Selamat Datang, Nak!

image

PAGI SIANG

Ntah punya firasat apa rabu pagi saya kepengen nulis dan update blog (tulisan sebelumnya). Selama saya ngetik, Nadia, ponakan saya yang umurnya 1 tahun 8 bulan terus terusan elus elus perut saya, pake acara peluk peluk segala sambil nyengir badung. Tumben.

Siang itu memang saya ngerasa perut saya lebih sering kenceng dari pada biasanya, tapi saya pikir ini aktivitas normal kehamilan usia 39 minggu. Si ade lagi cari jalan keluar. “Lagi pula cuman kenceng kenceng biasa, ga ada tanda-tanda darah atau apa. Ayo dek, semangat!!”. Lanjut ngetik…

PECAH!!

Menjelang magrib suami saya pulang, dia bilang mau ke Tenggarong ketemu orang sekalian mau nonton tari-tarian dayak dan kutai. Suami malah nawarin saya mau ikut apa engga. Sempet kepikir pengen juga nonton tariannya, kapan lagi.. (nunggu si adek gak lahir lahir sih). Tapi saya ngebayangin perjalanan Samarinda Tenggarong bakalan lama aja udah males. Ah, im not in good mood for travelling.

Mungkin sudah diatur sama Allah, suami saya di sms temennya katanya mobilnya gak bisa jemput karena banjir. Saya ya otomatis seneng doong hehe.. Yaudah kita dirumah aja nonton tv.

Jam 20.15, Lagi asik asik ngobrol santai tidur tiduran, tiba tiba bunyi “duuusss!!!” diikuti basah dari daster saya. Saya kaget, langsung bangun dari tempat tidur dan banjir… Seperti balon air yang dipecahin, airnya  terusan keluar. Bukannya rembes lagi, bocor!

Kemudian rentetan kalimat keluar dari mulut saya :
“eh eh ketubanku pecah! Ketubanku pecah a!!”
“eh aku gak boleh panik, gak boleh panik!”
“duh, banyak banget keluarnya!! Minum a, minum!! Aku harus banyak minum, kasian ade bayinya!!”

Saya berusaha menenangkan diri. Sambil teriak ke bawah (maksudnya ngasih tau kakak saya yang ada di bawah) “Kak, ketubanku pecah!! Siapin mobil!”. Kakak saya nyaut “HAH? Ban mobil pecah?!”. Gubrag!!

Cerita selanjutnya adalah semua orang siap siap. Kakak saya siapin mobil, Suami saya full siaga dompet dan galaxy tab (mungkin hanya itu yg dia pikir penting untuk nemenin oranga mau melahirkan. Duit dan dokumentasi hehe..).
Sambil jalan pelan-pelan ke mobil saya telepon rumah sakit, cek kamar paviliun mana yang available untuk malam ini. Dokter sudah diberitau via sms kalau ketuban saya pecah dan gak ada rasa sakit sama sekali.

Dijalan air terus rembes ke sarung yang saya pakai.  Saya inget-inget yang saya baca selama ini dan mengubungkannya dengan kondisi saya saat itu. Ketuban saya pecah duluan, gak ada kontraksi sama sekali, mules juga engga. Artinya, bahaya dong!! Glek.

Sampai detik itu saya sangat mengharapkan merasakan sakit perut, mules, atau apalah yang memicu bukaan jalan lahir untuk anak saya. Nyatanya, sampai di rumah sakit air terus menerus keluar. Awalnya tidak berwarna, lama kelamaan jadi keruh, dan sampai akhirnya berwarna kehijauan.

Jam 21 diperiksa oleh dokter bukaan saya baru satu dan kepala bayi masih jauh. Jika kondisinya begini, dia gak berani ambil resiko untuk menginduksi menunggu agar bukaan lengkap untuk persalinan normal. Terlalu beresiko untuk bayi. Satu satunya jalan agar ibu dan bayi selamat adalah lewat  operasi.

Kemudian kami diberi waktu untuk berdiskusi sebelum memutuskan tindakan apa yang akan kami ambil. Kami sekeluarga liat liatan dan saling bertanya gimana gimana.. Ini sih bukan diskusi karena ga ada pilihan lain lagi.

Saking banyaknya air yang sudah keluar sampai sampai perut saya keliatan banget banyak ciutnya. Saya elus elus perut saya, berusaha berkomunikasi dengan bayi dalem perut saya. Gerakan bayi saya melemah, perasaan saya campur aduk.

Saya sangat mengharapkan menjalani persalinan normal. Bukan hanya berharap, tapi selama ini sejak mengetahui kehamilan saya sehat dan ga ada masalah, saya upayakan segala aktivitas untuk mempermudah terbukanya jalan lahir.

Saya bicara dari hati ke hati sama bayi saya, “adek bayi sayang, beginikah cara kamu keluar ke dunia? Kalau memang iya, ummi ikhlas deh. Kita upayakan yang terbaik buat kamu dan kita semua yah”. Menetes air mata saya, kemuadian kami putuskan. Baiklah operasi secepatnya.

Mungkin semua tau saya sedih, ini bukan cara persalinan yang saya harapkan. Papa menguatkan, “melahirkan tu kalo gak mormal ya operasi. Be strong ya”. Saya abaikan perasaan, dan mulai menguatkan diri, kompakan sama ade bayi yang mulai kehabisan cairan amniotiknya.

Jam 21.35 tempat tidur saya didorong menuju ruang operasi.

RUANG OPERASI YANG DINGIN..

Di dalam ruang operasi, yang ada cuma tebaga medis. Ga ada suami, apalagi personil keluarga  yang boleh mendampingi. Ruangan harus steril, saya mulai menggigil. Saya takut. Seumur umur belum pernah masuk ruang operasi.

Semua dijalankan sesuai SOP. Saya disuruh duduk membungkuk seperti udang, terus disuntik ditulang belakang saya. Selang berapa menit kaki saya lemas, bagian perut kebawah rasanya kebas. Saya disuruh mengangkat kaki, sekuat tenaga saya berusaha tapi kaki saya tidak juga terangkat. Obat bius mulai bekerja maksimal. Bibir saya gemetar, saya tambah ketakutan.

Satu satunya yang menguatkan saya adalah percaya bahwa Allah akan menyelamatkan kami dengan caraNya.

Dan satu satunya tenaga medis di ruangan itu yang saya suka adalah dokter anestesi. Lembut dan keibuan. Dia tau saya ketakutan, dia tau saya butuh pelukan, dia genggam tangan saya trus bilang “berdoa ya sayang”. Saya kangen mamah..

BERJUANG!

Kepala dan tubuh saya dipisahkan pandangannya dengan kain. Saya cuma bisa menerka nerka apa yang dokter lakukan sambil bertanya tanya, apa tandanya kalau dia sudah lahir. Masih kebingungan di ruang operasi dan pengaruh obat bius yang bekerja di separo badan saya, tiba tiba dokter obgyn menginstruksikan kepada yang lain, “dorong! Dorong!”. Serta merta empat orang personil disekelilingnya menekan perut saya.

Disini perjuangannya.

Rupanya air ketuban yang keluar sejak awal mempengaruhi proses persalinan. Ade bayi mulai sulit keluar karena pelumasnya berkurang. Perut saya ditekan kuat kuat kearah irisan dari berbagai penjuru. Tidak kurang dari 4 orang kiri kanan atas bawah yang mendorong keluar bayi didalam perut saya.

Saat mereka konsentrasi mengeluarkan bayi dalam perut saya, saya hampir kehabisan nafas karena dorongan mereka juga menekan paru paru saya. Terbata bata dan megap megap saya bilang “saya gak bisa nafas, saya gak bisa nafas…”. Dokter anestesi yang keibuan bilang “bertahan ya, sebentar lagi anaknya keluar” (dengan backsound suara personil lain “tuh miring ke kiri”, “yuk dorong satu, dua tiga!!”, “nah nah dikit lagi”, “ibunya jangan ngeden ya!! Atur nafas! “). Dalem hati saya, begini kali rasanya mau mati ya, nafas sengal sengal, tenggorokan tercekat, dan luar biasa haus. Hosh hosh!!

OEK!! OEK!!

Setelah perjuangan berat sampe.nafas mau habis, akhirnya “Naaah.. Anaknya laki bu. Selamat ya…”
Saya liat anak saya dibersihkan, trus dibawa ke deket saya, disuruh cium. Trus mulutnya yang masih nagis oek oek didekatkan ke puting susu saya. Hak pertamanya, menyusu.

Mengenai IMD ini saya khusus request sama dokter. Karena tempatnya sempit, disana sini alat operasi jadi IMD bayi saya gak bisa ditaro di dada ibunya buat nyari puting susu sendiri, tapi didekatkan langsung ke puting biar langsung dia hisap. Cuma sebentar dia hisap, trus bayi saya dibawa pergi untuk dibersihkan dan lain lain di ruangan lain.

Rasanya seperti mimpi. Gak sanggup buat gak mewek…

Dia lahir tanggal 7 September 2011, jam 22.42 wita. Dia pilih caranya sendiri untuk lahir ke dunia. Dan berjuang keras untuk itu.

Selamat datang, Kelana. Mari menjelajah dunia @httsan.

🙂

This entry was posted in Diary and tagged , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

2 thoughts on “Selamat Datang, Nak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s