Klasifikasi vs Sampah

ah ternyata..

ah ternyata..

Akhirnya tadi berkesempatan juga nongkrong di kantin kampus lagi. Selagi mengisi isi perut sembari ngobrol dg teman-teman, mata ini menangkap keganjilan ‘perilaku’ tukang sampah.

Inget ga postingan tentang tempat sampah warna-warni di kampusku? Ini nih yang ini.. klik

Tempat sampah itu di-hadir-kan harusnya untuk memudahkan pemilahan sampah di TPS dengan tingkat akurasi yang tinggi, bukan begitu ? *ups maaf terbawa suasana skripsi*. Tapi pada prakteknya, pengumpulan  sampah-sampah itu oleh petugas, ternyata kembali dijadikan satu di gerobak sampah, itu tuh yang ada di foto. (lho?)

Aku dan teman-teman yang melihat kejadian itu jadi heran. Kalau gitu, ngapain kita repot-repot membuang sampah pada ‘tempatnya’, lha wong abis itu dicampur lagi.

Nah, kejadian ini ‘mirip’ seperti masalah yang kutemukan dalam skripsiku.

tanya kenapa ?

Yang kulakukan adalah menerapkan teknik klasifikasi linear spectral unmixing (LSU) pada citra satelit. Teknik klasifikasi digital dengan citra satelit mengandalkan nilai pixel (picture element) dalam proses pengenalan objek. Teknik klasifikasi multispektral konvensional (selain LSU),  hanya dapat mengkelaskan 1 pixel untuk satu objek saja. Sedangkan secara teori, dalam satu pixel citra itu sangat mungkit terdapat ‘banyak’ objek. Nah, teknik klasifikasi LSU telah mampu mengklasifikasikan variasi objek dalam satu pixel citra.

Trus apa hubungannya dengan sampah ?

Begini, secanggih-canggihnya teknik klasifikas LSU tetap saja hasilnya harus diuji tingkat akurasinya dengan citra yang (dianggap) lebih detil. Disini kutemukan masalah. Citra yang (dianggap) lebih detil kuperoleh dari pengolahan klasifikasi multispektral konvensional, namun pada citra yang resolusi medannya detil dari pada citra yang kulakukan pada LSU. Aku menggunakan citra dg resolusi medan 250 meter untuk klasifikasi LSU, sedangkan sebagai penguji dengan teknik konvensional aku gunakan citra dg resolusi medan 15 meter. Secara teori ini ‘boleh’ dilakukan dg anggapan bahwa ketelitian hasil klasifikasi masih dipegang oleh citra yang resolusi medannya tinggi (15 m).

Ternyata proses membandingkan akurasi hasil LSU dengan teknik konvensional dengan software yang kugunakan menghendaki bahwa citra hasil klasifikasi LSU yang telah terpisah-pisah untuk tiap objeknya, harus dijadikan dalam satu citra saja. Berarti nanti objek dalam 1 pixel yang sudah terpisah-pisah di-reklasifikasi menjadi 1 objek saja dalam 1 pixel. Disini, objek yang keberadaannya minoritas akan tergusur kelasnya oleh objek yang mayoritas. Ada tetapi tiada. Nah, kejadian ini yang menurutku ‘mirip’ dengan kejadian angkut sampah tadi.

Kita sudah repot-repot memisahkan ‘sampah’ tapi ternyata ‘sampah’ itu dijadikan satu lagi.

Bah! tanya kenapa (lagi) ?

: D

This entry was posted in Remote Sensing & GIS and tagged , , , , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

5 thoughts on “Klasifikasi vs Sampah

  1. coba liat lg itu tukang sampah dari PU bukan?
    yg make baju tugas klo ngangkut smpah ituloh.
    klo mereka psti di bawa ke TPA yg bener.
    nah klo tukang sampah serabutan kyk itu?
    mana dia ngerti ttg klasifikasi sampah, wong ntar sampah yg dia bawa jg dibuang ke sungai deket rumahnya.
    selamat datang di indonesia!!
    tanya kenapa??

  2. @senimanpeta : ditemani Jensen ya Mas? hehe..

    @ sondi :ya paling tu abang2nya berasal dari lingkungan kampus ko. ndak pake seragam tuh, cuma pake baju😀

  3. tidak bisa disalahkan tukang sampahnya, karena menjadi tukang sampah bukanlah sebuah profesi. karena itu mereka bekerja tidak profesional. coba tukang sampah mendapat bayaran yang sama dengan UMR Jakarta misalnya, kemudian dapat uang jabatan, uang radiasi dll. pasti kerjanya profesional.

  4. ya memang ga nyalahin tukang sampahnya mas. yang harusnya mengerti ttg ini itu adalah “Bos”nya tukang sampah. kalau perintahnya “dicampur” maka si tukang sampah akan mencampurkan sampahnya, tp kl perintahnya “pisahkan” maka si tukang sampah pasti akan membawa serta beberapa gerobak sampah, kan?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s