Warta gagal di Borobudur

Tanggal 20 kemaren HD TV kru fiktif (lisa, om can, bulek) ditugaskan meliput acara Trisuci Wesak (Waisak) di Borobudur. Berbekal kue brownies, tahu goreng, dan kamera kami berangkat ke candi. Niat berangkat dari Jogja jam 6, molor jadi jam 7.

Kenapa mesti pagi-pagi?

Informasi yang kami dapatkan yaitu iring-iringan masa dari candi mendut mulai jam 8 pagi dan kira-kira akan sampai di borobudur jam 9, kemudian perayaan dimulai. Acara waisak mereka sebenarnya telah dimulai sehari sebelumnya, acaranya berdoa dan sembayang. Hari ini adalah perayaan puncaknya.

Sampe di jalan masuk biasa ke Borobudur jam 7.35an ternyata jalan sudah ditutup polisi karena akan digunakan untuk arak-arakan massa dari mendut ke borobudur. Alternatif jalan masuk diarahkan menuju daerah Blondo. Coba lewat jalan kampung, ternyata jalan keluar dari jalan kampung juga sudah ditutup polisi. Akhirnya kami menuruti arahan polisi ke daerah Blondo, lumayan kira-kira 10 km dari jalan masuk (normal) ke candi. Sampailah kami di tempat parkir wisata (info : retribusi parkir mobil pribadi 5rb).

Masuk ke area taman candi borobudur dengan membayar retribusi 9rb + seribu untuk 1 kamera. Dengan semangat kebangkitan nasional kami ber3 masuk langsung menuju candi mencari-cari lokasi perayaan. Naik merambat bersama para pengunjung lain ke atas candi, mungkin karena tgl 20 adalah hari libur nasional jadi wajar saja orang-orang kota pada berlibur menyebabkan keramaian di lokasi-lokasi wisata (kaya disini). Celingak-celingukan nyari disudut mana “karpet merah” digelar. Karpet merah adalah istilah tempat sembayang & acara Wesak digelar.

Akhirnya kami menemukan si “karpet merah” digelar di sudut barat (kl ga salah) candi. Langsung saja dengan maruk jepret sana jepret sini (napsu). Trus jalan, menuruni candi kemudian mencari “angle” terbaik di sisi karpet agar segalanya terekam dg baik. Udah capek dan bosan dengan objek yang itu-itu saja, kemudian kami bertanya pada petugas,

“pak pak, kapan arak-arakan dari candi mendut datang?

trus dijawab petugas dengan seyummanisbanget:

“jam 2 siang mungkin baru mulai berangkat dari mendut”

Langsung ngeliat arloji, dan disitu waktu menunjukkan pukul 9.30 dipagi hari. Jam 2 kan masih lama!

Spontan aku dan om can menatap bulek ‘dalam-dalam’. Karena semua informasi ini didapat dari bulek. Bulek yang jadi tersangka utama cuma mesam-mesem. “piss…” katanya.

Mencoba untuk bersabar menunggu jam 2 dengan memotoh objek-objek disekitar candi (termasuk kami ber3) dan makan brownies enak banget buatan bulek. Sambil liat-liat apa sih yang sedang dilakukan (segelintir)umat budha yang sudah duduk di karpet merah. Ada yang sedang meditasi serius, pura-pura meditasi padahal tidur, ngobrol, mainan henpon, meditasi lagi, celingak-celinguk, meditasi lagi.

Karena ga boleh mendekat ke tempat biksu2 yang lagi meditasi (takut digangguin ama kita-kita kali), jadinya cuma bisa ngeker mereka pake tele yang tak seberapa jauh 135mm. Tapi tiba-tiba para biksu yang duduk di posisi depan bangkit, trus jalan ke belakang karpet tempat kami berteduh. Kesempatan ngeliat wajah2 adem si biksu. Eh.. kaget, kirain dah pada tua-tua (walaupun mmg ada yang udah tua), ternyata mereka masih muda. Tampangnya ga jauhlah seusia kami-kami. Memutuskan jalan menjadi biksu, bukan keputusan kecil, kan?

Setelah para biksu ini meninggalkan tempat sembayang, satu-satu jemaahnya melanjutkan sembayang mereka di tempat pemujaan. Ngambil dupa, trus digoyang-goyang sambil melafalkan doa-doa untuk diri sendiri dan untuk bangsa ini. Aku perhatikan semua yang maju mengambil dupa dan berdoa wajahnya menunjukkan keseriusan. Besar harapan agar doa terkabul, saking khusyuknya mereka yang berdoa cuek aja diambil gambarnya oleh para fotografer.

Jam 12.30 tepat saat kepala kami sudah tidak tahan dihantam terik matahari, akhirnya kami putuskan untuk menyudahi kunjungan ini. Tugas hari ini gagal karena salah jadwal. Ada pelajaran yang bisa diambil untuk dijadikan pelajaran, yaitu : perhatikan lagi jadwal acara sebelum bertugas.🙂

Pesan untuk anda yang merencanakan kunjungan wisata ke Borobudur atau candi-candi :

berkunjunglah kecandi setelah pukul 2 siang, kl bisa sore sekalian. Karena diatas candi itu panas, sodara-sodara! Borobudur juga ga bakalan kemana-mana.

Selamat hari ini dan bangkitlah pemuda!

*terpengaruh semangat kebangkitan nasional*

This entry was posted in Indonesia Negeriku, Remote Sensing & GIS and tagged , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

7 thoughts on “Warta gagal di Borobudur

  1. pesan waisak?
    *liat di spanduk2 dijalan*

    “dengan semangat waisak, kita tingkatkan solidaritas, perbaikan jalan lingkungan, penanaman pohon, dan pembuatan MCK”

    hehe…

  2. Kalo gitu ke Candi Murca aja Lis, bisa dinikmati ditengah malam pas terang bulan purnama. Lebih adem… hehe…
    (lagi terbius Candi Murca karya LKH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s