Lukisan Khombouw, Oleh-Oleh dari Teman Lama

Resiko orang tua yang kerjanya mengabdi pada negara adalah bersedia ditempatkan diseluruh wilayah republik ini, sampai membawa aku dan keluargaku ke wilayah timur indonesia, Papua. Dulu orang menyebutnya Irian, bahkan sampai sekarang di keluargaku masih fasih menyebut pulau kepala burung itu dengan sebutan Irian🙂

Sepanjang sekolah dasar kuhabiskan di Ibukota Papua, Jayapura. Setelah itu pindah ke Kalimantan. Sampai sekarang masih ada teman-teman sekolah dasarku yang tinggal di papua. Bertahun-tahun lost contact dari teman-teman sekolah dasar, tapi berkat friendster dan facebook kami saling menemukan satu sama lain. Jejaring semakin luas, semakin hari semakin bertambah temu teman SDku.

Sapa basa basi  sering terjadi. Hingga beberapa waktu lalu ada seorang teman yang menawarkan sebuah lukisan dari kulit kayu padaku. Oleh-oleh dari teman lama, katanya. Meskipun tak tau seperti apa bentuknya benda yang dimaksud, tapi ku iya-kan saja, tanda setuju. Eh tak tahunya paket kiriman dari papua itu bukan basa basi, dia sampai di rumah.

Ternyata begini bentuknya lukisan dari kulit kayu yang dimaksud. Cantik sekali.

Lukisan Khombouw

Lukisan Khombouw

Mereka menyebutnya Lukisan Khombouw. Khombouw adalah nama sebuah pohon yang hidup di sekitar Sentani, Papua. Melukis diatas lembaran kulit kayu, merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di sebuah pulau di tengah Danau Sentani, Papua. Pulau Asei. Ini karena pengetahuanku yang minim dan mungkin kurang pergaulan sampai-sampai aku tidak tau kalau pohon Khombouw hanya hidup di Papua dan langka. hoho..maafkan aku

Pohon Khombouw, sekarang sulit ditemukan. Seiring dengan kebutuhan penduduk memanfaatkan kulit kayu pohon ini sebagai media lukis. Secara turun temurun, penduduk Asei menggantungkan hidup dengan berjualan lukisan kulit kayu, selain mencari ikan dan sagu.

Tak semua jenis pohon Khombouw dapat diambil kulit kayunya. Selain yang telah cukup umur, dipilih yang memiliki sedikit dahan. Batang pohon ini kemudian ditandai bagian-bagiannya yang akan dipotong. Lembaran-lembaran kulit kayu yang sudah dipotong tak bisa langsung digunakan begitu saja.

Bahan dasar untuk melukis ini, lapisan luarnya yang kasar dibuang. Lalu ditumbuk dengan menggunakan plat besi untuk mendapatkan lembaran kulit kayu yang lembut dan lebar. Lebarnya bervariasi, tergantung besar kecilnya diameter batang kayu. Proses menumbuk ini memakan waktu cukup lama dan menguras tenaga. Lembaran-lembaran ini nantinya dicuci, dibuang ampasnya, selanjutnya dijemur hingga kering.

Lembaran-lembar yang telah kering inilah, dijadikan sebagai media untuk mengeskpresikan jiwa seni mereka. Dalam melukis masyarakat Sentani hanya menggunakan tiga jenis warna. Warna utama adalah hitam yang, dibuat dari jelaga, dicampur dengan minyak kelapa. Warna lain adalah putih, dari bahan sagu. serta warna merah, terbuat dari tanah liat.

Motif lukisan yang dibuat bermacam-macam, khas masyarakat Papua. Lukisan Khombouw, begitu mereka menyebutnya, peminatnya kebanyakan wisatawan mancanegara. Untuk mendapatkan lukisan ini, mereka mendatangi langsung rumah-rumah penduduk dengan berperahu ke Pulau Asei.

Demi melestarikan dan menjaga tradisi leluhur, beberapa tahun terakhir, Corlius, yang seorang suku asli, mendirikan sanggar lukis. Sayangnya, kemauan dan semangat generasi muda melukis, tak sejalan dengan keberadaan Pohon Khombouw yang makin langka. Beberapa kali usaha menanam pohon ini telah mereka coba, namun gagal.

Mereka tak ingin lukisan tradisional warisan leluhur, punah, hanya karena langkanya bahan dasar.

Begitu kisah si Lukisan Khombouw sebelum sampai di tangan ku.

Sudah saatnya sentuhan teknologi untuk membudidayakan tanaman ini, mulai dipikirkan, demi kelestarian si Pohon Khombouw.

NB : thanks Pak Polisi, sudah memberikan kenang-kenangan cantik ini kepadaku. Ketahuilah, lukisan ini cukup mengobati rinduku pada tanah Papua.

This entry was posted in Indonesia Negeriku, Zona Berbahaya and tagged , , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

4 thoughts on “Lukisan Khombouw, Oleh-Oleh dari Teman Lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s