Filed under: Indonesia Negeriku, Wakatobi, ceritaku | Tags: Sunset, Traveling, wakatobi, Wanci
Tidur nyenyakku digugah petugas tiket. Ternyata sudah pukul 5.30 jumat pagi. Saat petugas memeriksa tiket, kulihat daratan sudah dekat, ah tidak lama lagi kapal akan merapat di Pelabuhan Wanci. Segera kubangunkan yaya dari tidurnya. “Ya, Ya, bangun, udah deket!!”, kataku. Kami berdua lompat dari ranjang untuk melihat matahari terbit yang kesiangan hehe.. ternyata sunrise-nya jam 5 tadi, terlambat deh.
Mumpung sudah terang dan masih diatas kapal, maka ini saatnya mengeluarkan si nikko (kameraku dinamai nikko) untuk memuaskan dahaganya memotoh. Hoho.. tidak lama kemudian si nikko sudah terisi aneka pose kami di haluan kapal dan berbagai sudut pelabuhan Wanci.
Kapal sandar. Kami kembali ke kamar, beberes barang dan sedikit memoles wajah biar lebih segar saat bertemu orang darat. Mudah-mudahan ada yang jemput. Kalau tidak juga tidak apa, banyak tukang ojeg disana.
Kabarnya, tarif ojeg di Wanci jauh dekatnya 3ribu hehe.. Jadi, kalau anda berencana backpaker ke Wanci, jangan kuatir soal kendaraan, karena tukang ojeg siap mengantar anda kemana saja dengan harga bersahabat. Hanya saja, saranku, waspadalah mengenali tukang ojeg yang waras dan mabok. Ada selentingan berita miring tentang orang-orang wanci. Tidak perlu dibahas sebabnya. Memilih yang waras penting untuk keselamatanmu, bukan ?
(more…)
Filed under: Indonesia Negeriku, ceritaku | Tags: alam, Banyuwangi, Kawah Ijen, wisata
Lepas dari PT. Perkebunan Lijen kami masih harus menempuh perjalanan 17 kilometer untuk sampai di taman wisata kawah ijen. Ntah benar diukur atau tidak sepertinya kami melewati lebih dari jarak tempuh yang tertulis dengan kondisi terlempar-lempar didalam mobil. Sungguh tidak nyaman menuju lokasi wisata ijen dengan kondisi beberapa ruas jalanan di aspal dengan asal nempel atau dibagian lain rusak karena tergerus air. Bahkan ada satu tikungan yang menanjak dengan kondisi aspal-nya parah sekali. Pedal gas mobil harus diinjak sampai habis beberapa meter sebelum menanjak, dengan kondisi jalan yang jelek sekali mobil bisa saja kehilangan keseimbangan kemudian terpeleset. Untuk tempat (yang katanya) sebagus Kawah Ijen aksesibilitas seperti ini benar-benar tidak nyaman untuk wisatawan.
Sampai di rest point, teman semobil kompak menuju toilet. HIV [hasrat ingin vivis] yang sejak separo perjalanan ditahan karena tidak ada pom bensin atau mesjid dipinggir jalan selama perjalanan ke sini ditumpah ruahkan saat sampai. Paltuding marupakan “pintu selamat datang-nya” Kawah ijen. Rest point Paltuding berada di ketinggian 1850 mdpl (meter diatas permukaan laut). Di sini tersedia warung makan, satu pondok besar untuk wisatawan menginap, fasilitas toilet umum, dan pondok pengawas lingkungan kawah ijen.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore saat teman-teman selasai dengan ‘urusan’ pribadinya. Di pinggir taman tertulis : “Kawah ijen 3 kilo” kemudian ada simbol tapak kaki yang artinya menuju ke Kawah dengan berjalan kaki. Belum terbayang sebelumnya arti 3 kilo yang sebenarnya, maka dengan semangat “coba dulu” kami mulai naik. Coba dulu kalau sampai ya syukur, tapi kalau tidak sanggup ya turun, begitu maksudnya. Jangan samakan Kawah Ijen seperti Gunung Tangkuban Perahu atau Gunung Bromo yang kawahnya bisa dinikmati sambil berkuda santai. 3 kilometer yang dimaksud adalah 3 kilometer menajak dan berliku-liku yang jika di proyeksikan dengan rata-rata kemiringan tanjakan sekitar 40 derajad maka panjang datar jalan sebenarnya bisa jadi lebih dari 5 kilometer.
Coba dulu… (more…)

b2w
Sejak resmi diperbantukan untuk kegiatan-kegiatan di BPPT maka domisilipun pindah dari jogja ke jakarta. Tidak ada masalah yang berarti tentang kepindahan ini, tempat tinggal ada, sodara banyak, cuma temen aja yang belom ada.
Satu satunya masalah yang mengganggu adalah belum menemukan kendaraan yang nyaman untuk bepergian, khususnya untuk berangkat dari rumah ke kantor. Aku tinggal di rumah nenek di tenabang sementara kantor di thamrin, dekat (kalau jalan kaki, capek). Saking dekatnya kalo kentut di rumah dari kantor juga kedengeran
Naik mobil bukan pilihan terbaik, karena hanya akan menambah padatnya ibukota, lagi pula terlalu dekat, buang-buang energi. Naik motor, bisa jadi tapi melihat batapa kejamnya pengendara motor ibukota, maka kuputuskan, tidak. Atau singkat kata, takut. Kendaraan umum, pilihan bijaksana tapi menurut hematku, tiap hari bulak balik rumah kantor kalo ngojeg sekali jalan 7-10 ribu, kalo mikrolet 5 ribu PP, sementara stimulus tiap bulan harus cermat-cermat digunakan agar tak menderita diakhir bulan. Mungkin sesekali boleh lah. (more…)

angka 100
rasanya baru kemarin membangun blog tulisan-tulisan ringan iseng eh gak terasa sekarang udah terkumpul 100 post yang tercatat di blog ini. dan yang bikin senang karena stats terakhir juga menunjukkan angka 100 pengunjung. mungkin untuk bagian orang lain yang blognya senantiasa ramai sih angka segitu kecil.. tapi angka ini terasa indah untuk ku
ku ucapkan terimakasih untuk temankutu yang sudah mampir di blogkutu. semoga ada tulisan yang bermanfaat untuk teman-teman. ambil baiknya, buang yang jelek. aku senantiasa terbuka terhadap masukan saran, kritik, pertanyaan, dan segala hal yang mengganjal saat teman-teman membaca tulisan ku.
selamat hari ini
Ada perasaan rindu yang muncul ketika tadi kulihat orang disampingku sedang asik ‘bercengkrama’ dengan teman di fesbuknya. Ah..memang yang kurasakan sejak tidak lagi punya akun di jejaring sosial adalah kehilangan. Kehilangan sahabat-sahabat mayaku, yang kami tak pernah berjumpa tapi intens berkomunikasi dijejaring maya. Banyak lagi teman-teman sekolah dari SD sampai SMA.
Yang paling kusesalkan adalah kehilangan (lagi) teman-teman SDku. Setelah pindah ke Samarinda tahun 1998 maka kesempatan temu muka teramat sangat kecil. Beberapa bulan lalu baru saja aku kegirangan meloncat-loncat karena akhirnya ‘ketemu’ dengan mereka. Kemudian saling bertanya kabar, pertanyaan standar tapi memang sangat ingin tau. Sekarang kalian hilang lagi deh.
ah, apa kabarnya kalian ya..
Mudah-mudahan ada salah satu dari kalian yang membaca tulisan ini dan menghubungiku. Aku ga bisa menghubungi kalian karena satu-satunya jalur komunikasi hanya lewat inet (YM,FS,FB) , dan ‘alamat’ kalian hilang sejak dihapusnya email yang lama.
—-
Anyway, setelah menjalani proses pengerjaan skripsi dan bimbingan yang lama sekali dan melelahkan akhirnya skripsiku di acc juga. Abis keluar ruangan dosen membawa surat persetujuan skripsi yang sudah ditandatanganin dosen, bibirku ini tak lepas dari nyengir. Langsung kurayakan kelegaan ini dengan creambath
Walaupun perjuangan belum benar-benar berakhir paling tidak stressku berkurang. Tadi siang udah mendaftarkan diri untuk ujian. Rabu minggu depan jadwalnya baru keluar. Semoga tak ada halangan yang berarti untuk selangkah lagi.
Selamat libur panjang
Sudah agak lama (sekitar awal februari) aku membeli beli beras untuk makan sehari-hari. Tapi karena belakangan lebih sering makan di luar, jadi aku hampir lupa kalau punya beras. Pas udah berasa duit mulai mepet, barulah ingat.
Bungkus beras kubuka, dan eh eh ada banyak benda hitam bergerilya di antara butir beras. OMG! Kutu! Lagi-lagi ketemu kutu. Beras yang sekarang menjadi gantungan hidupku digerogoti kutu!. Tak terima lah aku. Kulakukan apapun untuk mendapatkan beras itu kembali dari jajahan kutu. Jadilah kemarin kuhabiskan soreku untuk membasmi kutu yang tanpa sepengetahuanku bersemayam di dalam beras.
Aih.. banyak sekali..
Pembasmian kutu pun dimulai. Plok! Plok! Plok! tanpa ampun kutu yang keluar dari bungkus beras kutabok pake sendal jepit. Untuk memudahkan pembasmian, beras kutabur diatas koran. Tiap kutu yang keluar melewati koran, pasti tidak menyangka kalau umurnya hanya sampai saat itu. Dengan satu kali tabokan “Plok!” maka tamatlah riwayat si kutu.
Mungkin ada 1 – 2 kutu yang luput dari penglihatanku lolos dari tabokan maut. Pasti si kutu sekarang sedang menikmati hari-hari kebebasannya dan meratapi kepergian teman-temannya yang begitu cepat dengan cara biadab!. Mungkinkah si kutu sekarang sedang merencanakan aksi balas dendam ? wkwkwk… Maka, mulai hari ini aku akan selalu waspada terhadap benda hitam kecil dan bergerak bernama Kutu!.
Hati-hati ada Kutu!
Filed under: Indonesia Negeriku, Zona Berbahaya, ceritaku | Tags: Banjir, Benanga, Gintung
Melihat, mendengar, dan membaca : tanggul Situ Gintung jebol, menyisakan duka mendalam untuk kita semua. Tanggul situ jebol kabarnya karena usia tanggul yang memang sudah renta dan kurang perawatan, mungkin. Jika boleh kusamakan kejadian jebol tanggul situ/waduk pernah terjadi pada Bendungan Benanga di Samarinda tahun 1998. Hanya saja air tidak mengamuk keluar seperti tsunami kecil yang terjadi di Gintung namun tetap saja banjir memakan korban. Saat bencana itu terjadi, empat warga tewas dan ribuan orang diungsikan. Tercatat 30% dari 718 kilometer persegi luas Kota Samarinda kebanjiran akibat luberan air Karang Mumus dan jebolnya tanggul Waduk Benanga di kawasan utara kota.

Samarinda, banjir
Sedikit cerita pribadi tentang ini. Bendungan Benanga berada di hulu Karang Mumus. Bendungan jebol sekitar bulan juli-agustus 1998, saat tahun pertama keluargaku di Samarinda. Ketika Bendungan Benanga jebol, kami masih tinggal di rumah kontrakan yang berada kira-kira 500 meter di tepi Sungai Mahakam. Syukurnya, banjir tidak sampai di rumahku.
Banyak teman-teman sekolahku yang terpaksa bolos sekolah karena rumahnya kebanjiran. Atau banyak lagi yang rumahnya tidak kebanjiran tapi terpaksa tidak berangkat sekolah karena jalan menuju sekolah rata dengan air setinggi 1-1,5 meter bahkan ada yang sampai 2 meter.
Jarang ada angkutan umum yang beroperasi menuju sekolahku, sehingga kelaupun sangat ingin/harus berangkat sekolah maka diperlukan semangat tinggi. Harus menumpang perahu untuk menyebrangi jalanan ber-air. Setelah perahu melewati jalanan ber-air, sepatu harus tetap ditenteng agar tidak kuyup karena harus berjalan kaki ke sekolah dengan becek dimana-mana. Beberapa orang teman berangkat sekolah hanya beberkal buku tulis baru dan tidak berseragam karena perlengkapan sekolah hanyut terbawa air. (more…)
Teman-temanku yang baik.. Aku beritahu bahwa semua akun-akun-ku di inet (kecuali blog ini) sudah ku hapus sejak hari sabtu (21/3/09) malam. Akun-akun yang kututup antara lain :
- email lama (l***_*****@yahoo.com),
- akun di FB a.n. Lisa Nisfi Afifah,
- akun di FS a.n. Luisa Lumoindong,
- multiply (lisanisfi.multiply),
- Flickr/photo/lisanisfi sudah tidak aktif,
- plurk/lisa_nisfi
- twitter, tagged, youtube a.n. Lisa Nisfi Afifah,
- dll yang bernama Lisa Nisfi Afifah
Jadi jika teman-teman menemukan sebuah akun atau informasi apapun di inet atas nama Lisa Nisfi Afifah dengan foto dan data-dataku dalam waktu dekat ini, dapat kupastikan bahwa akun bukan milikku. Alias palsu.
Teman, aku akan absen di jejaring sosial internet dan chating (dg apapun) sampai waktu aman terkendali. Aku tidak mau terperangkap di dunia maya yang telah habis-habisan mengkhianatiku, aku kembali ke dunia nyataku.
Terima kasih pada teman-teman yang masih mengikuti blog ini. Aku tegaskan bahwa blog ini masih milikku, Lisa atau anakkutu yang sesungguhnya. Kubiarkan blog ini tetap terbuka sebagaimana biasanya agar selalu ada untuk teman-temanku. Sesekali tetap akan ada cerita untuk kalian.
NB :bijaksanalah dalam mengenali lisa yang asli. lisa yang asli tidak akan melakukan perbuatan mempermalukan diri sendiri lewat media apapun. Thanks guys.
















![A I U E [ t o p e n g ] A I U E [ t o p e n g ]](http://farm3.static.flickr.com/2430/3813491004_62fd91b5c4_t.jpg)




