dari Makassar – Kendari – sampai Toraja

Beberapa bulan lalu saya dan tim kantor (anggap saja begitu, karena saya bingung membahasakannya sebagai apa tempat ini -status mahasiswa tugas kantoran-) melakukan perjalanan ke berbagai kota dalam rangka jalan-jalan😀

Kali ini Kota Makassar Kendari dan Toraja menjadi tujuan.

Tim Makassar-Kendari-Toraja terdiri dari saya (asisten) dan 1 dosen penanggungjawab perjalanan.

Jogja-Makassar-Kendari : Barang hilang

Perjalanan ini dimulai dari Jogja terbang ke Kendari via Makassar. Sampai di Makassar jam 11an dan kami transit disini kira-kira 5 jam (sempet jalan-jalan ke kota dan tidur siang!), kemudian sekitar jam 4 kembali ke bandara dan terbang dengan pesawat lain ke Kendari jam 5.20.

Sampai di Kendari, nunggu bagasi.

Kalau lagi nunggu bagasi, trus barangnya lama gini biasanya kami suka bercanda

“oh, barangnya masih di ambil pilot di jogja”

atau

“jangan-jangan kita salah pesawat”

begitu terus menunggu dan menunggu.. sampe ban rol bagasinya berenti dan barang kami gak ada!!

tengok kanankiridepanbelakang “Ko` dah sepi, Pak?!”

“oh, pada pipis kali” dengan santai masih dijawab begitu sama dosenku

terus hening *saling berpandangan.red*

…..

Pak dosenku baru sadar kalo ban rolnya sudah berenti daritadi, trus bilang

“loh barangku mana, ca?

…..

Begitulah kami kehilangan bagasi. Akhirnya semalaman kami belanja pakaian dan logistik karena semua pakaian masuk bagasi. Sempat bingung karena kota Kendari itu sepi, sodara-sodara. Baru keesokan harinya kami dihubungi pihak bandara (lost and found) diberitau barang kami sudah ditemukan. Ternyata waktu transit di Makassar identitas tas kami lepas (karena kelalaian entah siapa) trus nyasar ke Sorong, Irian. Dan sekarang barang sudah ada di Makassar. Kebetulan memang kami kembali lagi ke Makassar untuk tugas selanjutnya. Masalah barang hilang selesai.

Makassar-Toraja : Ban Pecah

Hari itu juga setelah mendarat di Makassar, rencana kami langsung menuju Toraja. Karena hari hujan, jadi kami menutuskan untuk mencari bis dari terminal. Ternyata di terminal bis-bis besar (kaya patas) tujuan Pare-pare-Toraja sudah berangkat. Ada bis lagi malam sekitar jam 7-8, sementara kami tidak punya banyak waktu, jadi kami putuskan untuk berangkat dengan bis kecil (kaya mikrolet gitu). hm.. ga begitu nyaman sih, tai apa boleh buat..

Bis jalan..

belom sampe 3 jam berangkat dari terminal bis Maros, tau-tau ada bunyi “DROARR!!” kenceng banget sampe orang-orang pada kaget (kl ga kaget berarti pendengarannya terganggu). Ternyata eh ternyata, salah satu ban kanan belakang bis pecah! *tuh kan apa gue bilang, perasaan gue ga enak naek bis beginian*

kira-kira begini kondisinya :

pecah-ban-toraja.jpg

dan ternyata lagi, mereka ga punya ban serep jadi mesti balik ke arah kota lagi untuk ganti ban.

huff.. jadilah kami nunggu di jalan 3 jam-an, udah kaya transmigran.

Dan kau tau? yang paling membuat orang2 kesal adalah : kejadian ini (ban pecah.red) terjadi dua kali. Dua kali sodara-sodara!!

Yang kedua terjadi gak lama setelah kejadian yang pertama. Dijalan menikung dan hari mulai gelap.

Begitulah ceritanya sampai membekaskan trauma untuk saya, “ga mau naek bis begituan lagi”, ya paling tidak sampe kejadian itu melebur bersama waktu diingatan saya (hahahaha.. bahasa mana tuh, ca?!)

Saran buat yang akan segera melakukan perjalanan ke TATOR (Tana Toraja) :

1. Selalu pilih bis patas untuk kenyamanan anda.

2. Bis patas ke Tator berangkat 2 kali sehari, jam 9 pagi dan jam malam, jadi datanglah ke terminal sebelum itu.

3. Kalau mungkin, kalukan perjalanan pada malam hari. Karena siang hari perjalanan terasa lebih menyeramkan (alasan : kl malam jalanan sempit, berliku, kanan tebing kiri jurang jadi ga keliatan karena gelap😀

4. Yang terakhir, hati2 dengan barang bagasi anda!

This entry was posted in Indonesia Negeriku and tagged , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

5 thoughts on “dari Makassar – Kendari – sampai Toraja

  1. Hwadoh, untung barangnya bisa balik lagi…
    Btw, budaya di Toraja itu katanya unik bgt ya (terutama budaya soal kematian itu), posting soal budayanya dunks..
    *ngarep.com*

  2. hehe.. maaf kemaren karena jadwalnya padat sekali, jadi gak sempet “hunting” tentang itu. tapi ntar coba ku ceritain dikit yang aku tau de.

    thanks for sharing!

  3. haiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
    curanggggggggggggggg…………….
    aku aja orang toraja blom pernah kesana,,,,,,,,,,,
    ntar ya klo aku jadi juli taon depan aku juga mo jalan2 k TORAJA…….

    aku iriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
    pappayyyyyyyyyyyyyyyyy

    samal ,
    mang^uncui

  4. Pingback: Diana’s Coming PART #2 –> Tana Toraja « mADEmoiselle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s