Menyelesaikan Sampah ala Dusun Sukunan

Suka atau tidak suka kita selalu berhubungan dengan sampah. Kecil sekalipun. Ketika sudah “diamankan” di tempat pembuangan akhir tetap saja timbul masalah : Sampah itu mau diapakan? Nah, kalau diperhatikan, alur penanganan sampah saat ini baru sebatas : kumpul – angkut- buang. Kalau dibiarkan menumpuk pasti menimbulkan bau dan mengganggu pandangan mata, kalau dibakar lebih mengganggu lgi juga bahaya bagi yang menghirup asapnya. Sampah yang menumpuk bertahun-tahun akan menyebabkan air yang berporkolasi ke dalam tanah tercemar.

Belajar dari Dusun Sukunan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Sleman, DIY yang sudah berhasil mengelola sampahnya dengan baik hingga “hasil”nya pun turut dirasakan masarakatnya. Dan dijadikan dusun percontohan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat.

Apa sih yang melatarbelakangi Dusun Sukunan susah-susah mengelola sampahnya?

Yaitu pengakuan dan keluhan warganya terhadap tumpukan sampah yang mereka hasilkan sendiri dirasa sangat mengganggu. Biasanya sampah rumah tangga mereka bawa ke sawah atau dipekarangan belakang rumah mereka untuk di kubur. Tapi ketika sudah tidak ada lagi lahan kosong untuk dibuat jugangan sampah, maka sampah-sampah tersebut akan dibakar, yang mengakibatkan keluhan gangguan kesehatan. Sehingga kemudian oleh beberapa warga yang peduli akan lingkungan dan masyarakat kampung munculah pikiran untuk mengelola sampah mereka. Tapi bagaimana caranya?

Akhirnya melalui proses belajar panjang dari berbagai sumber baik buku maupun mengamati langsung di tempat pembuangan akhir munculah rumus pengelolaan sampah berbasis gerakan 3R dusun sukunan, yaitu : Reduce, Reuse, dan Reclycle.

  • Reduce : mengurangi timbunan sampah
  • Reuse : memanfaatkan barang bekas
  • Recycle : mendaur ulang sampah

Yang bertujuan untuk meminimalkan jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan (air, tanah, udara) serta memaksimalkan nilai dan potensi sampah sehingga dapat didayagunakan kembali oleh masyarakat.

Sasarannya siapa dan apa jawabannya adalah masyarakat kampung itu sendiri. Sampah dikelola dan diselesaikan oleh penghasil sampah sendiri (masyarakat : skala individu dan kelompok) secara baik dan benar tanpa tergantung pada dana pemerintah bahkan mendatangkan keuntungan untuk mereka sendiri.

Bagaimana mekanisme pengelolaan sampah Dusun Sukunan ?

Alur Pengelolaan Sampah ala Sukunan

Alur Pengelolaan Sampah ala Sukunan

Sumber gambar : Sosialisasi Pengelolaan Sampa Terpadu Contoh Dusun Sukunan (KKN UGM Hargobinangun 2008)

Penanganan Sampah Organik

Penanganan sampah organik ditujukan pada pembuatan kompos mandiri. Pembuatan kompos ini dilakukan pada tiap rumah tangga dan tiap Rukun Tetangga (RT) kampung. Prosesnya sangat mudah, murah, serta bermanfaat.

Sampah dapur (rumah tangga)

Sampah dapur tiap rumah diselesaikan dirumah masing-maisng. Tiap rumah diberikan 2 buah gentong yang tujuannya untuk dipakai bergantian tiap kali gentong penuh. Gentong yang akan dipakai sebelumnya sudah dibolongi bagian bawahnya.

membuang sampah dapur kedalam gentong untk bahan kompos

membuang sampah dapur kedalam gentong untk bahan kompos

Pada layer pertamapaling bawah gentong diisi kerikil, layer berikutnya gentong diisi sedikit kompos yang sudah jadi atau sampah yang sudah hampir menjadi kompos. Tujuannya untuk mempercepat pembusukan. Sampah dapur dipisahkah dan dikumpulkan didalam gentong 1. Satu atau dua kali seminggu isi gentong diaduk agar proses pembusukan merata dan optimal. Jika diberi akselerator pembusuk berupa inokulen maka kompos dapat dipanen dalam waktu 2-3 bulan. Tapi jika tidak, panen kompos baru bisa dilakukan sekitar bulan ke-6. Nah, jika gentong 1 sudah penuh maka proses pembuatan kompos pindah digentong ke-2 sambil menunggu panen kompos di gentong pertama. Begitu berselang seling gentong satu dan dua.

Hasil kompos produk rumah tangga biasanya mereka pakai sendiri untuk sawah mereka atau jika kelebihan mereka bisa menjualnya ke koperasi dusun yang khusus mengurusi kompos.

NB : Jumlah sampah dapur rumah tangga tentunya akan berbeda dengan dapur usaha (catering).

Sampah pekarangan (RT)

Sampah pekarangan seperti (kebanyakan) dedaunan kering disatukan pada bak besar yang ditepatkan strategis di tiap RT untuk diolah menjadi kompos juga. Proses pengolahannya hampir sama dengan kompos dapur. Tetapi kali ini sebagai “kompos jadi” pada layer pertama diisi oleh kotoran hewan.

Hasil kompos dijual ke dusun untuk didistribusikan ke pasar. Dan hasil penjualannya dikembalikan pada kas RT. Hasil penjualan yang terkumpul di kas RT digunakan lagi untuk mengolah sampah dan untuk upah angkut sampah. Dengan alur seperti itu, warga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengelola sampah mereka. (mungkin iya diawal pengelolaan sampah terpadu ini).

tempat penampungan sampah pekarangan RT

tempat penampungan sampah pekarangan RT

Penanganan Sampah Non-Organik

Tugas tiap rumah tangga yaitu memisahkan sampah plastik, logam dan kaca, serta kertas kemudianmembuangnya ke tong-tong sampah sesuai jenis sampah yang telah disediaan dusun untuk dikekola lebih jauh. Sampai sini tugas rumah tangga selesai.

Sampah sampah ini akan dibawa ke tempat pengumpulan sampah sementara dusun untuk dipilah mana yang masih dapat dijual mana yang tidak laku dijual. Hampir semua sampah non-organik laku dijual ke pengepul kecuali : Styrofoam, bekas pembalut/pempers, dan bungkus makanan yang berlapis alumunium foil. Jadilah tumpukan sampah di tempat pembuangan sementara dusun susut banyak tingginya. Sampah yang tidak laku dijual ini oleh dusun diolah menjadi ‘barang’ lagi kecuali bekas pembalut yang sampai saat ini tim pengelola sampah dusun belum tau bagaimana cara mengolahnya. Ada yang punya saran?

Styrofoam hancurkan menjadi bulk atau bubur untuk diolah menjadi pot dan batako yang dicampurkan dengan semen dan pasir (dengan takaran tertentu).

pot bunga dari styrofoam

pot bunga dari styrofoam

Bungkus makanan yang berlapis alumunium foil (dengan syarat tertentu) disulap menjadi pembungkus berbagai accessories dengan memberdayakan ibu-ibu PKK.

berbagai kerajinan dari 'sampah'

berbagai kerajinan dari "sampah"

Dengan demikian, sampah yang akhirnya terpaksa dibuang dari kampung hanya sedikit. Paling tidak kampung ini sudah berusaha mengurangi tumpukan sampah di TPA Piyungan (untuk wilayah DIY). Dan hasil yang sekarang didapat dusun sukunan dari mengelola sampah tidak terlepas dari perjuangan dan kesadaran masyarakatnya untuk bersih dan cinta lingkungan. Kata pak Suharto (warga) “butuh kerja keras 3 bulan untuk sosialisasi kepada masyarakat untuk pekerjaan ini”, dan “butuh setahun lebih untuk dusun ini benar-benar melaksanakan apa yang kita mau secara perlahan”.

Memang sudah dijelaskan juga dalam Al Quran kan kalau tidak ada hal yang diciptakan Alloh sia-sia. Tinggal bagaimana manusia berpikir untuk memanfaatkan sesuatu menjadi sesuatu. Inilah sebagaian hasil berbagi kami dengan warga Dusun Sukunan. Kapan dong kampungmu mulai membereskan sampah sendiri??🙂

29 thoughts on “Menyelesaikan Sampah ala Dusun Sukunan

  1. menarik sekali Lis. tahapan yang berat adalah mengubah kebiasaan sehari-hari, dan juga menjaga semangat untuk selalu hidup bersih (kerennya: manajemen mengatasi sampah berkelanjutan).
    : )

  2. Bener banget pak hartanto.

    Ceritanya biar warga semangat, tim ‘sampah’ dusun mengadakan lomba2 utk seluruh kalangan msyrakat.
    Lomba mural di tong sampah (biar org2 bergairah buang sampah ditempatnya gt) di tembok2 kampung jg dilukis ttg memilah sampah, trus ada lomba cepet2an memisahkan 3 jenis sampah, trus jg lomba kreasi kerajinan olahan sampah plastik utk ibu2 pkk.

    Seru yah🙂

    Panitianya aktif dan gigih. Jg warganya kooperatif, semua mau maju. Jadi hasilnya jg sip

  3. hai farid, kebetulan tema program utama kkn adl pengelolaan sampah terpadu. Kkn ku baru merintis mengelola sampah di dusun Jetisan, Pakem.
    Nah, sosialisasinya kt undang org2 dr dusun sukunan yg kampungnya udah berhasil menerapkan pola ini.
    Jd mereka itu bagi2 ilmu gt deh..🙂

    Iya ya ulan, kpn kampung kt mulai seperti mereka ya..hehe..

  4. emang susah banget..perubahan perilaku masyarakatnya aja butuh 2 tahun…
    yaeh..berkat peran para bule juga seh dari australia yg membuat para penduduk sukunan jadi malu..bule aja sadar sampah masa mereka gak bisa.

    kesannya disana…hidup pak Iswanto…!!!!!
    (Dosen Kesling dari Poltekkes Yogya yg mempelopori desa sukunan ini)

  5. saya sangt tertarik dengan sistem pengelolaan sampah di dusun sukunan yang berbasis masyr, gmn cara mngubah kbiasaan masyr yg membuang sampah sembrangan???????

    • mbak iin, tu yang menjadi msalah kita semua. tidak hanya butuh program yang matang untuk membuat lingkungan jadi bersih, tapi persepsi masyarakatnya harus terlebih dahulu diubah menjadi lebih “menguntungkan” apabila membuang sampah pada tempatnya

  6. Pot Bunga atau Vas Bunga – Pot Bunga atau Vas Bunga Kami Menyediakan Vas Bunga Atau Pot Bunga Dengan Berbagai Macam Motif dan Ukuran yang dibuat dari Tangan-tangan Terampil dan Ahli dalam Bidangnya Sehingga Menghasilkan Barang Dengan Kualitas yang Sangat Memuaskan. Berikut Contoh Pot atau VAs Bunga Dalam Berbagai Bentuk,Motif Dan Ukuran :

    Kami Menyediakan Vas Bunga Atau Pot Bunga Dalam

    • kebetulan waktu itu materi KKN saya salah satunya pengelolaan sampah, kemudian kami mencari referensi, ternyata Ds.Sukunan sudah berhasil mengelola sampah, maka saya dan teman-teman mengundang narasumber dari Ds.Sukunan utk sosialisasi di dusun KKN saya. Tulisan ini sebagian dari yang diceritakan oleh narasumbernya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s