Sebuah Perjalanan ke Jambi

Suatu hari dibulan september 2007, aku dan 23 orang temanku diminta untuk membantu pekerjaan pengukuran sebuah calon lahan kelapa sawit di JKabupaten Sarolangun, Jambi. Ini merupakan kali pertama kami diminta mengerjakan sebuah pekerjaan pengukuran di luar Jawa tanpa didampingi dosen dari fakultas. Tugas mulia ini kami terima dari sebuah konsultan swasta berlokasi di Jakarta, yang pimpinannya adalah alumnus fakultas kami. Dengan bermodalkan kepercayaan yang besar bahwa hidup kami akan terjamin disana (Jambi.red), maka berangkatlah kami ke negeri itu.

Sejak awal kukatakan pada penanggung jawab kami (koordinator mahasiswa) agar cermat dengan kontrak kerja dan segala urusan administrasi. Dan direspons dengan jawaban sekenanya “iya, tenang aja“. Entah bodoh atau karena terlalu gembira mendapatkan sebuah proyek besar di luar Jawa, teman-temanku luput degan hal itu. Padahal itu hal yang penting, kawan!. Karena ini pekerjaan surveyor, kami dijanjikan mendapat honor 250rb/hari dengan masa kerja 10 hari, jadi kami membayangkkan pulang dari Jambi kami akan mengantongi uang 2juta5ratus ribu rupiah.

Akhirnya kami berangkat juga… Sampai di Jakarta. Kupikir menunggunya kami di cengkareng karena menang kami sudah punya tiket untuk terbang ke Jambi sore itu, tapi ternyata tidak seperti itu. Kami menunggu di sna karena kami belum punya tiket untuk terbang je Jambi. Bayangkan! kami ber-24 orang sudah sampai di Jakarta dan belum punya tiket ke Jambi hari itu! Aku mulai curiga dengan lalulintas peredaran uang dalam pekerjaan ini (sementara bisa sabar sampe ada penjelasan dari pihak yang berhak menperikan penjelasan). Sudahlah.. berjam-jam menunggu disini akhirnya sesorang memberikan tiket CKG-Jambi. Berangkat.

Alhamdulillah akhirnya sampai di bandara Sultan Thaha Jambi pukul 8 malam. Tapi kami masih harus menempuh perjalanan kurang-lebih 6 jam menuju Sarolangun, tujuan kami. Sampai di Sarolangun jam 2 malam dengan kondisi sangat lelah. Tidur dan bangun jam 5 subuh terus langsung bersiap untuk “pekerjaan kami”. Kami serius sodara-sodara.

Namun kenyataannya kesiapan kami tidak direspons baik oleh orang-orang di kamp. Karena mereka sendiri belum siap untuk melakukan survey dan segala macam aktifitas pengukuran, dengan alasan administrasi (ijin dsb). Akhirnya 3 hari di kamp Sarolangun kami (istilahku : dianggurin) tidak melakukan apa2 selain makan, tidur, dan main kartu menuggu keputusan kapan kami mulai bekerja. Dan yang paling menyebalkan adalah pihak perusahaan (yang mempekerjakan kami) tidak memberikan keterangan apapun!! Menurutku ini sebuah penghinaan, mungkin kami dianggapnya anak kecil yang tidak tau apa-apa

(sampe sini kami masih bisa sabar dan tertawa-tawa)

Hari ke-4 akhirya kami berangkat menuju lokasi. Kami dibagi 3 keompok, disebar keberbagai penjuru (hutan) Sarolangun. Dengan berbekal semangat (pengalaman) kami melakukan perjalanan naik turun gunung di hutan sumatra dengan hati riang. Disebar kepelosok seperti itu membuat kami belajar mensyukuri hidup kami di kota yang serba berkecukupan. Ditempat kamp pertamaku (Desa Sungai Dingin) belum ada listrik, kakus, dan tidak ada siyal handphone. Aku dan teman-teman perempuanku terpaksa harus menerima keadaan bahwa kami harus mandi, pipis, dan pup (maaf) di anak-anak Sungai Batanghari (AKU TIDAK MAU MELAKUKANNYA LAGI!!!)

Kami berjalan masuk hutan menuju titik yang telah ditentukan. Sampai di titik pertama, peralatan yang kelompokku bawa untuk mengukur ternyata sia-sia dengan kondisi tanah dan kemiringan lereng yang tidak memungkinkan untuk dijajaki tripodnya teodolith (tanahnya lepas-lepas, tidak kompak dan lerengnya terjal). Akhirnya pengukuran tetap dilakukan dengan GPS, tentu saja dengan konsekuensi tingkat ketelitian yang lebih rendah dari pada mengukur dengan theodolith.

Berhari-hari kami melakukan hal yang sama, pindah dari desa satu ke desa lainnya. Dan akhirnya target selesai, meskipun dengan hasil yang jauh dari sempurna. Kami bersiap untuk kembali ke Jogja. Saat itu perasaan kami sangat GEMBIRA!

Kembali ke Jogja adalah hal yang paling membahagiakan. Kami berkumpul dengan cerita perjalanan kelompok masing-masing. Setelah cerita (diluar cerita pengalaman ngukur ke hutan) semua kelompok dirangkum, maka kami mengambil kesimpulan bahwa : ada yang tidak beres dengan orang-orang yang bertanggung jawab thd pekerjaan ini. Apalagi sampai sekarang bulan April 2008 honor kami belum juga dibayar. Dan parahya sewa alat ukur yang harganya sama dengan honor kami sehari juga belum dulunasi. Terpaksa BPKB Jupiternya temanku (si koordinator) masih ditahan sebagai jaminan alat (kasihan!) –> sekarang alhamdulillah BPKB sudah kembali ke tangan pemiliknya. Baru BPKB.

Kami terus menerus menagih pembayaran kepada (sebutsaja) Pak W dari PT Winda M****** selaku orang yang bertanggungjawab terhadap tawaran ini, secara bergantian (sms dan telepon). Setiap kali ditanya jawabannya “iya minggu depan uangnya turun“. Minggu depan-minggu depan dan minggu depannya lagi sampai hari ini (tulisan di post) uang itu tak kunjung turun. Kami harus menerima kenyataan pahit ini karena kami tidak punya “senjata” bernama kontrak kerja hitam diatas putih sebagai bukti bahwa kami turut berpartisipasi dalam pekerjaan tersebut akan di upahi dengan sekian rupiah denan sekian hari kerja.

Sekarang ke-23 orang temanku sudah bosan dengan janji “minggu depan”nya Pak W, jadi satu persatu dari kami sudah berhenti menghubungi Pak W. Dan mulai mengikhlaskan honor itu (kecuali BPKB sebagai jaminan alat, mungkin).

Pesanku untuk sodara-sodara agar tidak terjebak dalam kejadian tidak menyenangkan ini, harap waspada jika akan melakukan kerja sama dengan perusahaan yang belum anda kenal baik🙂

This entry was posted in Indonesia Negeriku, Remote Sensing & GIS and tagged , , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

8 thoughts on “Sebuah Perjalanan ke Jambi

  1. tulisannya ada yang ga kelihatan non, jangan pake item, kan backgroundnya udah item…
    ah ya, itu ada gambar b*gil juga? wah, bisa kena UU ITE tuh, hihi…
    dan memang, sebaiknya perlu dipelajari setiap kontrak, tapi ngga semua sabar sih, biasanya karena “bayangan” uang yang berkibar-kibar, hihi
    semoga ntar ada kejelasan deh, atau kalau ngga ya, diganti rizki dari tempat lain
    -amin-

  2. yap, memang segala sesuatunya harus dilalui dengan sabar…… sekali
    *sekalipun kewajiban sudah terlaksana dan hak belum (mungkin juga) tidak terpenuhi*

    sedih..
    :((

  3. huhu,
    banyak kok anak geografi yg kena kasus kaya gini,
    diambil hikmahnya aja,
    minimal kan kamu jadi bisa jalan2 ke desa2 di jambi n bisa mandi di kali!
    hehe.. .
    (direkam video ga?)

  4. Pingback: Ingat Kejadian Jambi : 1 tahun lalu « anakkutu

  5. hlo kpie kabare sae2.toh sak niki heheheh
    q anak jambi lahir d sungai tanduk kayuaro kerinci jambi usia 20 thn mmmmmmm prnah k sarolangun yah
    mmmmmm q bukn bhas tntang problm coz q cma nanya gmana masyarakat jambi
    ramah2 opo ora…..
    klo gak ya minta maaf
    maklom wonk ndeso
    heheheh q jga snank b tualang
    mmmmm
    tp q gak krja d bidang itu
    n q jga prnah k jogja weh sweneng banget awak ku ikn…… coz q d sambut dgn ramah tamah nya cah2 nang jogja…. opomeneh nang kraton yojo tmpat q b tamu wasik…….
    tapi nuon sewu kulo ora kalm…….
    coz bocah sumatra……….

  6. Maap nih bro saya mau nanya ini lahan yang anda ukur pemilik nya PT Winda Multitra kan , saya sedang melakukan penawaran lahan sawit tersebut
    tapi nomer yang di hubungi sebuk terus saya jadi ragu dengan kredibilitas nih PT , bro bisa kasi nomer nih PT yang bisa saya hubungi gak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s