Kasih tak Sampai [Kawah Ijen]

perjalanan menuju kawah

perjalanan menuju kawah

Lepas dari PT. Perkebunan Lijen kami masih harus menempuh perjalanan 17 kilometer untuk sampai di taman wisata kawah ijen. Ntah benar diukur atau tidak sepertinya kami melewati lebih dari jarak tempuh yang tertulis dengan kondisi terlempar-lempar didalam mobil. Sungguh tidak nyaman menuju lokasi wisata ijen dengan kondisi beberapa ruas jalanan di aspal dengan asal nempel atau dibagian lain rusak karena tergerus air. Bahkan ada satu tikungan yang menanjak dengan kondisi aspal-nya parah sekali. Pedal gas mobil harus diinjak sampai habis beberapa meter sebelum menanjak, dengan kondisi jalan yang jelek sekali mobil bisa saja kehilangan keseimbangan kemudian terpeleset. Untuk tempat (yang katanya) sebagus Kawah Ijen aksesibilitas seperti ini benar-benar tidak nyaman untuk wisatawan.

peta wisata Kawah Ijen

peta wisata Kawah Ijen

Sampai di rest point, teman semobil kompak menuju toilet. HIV [hasrat ingin vivis] yang sejak separo perjalanan ditahan karena tidak ada pom bensin atau mesjid dipinggir jalan selama perjalanan ke sini ditumpah ruahkan saat sampai. Paltuding marupakan “pintu selamat datang-nya” Kawah ijen. Rest point Paltuding berada di ketinggian 1850 mdpl (meter diatas permukaan laut). Di sini tersedia warung makan, satu pondok besar untuk wisatawan menginap, fasilitas toilet umum, dan pondok pengawas lingkungan kawah ijen.

Waktu menunjukkan pukul 3 sore saat teman-teman selasai dengan ‘urusan’ pribadinya. Di pinggir taman tertulis : “Kawah ijen 3 kilo” kemudian ada simbol tapak kaki yang artinya menuju ke Kawah dengan berjalan kaki. Belum terbayang sebelumnya arti 3 kilo yang sebenarnya, maka dengan semangat “coba dulu” kami mulai naik. Coba dulu kalau sampai ya syukur, tapi kalau tidak sanggup ya turun, begitu maksudnya. Jangan samakan Kawah Ijen seperti Gunung Tangkuban Perahu atau Gunung Bromo yang kawahnya bisa dinikmati sambil berkuda santai. 3 kilometer yang dimaksud adalah 3 kilometer menajak dan berliku-liku yang jika di proyeksikan dengan rata-rata kemiringan tanjakan sekitar 40 derajad maka panjang datar jalan sebenarnya bisa jadi lebih dari 5 kilometer.

Coba dulu…

berpapasan dengan penambang belerang

berpapasan dengan penambang belerang

Penurunan suhu yang signifikan membuat kami nyaman selama perjalanan. Semriwing angin terdengar menuruni pengunungan di sekitar Ijen, sekali waktu angin itu melewati kami membuat tubuh lebih dingin karena kami berkeringat, tapi kali lainnya angin menjauhi kami. Celoteh selama perjalanan naik sedikit meringankan perjalanan yang hampir selalu menanjak. Berkali-kali kami berhenti untuk mengatur nafas. Semakin lama frekuensi berhenti semakin sering karena tanjakan menikung semakin jahanam. Umur yang konon katanya mempengaruhi tenaga, pada kondisi ini benar-benar tidak ada bedanya. Yang muda dan yang tua sama-sama capeknya. Yang membedakan hanya nafsu. Yang muda sangat berhasrat menyaksikan pemandangan Kawah Ijen tak peduli waktu, sementara yang tua meskipun ingin dan lebih terengah engah tapi lebih bijaksana memperhitungkan waktu😀

Saat istirahat di titik-titik tertentu kami bertemu dengan gerombolan penambang belerang yang juga sedang beristirahat. Pertanyaan seberapa jauh lagi sampai di kawah pun terlontar, jawabannya “masih jauh” padahal sudah naik hampir satu jam. Sempat beberapa kali terpikir oleh teman-teman untuk turun saja, mengingat kami tidak siap peralatan untuk turun gunung saat gelap. Tapi ada seorang penambang yang menyarankan paling tidak kami harus sampai di Gedung Bunder, tidak jauh lagi, begitu katanya. Sugesti –sudah dekat- ternyata mampu memompa semangat yang tadinya mengendor. Perlahan tapi pasti akhirnya kami menemukan Gedung Bunder (yang ternyata tidak dekat sama sekali!).

pemandangan dari Gedung Bunder

pemandangan dari Gedung Bunder

Jika diperhatikan di sepanjang jalan naik, ada jalur turun penambang belerang yang dengan cerdasnya mereka buat sendiri. Jalan tanah sedikit dibasahi agar tanah menjadi kompak dan tidak licin saat mereka turun membawa beban yang sangat berat.

Gedung Bunder ternyata bangunan tua yang ntah tadinya apa, sekarang sudah tidak layak tinggal. Di bawah gedung bunder ada pondok yang menyediakan makan dan minum seadanya untuk para penambang belerang dan wisatawan yang beristirahat. Pondok ini biasanya digunakan penambang belerang Kawah Ijen untuk bermalam agar pagi buta besok mereka bisa langsung bekerja. Rutinitas.

Kami isitrahat, menghangatkan tubuh dengan secangkir teh panas dan pop mie. Obrolan ringan bergulir antara kami dan bapak-bapak penghuni pondok yang penambang belerang. Menurut mereka Kawah Ijen sudah dekat dan jalannya tidak sesulit sebelum sampai di Gedung Bunder. Mungkin trauma dengan frase –sudah dekat- teman-teman sudah sepakat untuk turun saja dan memutuskan perjalanan berhenti sampai di sini, karena matahari sudah terlalu condong.

Menurutku pemandangan di sini saja sudah cukup “indah”. Sejak di gerbang selamat datang kami sudah berpapasan dengan lelaki penambang belerang. Menyaksikan penambang belerang hilir mudik dengan keranjang penuh belerang. Aku jadi ingat pernah menonton tayangan televisi tentang mereka. Kawah Ijen kandungan belerangnya sangat tinggi sehingga dijadikan tempat tambang belerang skala lokal. Sebenarnya dengan sistem savety yang minim kegiatan tambang di Kawah ijen sangat berbahaya. Oksigen tipis dan bau belerang yang menyengat bisa membuat tubuh kehabisan oksigen. Hidung mereka hanya ditutup dengan kaos atau kain yang mereka pakai. Tapi yakinlah bahwa manusia adalah makhluk tercanggih yang diciptakan Alloh. Tubuh bisa beradaptasi dengan lingkungan, aku yakin tubuh mereka sudah biasa dengan kondisi seperti itu.

timbang belerang

timbang belerang

Sebelum turun ke tempat pengepul di bawah sana, belerang yang mereka ambil di Kawah Ijen ditimbang dengan timbangan besi. Satu keranjang beratnya bisa sampai 40 kg. Satu orang membawa 2 keranjang penuh belerang yang total beratnya bisa mencapai 60-100 kg melebihi berat mereka sendiri. Adalah seorang bernama Pak Buang, saat kami bertemu (mengganggu perjalanannya) dengannya dia menunjukkan sebuah kwitasi. Belerangnya sudah ditimbang, disana tertulis bruto 71 kg (berat total), tarra 4 kg (berat keranjang), dan netto 67 kg (berat bersih). Sementara itu kami ternganga melihat tulisan dibawahnya, ongkos @ Rp 600,-; jumlah ongkos : Rp 40.600,-. Nasib.

Hari ini kami harus puas hanya sampai di Gedung Bunder pada ketinggian 2214 mdpl. Berhenti di patok ke-21 menuju Kawah Ijen. Kami merelakan 11 patok sisanya. Sampai berjumpa lagi Pak Buang, di Kawah Ijen, insyaalloh.

🙂

Konon Kabarnya kawah ijen berntuknya seperti ini

Konon Kabarnya kawah ijen berntuknya seperti ini

NB : Kawah Ijen berada pada ketinggian 2386 mdpl.

This entry was posted in Indonesia Negeriku and tagged , , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s