Terkatung-katung di Ular Besi

milik PT. Kereta Api Indonesia

milik PT. Kereta Api Indonesia

Jika tidak dalam kondisi buru-buru, perjalanan antar kota se-Jawa lebih senang kulakukan dengan berkereta api. Tinggal di Jogja adalah suatu keuntungan tersendiri untukku. Bertemu ayah bunda tidak melulu mesti nyebrang pulau. Sering kali kita sepakat untuk bertemu di Jakarta atau beberapa kali di Surabaya atau Semarang, biasanya dibarengi dengan acara tertentu di Kota tersebut. Karena posisinya nyaris di tengah pulau, jadi jarak dan waktu tempuh ke Barat (Jakarta) maupun ke Timur (Surabaya) relatif sama.

Selama berkereta api dengan kelas bisnis dan eksekutif, belum ada keluhan yang berarti mengenai kenyamanan si ular besi. Satu-satunya perjalanan dengan kelas ekonomi yang kulakukan yaitu jurusan Jogja-Kroya dalam rangka jalan-jalan dengan teman-temanku 2005 silam. Itu juga tidak ada yang harus dikeluhkan selain asap rokok. Perjalanan masih bisa dinikmati juga mungkin karena jaraknya tidak terlalu jauh. 2,5 jam kurang lebih.

Tidak ada keluhan yang berarti sih bukan berarti perjalanan tak “bercerita” sama sekali. Nah suatu ketika di bulan November 2008 saat harus kembali ke Jogja dengan KA tentu, seperti biasanya aku selalu beli tiket kereta sehari atau beberapa hari sebelum hari keberangkatan (jika perjalanan direcanakan). Tiket sudah ditangan Kereta Api Sancaka, kelas eksekutif, gerbong 3 no 6A, kuingat baik-baik.

pengamen panggung di Sts.Gubeng

pengamen panggung di Sts.Gubeng

Tiba di Stasiun Gubeng 30 menit sebelum berangkat, aku masuk kedalam ruang tunggu dengan santai sembari menikmati sajian live music dari pengamen di panggung. Sempat kagum melihat pertunjukan itu, pagi-pagi buta begini sudah tarik urat untuk menyanyi. Sudah itu aku standby di ruang tunggu terbuka penumpang. Keretaku belum datang, jadi kusempatkan membaca koran. Saking seriusnya membaca koran sampai-sampai tidak sadar ada sebuah pengumuman penting dari pihak KA Sancaka.

Tidak lama, kereta datang langsung diserbu penumpang termasuk aku. Karna tidak mendengar pengumuman gerbong berapa dimana, jadi aku masuk disembarang gerbong. Tanya sana sini, kebetulan aku sudah masuk digerbong 3. Sip dah tinggal cari kursi. Aku menemukan kursiku nomer 6A trus aku duduk sambil bertanya-tanya : kok kelas eksekutifnya seperti kelas bisnis ya ??

Belum selesai tanyaku, tau-tau ada beberapa orang datang tampak ribet dengan bawaannya bertanya padaku “kursi berapa, mbak ?”. Sembari kutunjukkan tiketku Kujawab “6A”. Trus diliat oleh salah satu diantara mereka, “oo ini (tiketku) kelas eksekutif di gerbong depan sana, mbak“. Ups!

Dengan segera ngibrit karena malu juga salah duduk ditempat orang. Pertanyaanku terjawab sudah.

Belum selesai lega ku karna salah duduk ternyata dikelas bisnis bukan eksekutif, muncul lagi pertanyaan baru : dimana gerbongnya ya… Karena aku sudah sampai di gerbong paling akhir tapi kursi 6A sudah diduduki orang.  Kali ini sudah benar gerbong eksekutif. (doh)

Jadilah aku mondar mandir tampak bodoh dari gerbong satu ke gerbong lain. Baru kusadari bahwa gerbong kelas eksekutifnya hanya 2 dan kursi nomor 6A selalu milik orang lain, bukan milikku. Berkali-kali kulihat tulisan yang tertera di tiketku, memastikan bahwa aku tidak salah naik kereta karena perlahan-lahan kereta mulai bergerak. Mulai panik di putaran bulak balik ke-2 ku. Hah aku duduk dimana, sementara kursi hampir penuh terisi. Sudah benar-benar panik yang pura-pura ditenang-tenangkan.

Untungnya diputaran ke-3 mundar mandirku aku berpapasan dengan kondektur tiket kereta. Ditelitinya tiketku, trus dia bilang “kereta ini cuma bawa 2 gerbong eksekutif mbak, yang satunya barusan rusak”. “Trus saya duduk dimana Pak ?”, “tadi gak denger pengumuman untuk konfirmasi tiket gerbong 3 ya?”. Trus aku ditinggal, melongo.

Bah!

Akhirnya kuputuskan menuju kereta makan untuk duduk disana sambil dalem ati nyumpah-nyumpah “sial!!”. Gara-gara berita banjir dimana-mana menyumbat telinga kanan kiriku sampai-sampai informasi penting itu terlewat begitu saja. Sekali lagi, “sial!”

Tapi… ditengah kegundahgulanaan hati, bintang keberuntungaku tetap bersinar, tidak terang sih..tapi cukuplah menerangi buruk-ku. Datanglah seorang bapak yang mulia hatinya pada ku : “mbak, duduk disini  saja (nunjuk disampingnya), kebetulan teman saya ndak jadi berangkat karena ada urusan lain”. Alhamdulillah. Selesai sumpah serapahku😀

Kubayangkan jika tidak ada si bapakyangmuliahatinya, aku harus nomaden mondar mandir kalau diusir dari gerbong makan sepanjang 8 jam perjalanan Surabaya-Jogja. Merana.

Satu lagi pesan moral yang bisa kupetik : Jangan baca koran di ruang tunggu.

Begitulah ceritanya. Setidakenaknya pengalaman berkereta tapi tidak sampai membuatku kapok naik si ular besi. Paling tidak kereta merupakan tetap pilihan utama karena murah meriah😀 Kalau keamanan sih ya aman aman aja, tetap harus waspada dengan barang bawaan.
Sekedar informasi, jika ingin berkereta api, coba cek dulu jadwal kereta anda disini
Selamat bepergian (bye)🙂
This entry was posted in Indonesia Negeriku and tagged , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

4 thoughts on “Terkatung-katung di Ular Besi

  1. tips naik KA:
    1. pastikan yg supir/ masinis memakai topi dkepala. jika memakai handuk d leher berarti Lisa naek metromini.
    2. jika duduk didekat pintu darurat, tanyakan kepada pramugari bgmn cara membuka pintu darurat. jangan pula segan bertanya bagaimana cara memasang dan menggunakan pelampung keselamatan.
    3. hati2 jika membeli tiket pada calo, pastikan jika anda menerima tiket yg tepat karena calo juga menjual tiket pesawat, bis, konser band, dan voucer hp
    4. ketika turun dari kereta, gunakan kaki kiri terlebih dahulu, jangan dengan telinga kiri (sakit atuh pake telinga)
    5. ketika lisa pergi ke surabaya (timur) trs ad penjual yang menawarkan telur asin. segeralah turun karena lisa salah masuk kereta karena anda beraada di daerah brebes-purwokerto. begitu pula jika pengen k bandung/jakarta tp ditawarin rujak cingur, berrti salah jalur.
    6. segera lah turun jika semua penumpang yang anda temui memakai baju putih, dan bermuka pucat.
    7. jangn ragu untuk mengingatkan masinis jika menerobos lampu merah atau menyalib kendaraan lain dari sebelah kiri demi keselamatan bersama.
    8. demi keselamatan, gunakanlah sabuk pengaman selama perjalanan. jika tidak disediakan, silahkan meminta ke bagian resepsionis kereta.
    9. gunakan helm standar, jangan helm kerupuk

    to be continued…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s