Papercraft, Hobi Rumahan

Berawal dari jalan-jalanku ke sunmor (sunday-morning) di Jogja, ada lapak yang menjual pola-pola papercraft, aku mulai menikmati membuat replika bentuk-bentuk dari kertas. Pertama kali mencoba aku memulainya dengan pola yang kuanggap mudah, kupilih replika Monas-Jakarta dan Windmill-Belanda.

Proyek pembangunan bernilai ribuan rupiah ini hanya menggunakan alat dan bahan yang sangat sederhana, kecuali bagian ngeprint pola-nya yang memang membutuhkan printer warna dengan kualitas baik. Printer yang biasa kugunakan untuk mencetak pola biasanya HP D1560 atau Canon seri MP250. Kedua printer ini mode cetak draft hasilnya masih dalam kualitas cukup baik.

Kertas yang digunakan ngeprint harus dilihat pola replika-nya besar atau kecil. Kalau ukuran replika akan besar atau sedang aku menggunakan kertas cover putih. Sementara, untuk pola replika kecil dan mini ku coba dengan pertas ink-jet 100. Kalau pola replika didapat gratis dari internet, bentuk dan besarnya replika yang akan dihasilkan sudah ada dibagian instruksinya.

Alat menggunting dan memontong standar saja, gunting dan cutter. Kalau bisa yang tajam biar hasil guntingan rapi. Ditambah lem dan tusuk gigi (alat bantu menempel) maka proyek pembangunan sudah bisa dilakukan. Satu lagi tambahan, pilox clear. Pilox digunakan dibagian akhir (finishing) ketika replika sudah jadi. Gunanya untuk membuat warna pada replika kita jadi tahan lama dan tidak luntur.

Adik kecilku kuajak bergabung dalam proyek ini. Dia bagian menggunting pola-pola yang mudah (menurutnya) sementara aku sebagai ‘mandor’ melakukan semuanya, dari mengumpulkan bahan replika, menggunting, menempel, dan sampai membangun. Ternyata proyek  ini membuatku ketagihan dan penasaran mencoba bangunan-bangunan lain.

Setelah beberapa kali mencoba berbagai pola, akhirnya teknik menggunting, melipat, dan menempel ku jadi lebih mahir. Kuncinya harus sabar dan telaten.

paper-replika ku

Sementara ini aku sedang membangun replika arsitektur dari seluruh dunia yang bahannya aku unduh gratis dari website berikut :

http://paper-replika.com/

http://cp.c-ij.com

http://sandiagus.blogspot.com/

Beberapa kudapatkan dari Komunitas papaercraft di Kaskus. Ternyata para penggemar papercraft ada komunitasnya loh.. di FB. Group itu tempat sharing hasil replika yang sudah jadi dari kita juga banyak yang sharing pola-pola replika baru.

Menurutku sih mengasikkan. Refreshing tanpa keluar rumah. Hasilnya dipajang berjejer di ruang tamu. Kreasi ini juga bisa buat model foto still-life, bagi yang menyukai fotografi.

Sayangnya aku sadari bahwa kegiatan ini memiliki nilai negatif, yaitu membuang-buang kertas. Sisa-sisa guntingan pola replika pasti terbuang bagitu saja. Terbesit dipikiranku untuk mengumpulkan sisa-sisa guntingan itu kemudian diolah menjadi kertas daur ulang. Baru ide, belum terlaksana.. Mungkin teman-teman yang punya lebih banyak waktu bisa melakukannya untukku, dan untuk bumi ? hehe..

🙂

This entry was posted in Diary, Papercraft and tagged , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

14 thoughts on “Papercraft, Hobi Rumahan

    • wah sayangnya borobudur belom ada. ayo ayo bikin trus fotonya upload hehe..
      yang ukuran kecil misalnya miniatur rumah, kios koran, cafe, toko buku, dll yang jepang2an gitu. mini banget

  1. Hmm, dulu th 1990 saat masih kecil sama sekali gak kenal istilah origami/papercraft, cuma asal buat mainan sendiri pakai kotak kemasan rokok dibuat mobil dan pesawat tempur terinspirasi dari buatan paman berupa rumah adat Minang dari kemasan rokok. Lalu mulai SMP membuat helicopter dr kotak kardus bekas makanan sedangkan polanya menjiplak dari majalah Angkasa pakai kertas karbon hitam .

    • Aku selalu pakai kertas karton yg udah gak dipakai misal karton kemasan susu bubuk utk membuat papercraft sedangkan sisa kertas dibakar bersama kayu oleh ibu untuk memasak di dapur (maklum di desa masih tradisional)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s