka.

Daniel adalah Kakak Sulung se-ayah Sal yang tinggal di Indonesia. Sementara De adalah Kakak ke-2 Sal yang tinggal di Amsterdam dan sering berkunjung ke Indonesia menjenguk Papi.

De terpaksa pindah ke Amsterdam karena kebijakan Pemerintah Indonesia menghendaki semua Warga Negara Belanda harus segera kembali ke Negara mereka jika tidak mau berganti kewarganegaraan Indonesia. Dede yang saat itu belum berumur 17 tahun itu pun harus ikut dengan Ann, Maminya, yang memilih Belanda ketimbang Indonesia. Sementara Robert, Papinya,  yang Manado tulen tidak banyak bicara saat istrinya memilih meninggalkan dirinya. Semua adik dan kakak De diboyong Ann ke Amsterdam, kecuali satu. Si Sulung kesayangan Robert. Daniel, kakak sulung De dan Sal, dipilih Robert untuk meneruskan bisnisnya di Indonesia.

De sangat menyayangi Sal. Tiap kali datang dari Amsterdam pasti ada sesuatu yang dibawakan De untuk adik bungsunya itu. Meskipun kesulitan membiayai sekolahnya, Sal pantang meminta bantuan pada De. Ajaran Emaknya. Satu-satunya kontribusi De selama pendidikan Sal adalah sepotong jas untuk wisuda sarjana Sal.

Meskipun banyak kebaikan yang De tunjukkan pada Sal, secara emosional Sal merasa tidak terikat pada anak anak lain dari Papinya. Selain memang ada batas prinsip yang tegas diantara mereka juga karena sepanjang Sal mengenal Papi, nyaris tidak ada kesenangan yang diberikan Papi kepadanya sampai akhir hayat Papinya. Setelah Papinya meninggal, tidak ada lagi keharusan Sal untuk mengunjungi rumah Papi. Sejak itu putuslah hubungan Sal dengan Daniel dan De. Dan Ted (seandainya Sal mengenal Ted).

Suatu hari ada pesan mrlalui facebook, mengaku sebagai Hes, istri Ted. Tak terlalu ditanggapi Sal sampai beberapa hari kemudian pikiran Sal mulai bertanya tanya, siapa Hes dan Ted.

Hes mengenalkan Ted dengan nama belakang yang sama dengan nama belakang Sal. Mungkin Sal pernah dengar nama Ted dari Daniel dulu, tapi Sal tidak yakin. Akhirnya Sal membalas pesan Hes.

Pesan demi pesan bergulir, saling bercerita asal muasal, hingga didapatlah benang merah tali silaturahmi yang putus. Cerita cerita keluarga besar, si anu si ini dan si itu, yang menunjuk pada orang yang sama. Sal, Hes, dan Ted menjalin komunikasi pada satu frekuensi, satu family, dan satu keluarga.

Obrolan paling penting yang pernah terjadi adalah merencanakan pertemuan. Peran Hes sebagai istri sangat penting, dia menjadi jembatan penghubung antara Ted dan Sal.

Sampai akhirnya pertemuan itu terjadi. Pertemuan adik kakak yang terpisah selama 50 tahun, dan paling singkat yang terjadi saat itu. Tidak mengurangi apapun, yang ada hanya kebahagiaan dan api obor keluarga menyala lagi.

Selamat berkumpul kembali.

This entry was posted in Diary, Family and tagged , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s