Cerita di Indramayu

kultum field spectrometry

kultum field spectrometry

Hari berikutnya kami sudah siap ‘perang’ di Indramayu. Cuaca cerah dengan kabut tipis dilangit, cukup pas (dan panas) untuk mengukur. Sesuai dengan ramalan cuaca weather.com.

Target pengukuran masih sama, padi varietas ciherang yang ber-OPT. Di sini kita tinggal melengkapi data yang kurang. Kenapa sih harus pindah tempat ? Menurutku ini dilakukan untuk memperkaya variasi kondisi padi ciherang di tempat yang berbeda. Mungkin aja tanah beda dan perlakuan beda menyebabkan tumbuh tanaman jadi beda nilai spectral-nya jadi beda. Meskipun kurasa perbedaannya tidak akan signifikan.

Berdasarkan laporan pengamat OPT, serangan BLB dan BRS pada padi ciherang di Indramayu relatif lebih sedikit daripada di Karawang. Kami mendapatkan lokasi yang ‘bagus’ untuk ngukur diperbatasan Kabupaten Indramayu dan Cirebon, namanya Desa Srengseng. Di lokasi ini serangan yang paling banyak adalah BRS pada padi fase pematangan (ripening).

Belum jam 10 pagi tim sudah tiba di lokasi. Untuk mengisi waktu sampai jam 10 kami melakukan kursus singkat tentang pengukuran spectral pada bapak ibu dari Dinas Pertanian dan BBPOPT yang sedari kemarin ikut tim nyempung di sawah milihin daun padi yang sakit. Saling tukar ilmu🙂

Jam 10 tet tim turun ke sawah. Hari ini berarti sudah hari ke-3 kami di lapangan, tiap orang sudah ‘terbiasa’ dengan tugasnya masing. Siapa ngapain, megang apa, semua sudah ada orangnya sendiri-sendiri🙂. Pengukuran sesi pertama berjalan lancar. Alat oke, cuaca bagus, tim kompak. Sesi pertama berakhir karena batre PC tablet habis. Saatnya rehat sejenak meneguk air putih dan orange juice segar sambil perut diganjal roti. Lupakan makan siang dulu karena cuaca sedang ‘bersahabat’ untuk mengukur. Setelah dirasa cukup, alat kembali diset. Nah, muncullah masalah ‘baru’. Tiba-tiba kurva pantulan spectral objek tidak ‘normal’ seperti biasanya padahal sebelum ganti laptop semuanya baik-baik saja.

kurva spctral daun ber-OPT

kurva spectral daun ber-OPT

Segala cara dilakukan untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Mulai dari ngutak-ngatik pengaturan pengukuran di software, mengganti kabel koneksi spectrometer ke laptop, mengganti collimating lens spectrometer, mengganti dengan spectrometer lain, sampai mengganti laptop dengan yang kupakai ini hasilnya nihil. Bentuk kurva tetap aneh, bernilai negatif disetiap panjang gelombang 400-500 nanometer dan 800-900 nanometer. Padahal daun tumbuhan paling tinggi pantulannya pada panjang gelombang tersebut. Serendah-rendahnya, apabila daun itu sakit kurasa nilai pantulan spectralnya tidak akan sampai dibawah angka 0. Bentuk kurva yang ga normal ini tidak hanya pada daun saja, tapi ketika tidak merekam objek apa-apa kurva dasar-nya tetap negatif. Akhirnya tim memutuskan untuk mengakhiri pengukuran hari ini sambil menuju lokasi berikutnya, yaitu warung makan!.

Ternyata posisi lebih dekat ke Kota Cirebon dari pada Kota Indramayu. Jadilah tujuan makan siang adalah empal gentong Ibu Darma di Krucuk, Cirebon. Kami tiba tepat waktu, karena setelah kami duduk pagar warung mulai digeser tanda makanan habis. Kali ini lupakan dulu sawah, nikmati empal gentong-nyah. nyam nyam nyam.

empal gentong Ibu Darma

empal gentong Ibu Darma

Selesai di empal gentong, sore itu juga kami kembali ke penginapan di Indramayu untuk ngecek kondisi alat (lagi). Rangkaian spectrometer dan PC disusun kembali sebagaimana biasanya. Matahari sudah mulai tenggelam tapi cahaya diluar masih cukup untuk coba alat. Setting alat dan parameter ukur, kemudian tutup collimating lens dibuka. Hasilnya, jreng!! kurva kembali normal tanpa cacat dibagian manapun. Spectrometer dihubungkan dengan laptop lain pun hasilnya sama normalnya. Aih..membingungkan, bagaimana bisa ? Ya sudah, semoga saja siang besok sama normal dengan sore ini.

Malam hari saatnya keluar menikmati pesona kota sembari ‘berburu’ makan malam. Dari siang pas di lapangan udah kebayang makan ikan bakar akhirnya terpenuhi juga. Pergilah kami ke tepi pantai Balongan. Nikmatnya kerapu bakar, udang, dan cumi tiada tara (kalo sedang lapar). Angin laut sepoi-sepoi membelai pipi kami yang memilih duduk di saung. Sedang khusuk menikmati ikan angin laut yang awalnya sudah kencang jadi makin kencang. Kukancingkan jaket sambil terus menghabiskan makananku.

menikmati malam @ Pantai Balongan

menikmati malam @ Pantai Balongan

Suara angin mulai seram. Teman-teman mulai saling melirik, saling memperhatikan gerak gerik satu sama lain, membatin apa yang harus dilakukan, terus makan ataukah menyelamatkan diri. Para Ibu terlihat cemas, mungkin terbayang suami dan anak di rumah. Yang lelaki mencoba menurunkan tirai bambu untuk melindungi saung. Tapi angin makin lama makin kencang sampai sanggup menerbangkan tutup gelas dan piring lepeh sambal di meja. Sepertinya ada badai di tengah laut sana.

to be continued… <Menyelamatkan Diri>

<sambungan dari bagian 1 : Sidik Padi ber-OPT>

One thought on “Cerita di Indramayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s