Senyam Senyum Sana Sini

Wanci dari Kapal

Wanci dari Kapal

Tidur nyenyakku digugah petugas tiket. Ternyata sudah pukul 5.30 jumat pagi. Saat petugas memeriksa tiket, kulihat daratan sudah dekat, ah tidak lama lagi kapal akan merapat di Pelabuhan Wanci. Segera kubangunkan yaya dari tidurnya. “Ya, Ya, bangun, udah deket!!”, kataku. Kami berdua lompat dari ranjang untuk melihat matahari terbit yang kesiangan hehe.. ternyata sunrise-nya jam 5 tadi, terlambat deh.

Mumpung sudah terang dan masih diatas kapal, maka ini saatnya mengeluarkan si nikko (kameraku dinamai nikko) untuk memuaskan dahaganya memotoh. Hoho..  tidak lama kemudian si nikko sudah terisi aneka pose kami di haluan kapal dan berbagai sudut pelabuhan Wanci.

Kapal sandar. Kami kembali ke kamar, beberes barang dan sedikit memoles wajah biar lebih segar saat bertemu orang darat. Mudah-mudahan ada yang jemput. Kalau tidak juga tidak apa, banyak tukang ojeg disana.

Kabarnya, tarif ojeg di Wanci jauh dekatnya 3ribu hehe.. Jadi, kalau anda berencana backpaker ke Wanci, jangan kuatir soal kendaraan, karena tukang ojeg siap mengantar anda kemana saja dengan harga bersahabat. Hanya saja, saranku, waspadalah mengenali tukang ojeg yang waras dan mabok. Ada selentingan berita miring tentang orang-orang wanci. Tidak perlu dibahas sebabnya. Memilih yang waras penting untuk keselamatanmu, bukan ?🙂

Selama di Wanci aku tinggal di rumah sodaranya Yaya. Rumahnya nyaman sekali. Dekat dengan pelabuhan. Belakang rumahnya langsung menghadap laut dan kau tau apa, sunset! Maka dengan demikian cita-cita masa kanak-kanak ku terwujud : ingin punya rumah dipinggir pantai dengan fasilitas sunset didepan/belakang rumah. Yeah, meskipun secara teknis ini bukan rumahku, paling tidak selama aku disana mereka selalu bilang, “anggap saja rumah sendiri”. See?!😀

sunset01

senja dibelakang rumah

Saat kami datang, teh panas dan pisang goreng yang juga masih panas sudah sedia dimeja untuk sarapan. Menu inilah yang menjadi utama untuk sarapan selama kami di Wanci. Belakangan aku baru tau kalau harga pisang di wakatobi dihitung per buahnya 2000 rupiah (bukan se-sisir loh, tapi per-pisang). Jadi tidak enak hati dengan pemilik rumah, karena aku sangat suka pisang goreng, sekali makan bisa sampe 4 buah (pengakuan dosa).

Kami baru keliling Pulau Wangi-Wangi dihari-hari terakhir. Seringkali agenda yang telah kami susun terpaksa berubah, mengingat orang-orang yang harus ditemui mobilitas antar pulaunya tinggi sekali. Sebentar ada di Wanci, sebentar lagi sudah di Buton, atau bahkan di Runduma (glek!). Tapi, kita tidak tau apa yang terjadi dikemudian hari. Sepertinya bintang-bintang keberuntungan kami bekerja dengan baik🙂

Bermodal senyum dan sapa setiap bertemu orang baru, kami sering dimudahkan saat ‘bekerja’. Sengaja kuberi tanda petik, karena makna bekerja untuk kami tidak hanya di dalam ruangan, melakukan wawancara tunjuk tunjuk peta dan sebagainya, tapi juga termasuk rekreasinya hehe.. Terbukti loh, meskipun jadwal kami berantakan tapi target narasumber sekaligus mengunjungi lokasi penting semua tercapai. Semua berkat kegigihan kami senyam senyum sana sini😀

[bersambung dulu ah, kepanjangan. setelah ini aku akan cerita tentang kampung bajo yang kukunjungi]

Cerita sebelumnya : Perjalanan Bau-Bau ke Wanci [Wakatobi bagian 1]

Bersambung ke Kampung Laut orang Bajo [Wakatobi Bagian 3]

This entry was posted in Indonesia Negeriku, Wakatobi and tagged , , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

2 thoughts on “Senyam Senyum Sana Sini

  1. salamualaykum

    Salam kenal, Saya berencana untuk ke Bau bau dan Wakatobi, ingin sekali rasanya segera kesana, namun apalah daya, kami harus menundanya hingga peak season tahun depan. Baru-baru ini kami mengumpulkan informasi tentang kawasan tersebut, Besar harapan saya untuk mendapatkan Kontak yang memungkinkan untuk tinggal dengan masyarakat lokal biarpun harus mengeluarkan biaya stay over night untuk itu. membaca posting dan melihat jepretan anda seolah-olah kehangatan dan sentuhan lokal terasa sebelum kesana.

    Untuk itu sudilah kiranya anda membantu kami dalam mukaddimah perkenalan ini memberi informasi lebih jauh dan alamat email anda, untuk tujuan dimaksud kedepan.

    Wassalam
    Fakhri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s