Menengok Bekantan di THM

tugu peresmian

Saya selalu menyukai perjalan kemana pun. Ada atau pun tidak ada tempat menariknya, yang namanya bepergian selalu menyenangkan buat saya. Dan menurut saya, perjalanan saya ke Tarakan beberapa waktu lalu bisa dikategorikan sebagai yang cukup menarik, meskipun hampir tidak ada tempat menarik di sana.

Undangan menjadi fasilitator pelatihan GIS saya terima dengan suka cita. Apalagi tempatnya di Tarakan, salah satu kota yang belum pernah saya kunjungi. Kata orang (lokal) Tarakan itu Singapore-nya Indonesia. Tambah penasaran.

Cuaca sedang bersahabat, tetapi beberapa kali pesawat berguncang cukup kuat karena menerjang angin kencang. Untuk menghilangkan kuatir akan hal yang tidak-tidak, saya membaca majalah yang disediakan maskapai penerbangan. Eh kebetulan ada artikel tentang Wisata di Tarakan 2 hari 3 malam. Saya membatin, cocok sekali dengan perjalanan saya (mulai lupa dengan tugas utama hehe..). Beberapa point dari artikel tersebut (tempat yang mungkin dikunjungi) saya catat untuk bekal saya selama di tarakan.

Ternyata selama di Tarakan, hampir tidak ada waktu untuk berwisata selain pelatihan dan makan malam. Saya hampir putus asa karena tidak ada satu pun orang yang ngajak saya jalan-jalan, kecuali pas pertama kali datang, saya disuguhi makan siang kepiting lada hitam yang sedap dan mantap di RM. Kepiting Saos. Tapi di suatu sore yang sudah kesorean saya jalan keluar hotel sendiri berbekal kamera, saya sudah bertekad untuk mengunjungi Taman Hutan Mangrove (THM) yang informasinya saya dapat dari majalah di pesawat.

Dari Swiss Belhotel tempat saya menginap, ternyata THM hanya berjarak 300 meter lebih sedikit (diukur dengan speedometer sepeda) atau kurang lebih 600 langkah (diukur dengan langkah-meter hadiah dari susu anlene hehe..). Swiss Belhotel itu letaknya berseberangan dengan Tarakan Grandmal, jadi THM sangat mudah dicapai karena letaknya nyaris ditengah-tengah kota.

Tepat pukul 17.35 waktu setempat saya sampai didepan gerbang THM, dan di kaca petugas karcis jelas tertulis, TUTUP 17.30. Wah saya terlambat. Tapi tulisan itu tidak membuat saya patah arang terus pulang. Tidak sama sekali. Saya coba sedikit basa-basi dengan petugas, maksud hati ingin mencuri hati si petugas agar bisa masuk melihat-lihat dalamnya THM, eh ternyata hati si petugas sangat mudah diluluhkan hehehe.. Beruntung saat itu saya memakai kaos yang ada logo Panda WWF-nya. Tanpa bertanya banyak si petugas malah bersedia mengantar saya blusak blusuk di dalam THM dengan tambahan permintaan dari saya, harus ketemu bekantan!

enterance of THM

Wah bekantan ?! Si mas petugas agak keberatan untuk berjanji, karena si bekantan ini sifatnya pemalu. Dia peka dengan kehadiran manusia (karena trauma disakiti), sehingga seringnya dia sembunyi atau kabur kalau melihat manusia.

Mungkin sebagian orang tidak tau binatang seperti apa bekantan itu. Tapi saya tidak heran kalau hampir semua orang tau maskotnya Dunia Fantasi (Dufan) Jakarta. Ya maskotnya Dufan adalah Bekantan jantan. Primata berhidung panjang (khusus jantan) hidup di hutan mangrove di pesisir pantai atau hutan rawa dipinggir sungai Kalimantan dan Sumatera. Populasi terbanyaknya ada di Kalimantan Selatan, sampai-sampai dijadikan lambang daerah setempat. Yang membuat bekantan istimewa, selain karena hidungnya yang panjang, bekantan termasuk salah satu hewan yang dilindungi karena populasinya berada diambang kepunahan. Orang Kalimantan menyebutnya dengan monyet belanda (ups yang orang Belanda jangan tersinggung ya…)

Sepertinya hari itu adalah hari keberuntungan saya karena sedang asik menjelajah hutan, dari jarak 40an meter didepan saya mucul sekuarga bekantan menyebrangi papan kayu. Si Bapak dan Ibu berjalan santai sementara kedua anaknya lelumpatan dari dahan bakau satu ke dahan lainnya. Wah saya terkejut juga sangat bersemangat. Saya diingatkan petugas untuk mendekat pelan-pelan agar tidak mengganggu kesakralan acara keluarga mereka.

Tidak takut diserang bekantan ?

Tidak. Boro boro menyerang, dia lihat manusia ajaa langsung lari sembunyi dibalik akar bakau. Mungkin juga naliri bekantan sendiri, mereka tau populasi mereka tinggal sedikit, jadinya mereka cenderung protektif dengan keberdaan spesies mereka. Saya rasa manusia akan berbuat hal yang sama dengan bekantan kalau saja populasi manusia terancam punah. Tapi ini mah hanya khayalan saya aja, karena hampir tidak mungkin  manusia punah (kecuali ada Yang Berkehendak) karena sudah terbukti manusialah yang paling barhasil bertahan hidup sampai sekarang sejak penciptaannya.

tingkah polah bekantan

Kata si petugas, saya beruntung sekali karena ketemu bekantan tanpa harus menunggu. Sebelum saya datang, seharian ini selama mengantar tamu masuk kedalam hutan, bekantan tak juga muncul batang hidungnya. Baru pas sore ini mengantar saya, si bekantan keluar dari persembunyiannya. Sambil gurau saya bilang, mungkin bekantannya tau kalau mau ada keluarga jauh mau datang *glek!

Setelah puas potrat potret bekantan, saya dibawa menjelajah tempat-tempat terlarang didalam hutan. Tempat yang hanya petugas atau orang-orang tertentu yang boleh masuk. Pertama yaitu tempat makan bekantan. Makanan bekatan seperti kera pada umumnya, buah-buahan, dan serignya ya pisang. Makanan bekantan diantar setiap hari pagi dan sore oleh petugas, jadi seperti catering. Bedanya, catering yang ini gratis..

Setelah itu gerbang areal perluasan hutan yang belum diresmikan untuk umum dibukakan khusus untuk saya hehe… Awalnya luas THM mangrove ini hanya 9 ha, kemudian baru tangga 6 Desember 2006 pemerintah setempat meresmikan THM menjadi 12 ha, sehingga total luas hutan sekarang menjadi 21 ha.

Dimana-mana yang namanya pengganggu dan perusak pastilah ada. Di THM yang paling mengganggu adalah warga yang menangkap kepiting didalam THM. Ya memang disini kepiting beranak pinak dengan suburnya. Udang pun demikian. Sebenarnya sudah ada undang-undang yang melarang mengambil apapun dari THM termasuk kepiting dan udang yang hidup di sini dan sanksinya ditindak ke petugas yang berwajib. Tapi tetap ada saja warga yang kedapatan menangkap kepiting.

Si petugas bercerita harusnya tugas beliau-lah yang memperingatkan para penangkap kepiting liar itu, tapi seringnya beliau yang tidak tega melarang mereka. Tiap kali kepergok sedang menunggu tangkapan kepiting, pengganggu itu hanya bisa senyum-senyum saja, kadang-kadang kabur, kadang-kadang cuek tetap nunggu umpannya disambar.

Dari obrolan singkat saya pada sejumlah penangkap kepiting, mereka adalah warga yang rumahnya bersebelahan dengan THM. Tangkapan mereka paling-paling tidak seberapa banyaknya. Menurut pengakuan mereka, tangkapan itu tidak ada yang dijual, hanya dikonsumsi untuk makan sehari-hari saja. Yang menjadi poin adalah bagaimana manusia dan alam saling menjaga dan saling menguntungkan.

Disatu sudut saya melihat plang besar bertuliskan GANKO Japanese Sushi Restaurant. Sebuah rumah makan di Osaka/Tokyo, Jepang yang meng-import bahan baku dari udang terbaik tambak di sekeliling hutan ini. Sebagai bentuk rasa kepeduliannya terhadap lingkungan, perusahaan ini turut berkontribusi dalam menyediakan bibit mangrove untuk perluasan THM.

Sepanjang perjalanan saya menyusuri jalan kayu yang mirip catwalk, saya dihibur oleh suara api-api yang berebutan meletek “tak tok tak tok” dan suara hewan rawa yang saya tidak tau pasti apakah itu burung atau suara bekantan. Satu-satunya yang membuat saya ingin cepat-cepat keluar dari hutan ini adalah udara didalm yang pengap, mungkin karena akar nafas bakau yang berbagi oksigen dengan penghuni lain di dalam hutan.

Sebelum keburu malam dan sebelum si petugas sadar kalau saya ini bukan siapa-siapa, saya buru-buru pamit pada beliau. Mengucapkan terimakasih dan memberikan selembaran uang pada petugas lain yang menginjinkan saya diantar temannya.

Catatan kaki :

How to get there : Menuju Tarakan dapat ditempuh dari manapun anda, dengan penerbangan tujuan Balikpapan. Dari sini baru ada penerbangan langsung menuju Tarakan. Sejauh ini baru maskapai Mandala Air, Sriwijaya, dan Lion Air yang berangkat dari Balikpapan. Harga tiket relatif terjangkau kisarannya 300 – 600 ribu sekali jalan.

Recommended places: RM. Kepiting Saos Jl. Mulawarman. Warung Kopi Abah, Taman Hutan Mangrove

Where to live : anda bisa bermalam di hotel bintang **** Swiss Belhotel atau sekelas dibawahnya ada Plaza Hotel Tarakan Jl.Yos Sudarsoyang tidak kalah nyaman. Cek lebih detil disini.

This entry was posted in Indonesia Negeriku and tagged , , , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

One thought on “Menengok Bekantan di THM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s