Senangnya Bermain Bersama Nemo di Pulau Hoga

cerita hoga

Pagi-pagi sekali kami bangun untuk mencuci. Untungnya di rumah ini kami sudah dianggap anak sendiri sehingga (agak) bebas beraktivitas ala rumahan. Selayaknya teman yang saling berbagi, dalam mencuci pun kami saling bagi tugas. Aku bagian ngucek, Yaya bagian bilas kemudian menjemur sama-sama atau salah satu yang pakaiannya lebih banyak. Persahabatan yang penuh perhitungan.

😀

Kami sarapan sambil membicarakan kemungkinan-kemungkinan perubahan rencana yang lazim terjadi selama kami di Wanci. Misalnya saja hari ini, harusnya kami masih tinggal di Wanci 1-2 hari lagi untuk survey keliling pulau baru kemudian menyebrang ke Kaledupa. Tapi semalam kami dapat tawaran untuk ikut ke Pulau Hoga bersama rombongan tamu Seminar Lingkungan Hidup yang kami ikuti kemarin. Bagaimana mungkin kami bisa menolak Pulau Hoga lewat begitu saja.. Akhirnya jadwal harus fleksibel, yang penting target tercapai.

Jam 8 pagi seperti yang sudah dijanjikan untuk temu, kami datang. Ternyata tamu lain masih sarapan di hotel, katanya kita akan berangkat dengan kapal cepat Pemda jam 10 nanti. Ya sudah, kami putuskan untuk menunggu di Rumah Makan Wisata yang terkenal enak (dan lama) makanannya. Tadinya aku dan Yaya hanya berdua, tapi kemudian Prof. Boedhi (UI), yang tidak cocok lidahnya dengan makanan yang disajikan hotel, bergabung dengan kami. Sambil ngobrol santai, kami pesan 3 ekor ikan masak pedas + nasinya (rasanya luar biasa nikmat)  yang akhirnya harus dibungkus karena terlalu lama menunggu sementara teman-teman lain sudah siap akan berangkat. Ternyata waktu berangkat dipercepat.

Kami berangkat menuju Hoga jam 8.30. Rute perjalanan kapal langsung tembak dari Sauh RM.Wisata ke Dermaga Hoga. Kata nakhoda waktu tempuh kurang lebih 1 jam 30 menit.

Laut tenang tak berombak. Kapal melaju cepat membawa kami ke pulau karang, Hoga. Diparo perjalanan, saat semua sedang asik bercengkrama, kami berpapasan dengan kawanan lumba-lumba. Kemunculan lumba-lumba diyakini sebuah indikasi keberadaan ikan dan cumi-cumi makanannya. Kami bertepuk tangan saat si lumba-lumba beraksi lelompatan dari air. Atraksi singkat yang berkesan.

Teriknya matahari saat itu, dikalahkan dengan hembusan angin yang bertubi-tubi menampar pipi dan rambut kami. Meski tak tau bagaimana rupa saat ditampar ombak, toh kami tetap percaya diri saat lensa kamera saling berebut mengabadikan momen bersejarah ini. Semua orang senang tak terkecuali.

Daratan sudah semakin dekat. Air laut yang tadinya berwarna biru tua bergradasi menjadi biru muda. Semakin dekat ke darat warnannya semakin muda. Pertanda kapal berlayar diatas karang. Meskipun dinaungi air laut, tapi pesona warna warni karang tembus kasat mata. Jadi tidak sabar ingin segera terjun bebas.

Mendaratlah kami di Pulau Hoga.

Air laut masih surut jauh, sehingga kami mau tak mau becek-becekan menuju darat.

Kalau bukan musim libur seperti sekarang ini, pulau terasa sekali sepinya. Tidak ada penyambutan dengan kalung bunga, tarian selamat datang, dan es kelapa muda sebagai welcome drink. Siape lu, hehe…

Saat dirasa air sudah mulai tinggi, kami bersiap dengan alat selam. Kebanyakan dari kami tidak mempunyai dive-lisence. Pun ada, mereka memilih snorkeling saja beramai-ramai dengan yang lain. Disini untuk menyelam memang mesti punya lisensi, untuk keselamatan diri sendiri minimal. Tidak boleh asal nyemplung saja.

Kakak pemandu menunjukkan lokasi snorkeling, hohow.. saat nyemplung sudah dekat. Beberapa teman bilang ini adalah pengalaman pertama mereka snorkeling, jadi takut-takut tapi penasaran. Aku rasa dulu juga aku begitu saat pertama kali snorkeling. Meskipun bisa berenang di kolam renang, tapi rasanya tidak pede berenang di laut. Terlalu dalam jadi takut tenggelam. Padahal  kalau pakai baju selam kita tidak perlu takut tenggelam karena akan mengapung dengan sendirinya. Apalagi ditambah kaki katak (fin) yang membuat gerakan diair jadi lebih cepat. Ya memang kalau tidak biasa memakai fin jadinya kaku karena fin juga sifatnya mengapung kalau tidak digerakkan kaki. Tapi percayalah, semua rasa takut itu berangsur-angsur hilang saat mata kita dihadiahi pemandangan terumbu karang dan ikan karang warna-warni.

Plung!! Pelan tapi pasti aku lompat dari kapal ke air. Ruang kosong dipunggung yang terbentuk akibat baju selam kebesaran membuat aku tidak perlu bersusah payah main silat dibawah air untuk mengapung. Dengan segera memasang snorkel, kemudian mengintip kebawah

ciluk..ba!

terumbu dan ikan warna-warni menyapa. Aha! inilah surga nyata bawah laut yang berjuta kali dikatakan Pak Hugua (Bupati Wakatobi) saat seminar kemarin.

terumbu sehat

Karena minim pengetahuan tentang nama-nama terumbu karang dan ikan jadinya aku hanya bisa terkagum-kagum melihat rangkaian terumbu menari gemulai seirama arus, serta ikan-ikan yang malu-malu mengintip disela-selanya. Hanya satu yang paling aku kenal dan paling kucari, clown-fish/ikan badut alias si nemo, dan dia ada. Segera saja kusampaikan pesan pada si nemo “dicari bapakmu tuh“, dia cuman nyengir doang.

ular laut

Lagi asik menikmati indahnya surga bawah laut, tanganku diguncang Yaya. Dengan bahasa isyarat dia menunjuk-nunjuk hewan panjang belang-belang kuning hitam sedang meliuk-liuk mendekati kami. Ular laut. Wedew. Refleks aku dan Yaya pelan-pelan agar tidak mengundang perhatian si ular, menjauhi karang menuju tempat yang dalam. Kata kakak-kakak penyelam, ular laut itu bisanya 30x lebih mematikan daripada ular darat. Meskipun demikian, mulut ular laut sangat kecil sekali sehingga tidak ia gunakan untuk menggigit manusia dan dia tidak berenang di laut dalam . Setelah pulang aku cari tau, ternyata si ular laut ini bayak jenisnya dan bisa hidup di samudera dalam, karang, sampai di pasir pantai  (huhu..untung saja tidak panik)

Tidak terasa waktu mulai beranjak sore. Ujung-ujung jari sudah mulai keriput dan kulit wajah menggelap. Saatnya kembali ke darat. Melanjutkan perjalanan. Setelah ini aku dan Yaya akan langsung menyebrang ke Pulau Kaledupa, sementara teman-teman lain pulang ke Wanci. Perpisahan gembira yang mengharukan, karena tidak tau kapan kami berjumpa lagi.

bye bye Hoga

Senangnya bermain bersama nemo dan dikejutkan ular laut

🙂

Cerita Sebelumnya  tentang perjalanan di Wakatobi <klik>

This entry was posted in Indonesia Negeriku, Wakatobi and tagged , , , , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

6 thoughts on “Senangnya Bermain Bersama Nemo di Pulau Hoga

  1. wuiiihhhh jadi tertarik juga pengen diving, meskipun saya mahasiswa kelautan, tapi saya belum pernah terjun langsung dalam menyelami lautan lepas..

    untuk dana sendiri, kira – kira berapa untuk sekali menyelam??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s