Filed under: Indonesia Negeriku, Wakatobi | Tags: Orang Bajo, perjalanan, sampah, Travelling, wakatobi, wisata
Menurutku, Kota Wanci tidak jauh berbeda dengan kota kabupaten lain yang baru mekar. Kota lama yang sudah terbangun dirapikan sarana dan prasarananya, sementara itu pemerintah mempersiapkan lahan untuk perluasan kota. Infrastruktur, terutama jalan, sedang dalam proses perbaikan dan pengerasan. Bahkan jalan porosnya pun masih diaspal kasar, jadi sepanjang perjalanan mengelilingi Wangi-Wangi tubuh kami jogad joged di mobil.
Akses menuju Wakatobi terasa lebih mudah karena Bandara Matahora (bukan manohara) sedang dalam proses pembangunan. Meskipun belum sempurna, landasan pacu bandara sudah bulak balik dipakai Susi Air terbang dari Wanci-Kendari, Kendari-Wanci. Setidaknya saat terakhir aku kesana kondisinya seperti itu (8okt2009). Sementara pelayaran dari Kendari-Wanci dan Bau-bau-Wanci terbuka sangat. (more…)
Filed under: Indonesia Negeriku, Wakatobi, ceritaku | Tags: Sunset, Traveling, wakatobi, Wanci
Tidur nyenyakku digugah petugas tiket. Ternyata sudah pukul 5.30 jumat pagi. Saat petugas memeriksa tiket, kulihat daratan sudah dekat, ah tidak lama lagi kapal akan merapat di Pelabuhan Wanci. Segera kubangunkan yaya dari tidurnya. “Ya, Ya, bangun, udah deket!!”, kataku. Kami berdua lompat dari ranjang untuk melihat matahari terbit yang kesiangan hehe.. ternyata sunrise-nya jam 5 tadi, terlambat deh.
Mumpung sudah terang dan masih diatas kapal, maka ini saatnya mengeluarkan si nikko (kameraku dinamai nikko) untuk memuaskan dahaganya memotoh. Hoho.. tidak lama kemudian si nikko sudah terisi aneka pose kami di haluan kapal dan berbagai sudut pelabuhan Wanci.
Kapal sandar. Kami kembali ke kamar, beberes barang dan sedikit memoles wajah biar lebih segar saat bertemu orang darat. Mudah-mudahan ada yang jemput. Kalau tidak juga tidak apa, banyak tukang ojeg disana.
Kabarnya, tarif ojeg di Wanci jauh dekatnya 3ribu hehe.. Jadi, kalau anda berencana backpaker ke Wanci, jangan kuatir soal kendaraan, karena tukang ojeg siap mengantar anda kemana saja dengan harga bersahabat. Hanya saja, saranku, waspadalah mengenali tukang ojeg yang waras dan mabok. Ada selentingan berita miring tentang orang-orang wanci. Tidak perlu dibahas sebabnya. Memilih yang waras penting untuk keselamatanmu, bukan ?
(more…)
Filed under: Indonesia Negeriku, Zona Berbahaya | Tags: Budaya, Lukisan Khombouw, Papua, Suku Asei
Resiko orang tua yang kerjanya mengabdi pada negara adalah bersedia ditempatkan diseluruh wilayah republik ini, sampai membawa aku dan keluargaku ke wilayah timur indonesia, Papua. Dulu orang menyebutnya Irian, bahkan sampai sekarang di keluargaku masih fasih menyebut pulau kepala burung itu dengan sebutan Irian
Sepanjang sekolah dasar kuhabiskan di Ibukota Papua, Jayapura. Setelah itu pindah ke Kalimantan. Sampai sekarang masih ada teman-teman sekolah dasarku yang tinggal di papua. Bertahun-tahun lost contact dari teman-teman sekolah dasar, tapi berkat friendster dan facebook kami saling menemukan satu sama lain. Jejaring semakin luas, semakin hari semakin bertambah temu teman SDku.
Sapa basa basi sering terjadi. Hingga beberapa waktu lalu ada seorang teman yang menawarkan sebuah lukisan dari kulit kayu padaku. Oleh-oleh dari teman lama, katanya. Meskipun tak tau seperti apa bentuknya benda yang dimaksud, tapi ku iya-kan saja, tanda setuju. Eh tak tahunya paket kiriman dari papua itu bukan basa basi, dia sampai di rumah.
Ternyata begini bentuknya lukisan dari kulit kayu yang dimaksud. Cantik sekali.
Filed under: Indonesia Negeriku, Spatial Corner | Tags: Banyuwangi, nature, Pantai, Pulo Merah, survey, tsunami
Survey ke Banyuwangi awal agustus lalu membawa saya (bersama tim, tentu saja) sampai di Pantai Pulo Merah. Salah satu tempat wisata yang letaknya di Desa Pancer, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Pantai pasir putih yang menurut saya biasa saja, menjadi lebih cantik dengan adanya bukit kecil dibibir pantai. Khas. Saat air surut pengunjung bisa berjalan kaki ke bukit ini. Jangan lupa waktu kalau tidak mau terpaksa menginap semalaman di bukit itu.
Bukit yang menurut saya tidak kecil, kurang lebih 50 meter, ini kemungkinan adalah sisa proses denudasional dari tebing yang jauh disana (Gn.Tumpang Pitu) sehingga tampak terisolasi dari kawanannya. Saat kemarau, pohon-pohon di bukit itu meranggas, membuat karang di bukit terlihat jelas. Warnanya kemerahan. Konon, hal inilah yang membuat warga di sekitar pantai itu menyebut bukit tersebut Pulo Merah. (more…)
Filed under: Indonesia Negeriku, ceritaku | Tags: alam, Banyuwangi, Kawah Ijen, wisata
Lepas dari PT. Perkebunan Lijen kami masih harus menempuh perjalanan 17 kilometer untuk sampai di taman wisata kawah ijen. Ntah benar diukur atau tidak sepertinya kami melewati lebih dari jarak tempuh yang tertulis dengan kondisi terlempar-lempar didalam mobil. Sungguh tidak nyaman menuju lokasi wisata ijen dengan kondisi beberapa ruas jalanan di aspal dengan asal nempel atau dibagian lain rusak karena tergerus air. Bahkan ada satu tikungan yang menanjak dengan kondisi aspal-nya parah sekali. Pedal gas mobil harus diinjak sampai habis beberapa meter sebelum menanjak, dengan kondisi jalan yang jelek sekali mobil bisa saja kehilangan keseimbangan kemudian terpeleset. Untuk tempat (yang katanya) sebagus Kawah Ijen aksesibilitas seperti ini benar-benar tidak nyaman untuk wisatawan.
Sampai di rest point, teman semobil kompak menuju toilet. HIV [hasrat ingin vivis] yang sejak separo perjalanan ditahan karena tidak ada pom bensin atau mesjid dipinggir jalan selama perjalanan ke sini ditumpah ruahkan saat sampai. Paltuding marupakan “pintu selamat datang-nya” Kawah ijen. Rest point Paltuding berada di ketinggian 1850 mdpl (meter diatas permukaan laut). Di sini tersedia warung makan, satu pondok besar untuk wisatawan menginap, fasilitas toilet umum, dan pondok pengawas lingkungan kawah ijen.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore saat teman-teman selasai dengan ‘urusan’ pribadinya. Di pinggir taman tertulis : “Kawah ijen 3 kilo” kemudian ada simbol tapak kaki yang artinya menuju ke Kawah dengan berjalan kaki. Belum terbayang sebelumnya arti 3 kilo yang sebenarnya, maka dengan semangat “coba dulu” kami mulai naik. Coba dulu kalau sampai ya syukur, tapi kalau tidak sanggup ya turun, begitu maksudnya. Jangan samakan Kawah Ijen seperti Gunung Tangkuban Perahu atau Gunung Bromo yang kawahnya bisa dinikmati sambil berkuda santai. 3 kilometer yang dimaksud adalah 3 kilometer menajak dan berliku-liku yang jika di proyeksikan dengan rata-rata kemiringan tanjakan sekitar 40 derajad maka panjang datar jalan sebenarnya bisa jadi lebih dari 5 kilometer.
Coba dulu… (more…)
Filed under: Cerbung, Field Spectrometry, Indonesia Negeriku | Tags: Badai, Balongan, BBPOPT, BLB, BPPT, BRS, Indramayu, OPT, padi, Pantai, spectrometer, Storm

storm
Persis di depan rumah makan yang kami datangi ada kegiatan syuting ntah untuk film atau apa. Sesekali terdengar teriakan “camera roll, action!!”. Saat angin mulai kencang aku malah sibuk melihat kegiatan syuting di depan sana. Mereka pun menyadari angin semakin kencang sehingga mulai sibuk menyelamatkan properti mereka yang besar-besar dan mahal seperti, berbiji-biji lampu sorot, reflector, mic, kamera, belum lagi menyelamatkan artisnya.
Mbak Fauziah dan Bu Lilik memilih menyelamatkan diri masuk kedalam bangunan yang lebih kokoh. Sementara aku dihadapi dilema, antara ikan atau kabur, ah sial betul kenapa tadi makan begitu lambat, sekarang ada badai begini perut masih minta diisi. Mau lari tapi mata kemasukan pasir sampai perih sekali kalo dibuka.
Akhirnya sambil berusaha mengambil gelas minumanku dan kamera, kuputuskan untuk masuk ke bangunan tembok sementara para lelaki masih di luar. Ga kepikir sedikitpun untuk merekam kejadian di TKP. Terakhir kulihat Pak Hartanto kembali duduk menghadapi makanannya dan Pak Bambang masih seru dengan 3 udang terakhirnya, ntah dengan Pak Nurdin. Ah kalo dilanjut makan juga ga bakal nikmat lagi karena paling nasi sudah bercampur pasir, batinku. (more…)
Filed under: Indonesia Negeriku | Tags: Coklat, Indonesia, kuliner, Yogyakarta

coklat Indonesia resep Belgia
Kalau anda penggemar coklat maka beruntunglah anda karena tinggal di Indonesia. Kualitas kakao Indonesia adalah peringkat 3 dunia, sehingga adalah suatu yang ganjil jika Indonesia tidak punya produk coklat yang nginternasional.
Nah, kebetulan sudah ada coklat produk dalam negeri yang harga dan kualitasnya nginternasional seperti yang saya bilang tadi itu. Namanya coklat Monggo. Seluruh bahan kakao-nya diproduksi dari ladang-ladang kakao di Indonesia, kemudian diolah dengan resep rahasia dari Belgia. Maka dapat dipastikan bahwa akan ada label CNI (Coklat Negara Indonesia) dikemasannya, diproduksi oleh : CV.Anugerah Mulia Yogyakarta – Indonesia. Alternatif oleh-oleh dari Jogja.
Tentang rasanya, silperkwin dan ketburi mah lewat… Rasanya mantap betul. Didalam coklat ada coklat. Sekali gigit coklatnya lumer dimulut, serius. Apalagi kalau 58% dark chocolatenya dipadu dengan kopi item java arabika, maknyus pemirso *holoh*
Tapi ada yang ga enak dari coklat ini, yaitu harganya. Ada harga ada rupa. Batangan coklat 100gr (foto) dijual seharga 22rb. Selamat menikmati
Pesen Moral : Tidak baik terlalu sering beli coklat, kerena akan menyebabkan kanker (kantong kering)
Filed under: Indonesia Negeriku, Zona Berbahaya, ceritaku | Tags: Banjir, Benanga, Gintung
Melihat, mendengar, dan membaca : tanggul Situ Gintung jebol, menyisakan duka mendalam untuk kita semua. Tanggul situ jebol kabarnya karena usia tanggul yang memang sudah renta dan kurang perawatan, mungkin. Jika boleh kusamakan kejadian jebol tanggul situ/waduk pernah terjadi pada Bendungan Benanga di Samarinda tahun 1998. Hanya saja air tidak mengamuk keluar seperti tsunami kecil yang terjadi di Gintung namun tetap saja banjir memakan korban. Saat bencana itu terjadi, empat warga tewas dan ribuan orang diungsikan. Tercatat 30% dari 718 kilometer persegi luas Kota Samarinda kebanjiran akibat luberan air Karang Mumus dan jebolnya tanggul Waduk Benanga di kawasan utara kota.

Samarinda, banjir
Sedikit cerita pribadi tentang ini. Bendungan Benanga berada di hulu Karang Mumus. Bendungan jebol sekitar bulan juli-agustus 1998, saat tahun pertama keluargaku di Samarinda. Ketika Bendungan Benanga jebol, kami masih tinggal di rumah kontrakan yang berada kira-kira 500 meter di tepi Sungai Mahakam. Syukurnya, banjir tidak sampai di rumahku.
Banyak teman-teman sekolahku yang terpaksa bolos sekolah karena rumahnya kebanjiran. Atau banyak lagi yang rumahnya tidak kebanjiran tapi terpaksa tidak berangkat sekolah karena jalan menuju sekolah rata dengan air setinggi 1-1,5 meter bahkan ada yang sampai 2 meter.
Jarang ada angkutan umum yang beroperasi menuju sekolahku, sehingga kelaupun sangat ingin/harus berangkat sekolah maka diperlukan semangat tinggi. Harus menumpang perahu untuk menyebrangi jalanan ber-air. Setelah perahu melewati jalanan ber-air, sepatu harus tetap ditenteng agar tidak kuyup karena harus berjalan kaki ke sekolah dengan becek dimana-mana. Beberapa orang teman berangkat sekolah hanya beberkal buku tulis baru dan tidak berseragam karena perlengkapan sekolah hanyut terbawa air. (more…)

berita di Tribun Kaltim Kemarin
Berita-berita di media sedang ramai dengan gerhana matahari. Peristiwa ketika posisi bulan berada diantara matahari dan bumi sehingga menyebabkan matahari matahari nantinya akan terlihat seperti cincin. Awalnya hanya kulirik sekilas, karna waktu lihat jalur lintasan gerhana, ga semua kota di Indonesia bisa menyaksikan karena penutupan maksimumnya tidak melewati semua daerah, termasuk Jogja.
Namun, minggu lalu ketika hati sudah dibesarkan untuk menikmatinya lewat media saja, tiba-tiba kesempatan itu datang. Keinginan menengok orang tua di Samarinda disambut baik oleh mereka, maka pulanglah aku. Aku girang bukan kepalang karna selain bisa berkumpul dengan keluarga, juga bisa kunikmati gerhana matahari cincin (GMC) yang kabarnya di Samarinda bisa dinikmati hampir 90%.

lintasan GMC 26 Januari 2009
Melihat peta lintasan GMC, yang bisa melihat matahari seperti cincin yaitu lokasi sepanjang sabuk diantara garis biru. Sedangkan yang berada disebelah selatan dan utara garis itu akan melihat matahari seperti bulan sabit.
Menurut BMG gerhana sudah bisa disaksikan masuk Pringsewu, Lampung sejak pukul 14.19. Kira-kira 60 menitan setelah itu matahari lewat diatas Samarinda. Gerhana bisa dapat dinikamati selama 1 – 6 menit dari sini. Sekarang masih jam 10, langit Samarinda rata tertutup awan. Penyakit langit diatas kalimantan. Semoga siang nanti awannya tersapu agar warga Samarinda bisa menyaksikan gerhana yang langka terjadi. Jangan lupa pake kaca mata hitam ya
















![A I U E [ t o p e n g ] A I U E [ t o p e n g ]](http://farm3.static.flickr.com/2430/3813491004_62fd91b5c4_t.jpg)








