Monbusho in Last Minutes, All is Well

Pagi tadi aku mendapati ruangan kantor agak sunyi. Satu-dua orang wara wiri sibuk sendiri dan maaf, aku sedang enggan terlibat dengan aktivitas wara wiri itu. Seperti biasa aku siapkan laptop ku. Dalam ke-autisan batin, aku buat nyaman diriku untuk memulai hari. Ku awali dengan review to-do list, barangkali ada yang terlewat.

Bank, done. Setor sumbangan, done. Setor titipan zakat, done. Tiket papa, done. Monbusho scholarship, not yet (deadline may, 12th 2010). Dan hari ini tanggaaall…(ngarahin kursor ke kalender dipojok kanan bawah layar), may 11th 2010. OMG!

Sesaat aku merenung. Semangat yang mulai kendur ini sangat berpengaruh negatif untuk diajak diskusi masalah sepenting ini. Bawaannya pengen mundur aja pesimis dengan persyaratan yang belum lengkap dan lebih lagi bertanya-tanya adakah jasa pengiriman spesial dari Samarinda ke Jakarta kurang dari 24 jam ?!

Pening kepalaku. All is well All is well… (sambil mengurut dada dan bernafas dalam ala film –3 Idiots-)

Sebagian hati tidak rela kalau kesempatan ini dilewatkan begitu saja. Terngiang-ngiang nasehat Rancho (Amiir Khan)  pada Farhan (R. Madhavan) di film -3 Idiots- dan petuah bijak yang sering dikatakan Pak Mario Teguh pada kaum muda, yang intinya, jika kita tidak berani untuk membuat keputusan yang bijaksana dimasa muda, maka penyesalan yang akan menghantui di masa tua. Aku adalah orang tidak pernah rela menyesal karena takut.

Detak detik jam yang menjadi backsound acara renungan mengingatkan agar bergerak lebih cepat. Aku kuatkan kembali ikatan semangat yang kendor, membuat simpul baru yang lebih kuat, menyusun strategi. Aku siap menerima tantangan.

Meskipun aku tidak pernah tau bagaimana hasilnya nanti, kurasa lebih baik mencoba dari pada tidak sama sekali. Dan kabar baiknya, tidak ada yang tau akan terjadi apa hari esok, so segala kemungkinan yang tidak mungkin menjadi mungkin (lagi-lagi aku terpengaruh kalimat motivasi dari Pak Mario).

Dan kau tau apa, menit berikutnya dan berikutnya dan berikutnya bintang-bintang keberuntungan mulai bersinar. Angin mulai membuka gumpalan awan hitam yang sedari pagi menggelayut, pelan-pelan dibawa ke tempat yang entah dimana membuat langit kota sedikit lebih cerah.

Aku mulai berkejaran dengan waktu. Melengkapi persyaratan yang sama sekali tidak mudah. Paling sulit bukan membuat abstrak penelitian yang bisa kuselesaikan dalam waktu kurang dari sejam (sori ye bukan sombong, cepat karena sudah ada konsep poin-nya), tetapi menyediakan pasfoto yang ukurannya 4,5 x 3,5 cm. Ukuran yang tidak umum ini membuat tukang cetak foto mengerutkan dahi yang akhirnya setelah tawar menawar harga dia mau mencetakkan fotoku. Sempat-sempatnya ada yang mengambil kesempatan dalam waktu yang sesempit ini.

Masalah lain lagi adalah aku belum melengkapi surat sehat yang dibuat dokter dari hasil cek kesehatan. Padahal untuk bisa cek kesehatan lengkap dianjurkan untuk puasa 8 jam. Ini tidak mungkin, karena perutku sekarang dalam kondisi full tank dan setelah ditanya ternyata biayanya juga gak sedikit.

Ganjalan ini langsung aku tanyakan ke panitia. Kedubes memastikan bahwa surat kesehatan yang harus diisi dokter bisa disusulkan kalau lolos proses selanjutnya. Aha! Bintang kejora di timur sana muncul lebih cepat, kurasa. Jam 12 siang, hampir semua persyaratan sudah lengkap. Sekarang masalahnya bagaimana caranya berkas ini bisa sampai ke kantor kedubes Jepang di Jakarta besok sebelum jam kantor berakhir.

Tak putus asa, aku pulang untuk sholat dzuhur. Sungguh lalainya aku, lupa memohon pertolongan kepada yang Maha Penolong. Permohonan restu dan pertolongan kuajukan dengan sungguh-sungguh saat sholat Dzuhur yang tidak tepat waktu itu. Lepas solat, aku menuju kantor jasa pengiriman barang. Alhamdulillah dapet senyum, dan cerita ini berakhir bahagia.

Allah SWT merancang skenario hari ini dengan sempurna. Peranku disini diangkat dijatuhkan, terus diangkat lagi trus dijatuhkan lagi, dan ketika korden theater ditutup penonton memberikan standing applause. Anda puas saya lemas. Lemas betul sampai ketiduran dan lupa balik lagi ke kantor hehehe..

😀

Amplop berkas sudah berpindah tangan. Satu lagi permohonanku kepada-Nya, tolong sampaikan surat itu kepada yang berhak tepat pada waktunya. Teriring berjuta doa dan harapan untuk terus mendengar kabar baik dari Jepang. Dan tentunya, berharap berakhir bahagia*.

*Note : “apa-apa yang baik menurutmu belum tentu terbaik menurut-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Mengetahui”


🙂

This entry was posted in Diary and tagged , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

5 thoughts on “Monbusho in Last Minutes, All is Well

  1. ica,
    itu terjadi padaku persis setahun yang lalu. Mengirimkan persis H-1 penutupan, kalang kabut melengkapi banyak persyaratan. Tapi aku apply ADS. Dan ternyata dapet surat unsuccessful shortlisted…hehehe…..

    • gak jadi sekolah tapi keterima Bako. itukan lebih dari cool man..! hehe.. karena kamu bisa dapetin beasiswa lain dengan sedikit lebih mudah, bukan begitu?🙂
      Dia yang tau yang terbaik untuk kita😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s