Libur `tlah Tiba (part 2)

Minggu Pagi : Keliling Kraton Solo

kebo bule

kebo bule

Masih jam 8.30 ketika kami masuk area Kraton. Loket masuk kraton baru buka jam 10, jadi kami hanya berkeliling dari alun-alun selatan ke utara. Di alun-alun selatan ada kandang kebo bule. Ini kebo bukan turis yang lagi main-main ke Solo, tapi memang ‘warga asli’ Solo. Seperti Gajah putih di Thailand, kerbau ini juga jenis hewan minim pigmen. Jadi warna kulitnya putih. Sepertinya sih salah satu hewan yang diskralkan di tempat ini. hm..

Perjalanan kami lanjutkan keluar area kraton untuk mencari warung makan. Karna minim local knowledge Kota Solo jelas kami tak punya banyak pilihan tempat makan yang enak apa dan dimana. Apa boleh buat, perut sudah meronta warung makan sop pinggir jalan pun jadi sasaran.

Sehabis makan kami menuju Kraton Solo (lagi) berharap loket sudah buka. Ternyata belum juga, sebentar lagi katanya. Waktu senggang ini kami manfaatkan untuk berfoto. Rara, Sofi, dan Fahmi udah duluan berfoto di sini karna mereka udah duluan ke sini pas mama dipijit tadi pagi (cerita sebelumnya).

Aku baru pertama kali ke Kraton Solo. Suasananya ga jauh beda dengan Kraton Jogja hanya saja di sini gak seramai di Jogja.

Gak lama kemudian pemandu atau sebutannya abdi dalem Kraton menghampiri kami yang sedang berfoto, menawarkan diri memandu perjalanan kami ke dalam Kraton. Oh rupanya, loket sudah buka. Di depan pintu masuk kami digabung dengan rombongan lain.

tanpa alas kaki

tanpa alas kaki

Pertama kali masuk selasar Kraton abdi dalem menunjukkan Silsilah Dinasti Mataram yang tidak lain adalah silsilah keturunan Raja Pakubowono (PB). Trus kami dibawa masuk ke halaman hall centre Kraton lewat pintu besar dan tinggi. Hall centre itu tempat acara-acara penting Raja atau upacara Kraton di adakan. Sebelum masuk ke halamannya kami diminta mematuhi aturan Kraton, diantaranya : melepas alas kaki, tidak memakai topi, tidak boleh bercelana pendek dan berkaus you can see, tidak makan dan minum di dalam areal ‘suci’nya mereka. Jadinya pengunjung masuk ke halaman tanpa alas kaki.

pose di depan hall Kraton

pose di depan hall Kraton

Hall berada ditengah halaman. Seluruh halaman diarea ini ditutupi pasir dari pantai selatan yang sudah dimantrai, katanya dapat mengobati penyakit reumatik, ginjal, dan apa gitu aku lupa. Trus juga kalau kita jalan diatas pasir ini kaki kita gak akan kotor, pasir hitam berkilaunya mudah dibersihkan hanya dengan menyapunya pake tangan atau dibersihkan dikeset.

Ada kepercayaan jika segenggam pasir dari sini dibawa pulang trus ditaro di depan pagar rumah, niscaya apa yang kita lakukan akan diberi kemudahan, atau kalau kita pengusaha/pedagang niscaya usaha kita akan sukses. Kalau mau mengambil pasir untuk berkah, harus ijin dengan petugas Kraton dan mengganti mahar terhadap pasir tersebut (kalau gak salah denger) sejumlah 2,5 juta. Tapi kita diminta tidak “mencuri” pasir dari sini, karna akibatnya akan digerayangi yang ‘punya’ pasir. serem ah.. Silakan dicoba sendiri. Hati-hati musyrik lho..

souvenir dari Vatikan

souvenir dari Vatikan

Trus kami jalan lagi mendekat ke hall. Menariknya dibeberapa tiang hall terdapat patung wanita-wanita yunan yang asalnya dari Vatikan. Lho ko bisa ?? Singkat cerita Raja PB X melakukan perjalanan lintas negara dengan kapal laut, kemudian sampai lah beliau di negri Vatikan. Dari sini beliau lantas menerima doktrinasi agama kristen. Sejak saat itu masuklah 5 agama di Kraton Solo, Islam, Hindu, Budha, Kristen, dan Katolik. Sebagai kenang-kenangan atas perjalannya maka patung-patung tersebut diberikan untuk dibawa pulang Sang Raja.

Selama menjelaskan tentang dari mana pasir ini berasal dan lain lain disela-selanya si abdi dalem menyinggung tentang upah yang diberikan Kraton kepada para abdi dalem. Ntah mengeluh atau membuat iba, beliau secara tidak langsung meminta kami memberi tip kepadanya. Kurasa jika beliau memandu dengan baik, membuat turis yang dipandunya puas maka sebagai ucapan terima kasih tanpa diminta pun tip akan diberikan. Bukan begitu ?

Setelah berfoto di depan hall kami kembali ke pintu masuk sekaligus pintu keluar tempat kemi melepas alas kaki. Perjalanan dilanjutkan ke ruang museum Kraton. Ada 2 bangunan serupa. Bangunannya panjang sekali. Tiap ruangan di dalam bangunan disekat tembok tapi tak berpintu. Tiap ruangan diisi berupa-rupa bentuk peninggalan Kraton.

Ruang pertama yang kami masuki adalah ruang lukisan. Yang paling besar adalah lukisan Raja PB X dan Permaisurinya. Kalau perhatikan dari beberapa sudut pengamatan, mata permaisuri dilukisannya tampak mengikuti arah gerakan kita. Kalau kita di kiri matanya juga kekiri, kalau kita ke kanan matanya juga ke kanan. Seperti teknik 3 dimensi. Tapi ini dilukisan. Di Kraton Jogja juga ada lukisan Raja-nya yang seperti ini. Kata abdi dalemnya lukisan ini dibuat oleh orang sakti pada jamannya, dimantrai agar bisa seperti itu. Hm..

di ruang kereta

di ruang kereta

Hanya sampai di ruang lukisan kami dipandu abdi dalem. Setelah itu kami jalan-jalan sendiri ngiter museum. Sampailah kami diruang kereta. Ruangan ini sepi, hanya ada 1 abdi dalem yang nungguin. Longok sebentar, ih menarik juga, trus kami mengambil posisi didepan kereta untuk berfoto. Eh tau-taunya dengan bahasa yang kurang jelas si abdi dalem yang jagain kereta ngambil kameraku, mungkin maksudnya “biar saya yang fotoin”. Aku pasrah aja, kamera kuberikan padanya. Pengaturan kamera dipasang automatis saja untuk mempermudah si abdi dalem mengoperasikan kamera. Ruang minim cahaya, ditangan kameramen yang gak profe, gak yakin deh hasilnya. Pas diliat hasil fotonya emang begoyang semua. hm..

Kami jadi bingung, beliau ngatur-ngatur dengan tangan posisi kita, trus Fahmi dipinjemin blangkon untuk dipake. Trus begitu kami digiring dari kereta satu ke kereta lain untuk difoto padahal gak diminta. Udah dirasa cukup kita disuruh keluar dari pagar kereta trus beliau dengan bahasa yang kurang jelas (lagi) minta upah 10 ribu rupiah. Jah..abdi dalem yang aneh.

Kenapa ya abdi dalem disini pada berani minta uang sama pengunjung, gak seperti di Kraton tentangga.

Acara di Kraton berakhir sudah, kami melanjutkan perjalanan ke Tawang Mangu.

Bersambung..

This entry was posted in Cerbung, Family, Indonesia Negeriku, Liburan Sekolah and tagged , , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s