Berkebun di Tembok Beton

Suatu minggu saya datang pada acara ulang tahun WWF di taman Ismail Marjuki. Salah satu booth pamerannya dari teh kotak sangat menarik, karena bukan memamerkan barang dagangannya tapi di booth nya malah seperti hutan. Rupanya teh kotak menggandeng Indonesia berkebun untuk memamerkan tanaman sayur mayur segar. Melihat sayuran dalam pot segar begitu siapa yang tidak tertarik, sayangnya mereka tidak menjual tanaman tanaman tersebut.
Sebelum pengunjung kecewa karena tidak bisa membawa pulang tanaman sayuran, SPG nya menawarkan sebuah paket berkebun yang diberikan gratis setelah kita membeli dagangannya. Dirayu SPG, saya pun tergoda membeli paket minuman berhadiah paket berkebun.

Isi paketnya : benih sayuran, agrobost pupuk, dan sebuah pot kecil. Sampai di rumah paket ini saya taro begitu saja. Belum ada niat menanam benih benih itu. Saya masih percaya pada keyakinan bahwa saya bertangan dingin dengan tanaman. Belum pernah sekalipun tetumbuhan sukses bertahan lama ditangan saya. Itu sebabnya paket berkebun ini dengan mudah saya abaikan. Hingga suatu hari saya kesambet ntah apa, tiba tiba tergugah menanam benih cabe kedalam pot.

Tanpa diduga, benih cabe mulai tumbuh. Saya jadi optimis bisa swasembada cabe hehe..keGRan. Sayangnya optimisme saya tidak bertahan lama. Hama pertama muncul. Tikus, masuk dari lubang yg digalinya di pojok taman, memporak porandakan tanaman cabe yg baru saja saya kagumi kemunculannya beberapa hari.

Saya tidak bisa menghindari tikus masuk ke halaman walaupun sudah menutup lubang-lubang potensial. Yang paling mungkin dilakukan adalah menanam ditempat yang tidak bisa dijangkau tikus. Dari hasil browsing “berkebun, Lahan sempit, kota, hama tikus” seabreg gambar kebun kebun mini diatap apartement, di pagar, bahkan di jendela kamar semua jadi kumpulan feeding untuk saya terapkan di taman.

Saya pilih metode berkebun dengan media tanam tanah untuk percobaan pertama. Pot nya saya pakai dari botol bekas air mineral. Botol 1,5 liter ini dibelah dua, diberi lubang kecil2 dan merata dibagian bawahnya. Supaya aman dari tikus botolnya saya gantung disalah satu sisi tembok taman.

image

Pot gantung dari botol air mineral bekas

Teknis menanamnya : setelah pot botol siap, isi botol dengan tanah yg sudah dicampur dengan kompos setinggi 3/4 botol. Saya beli tanah dan kompos yang siap pakai dari toko trubus. Kemudian ratakan permukaan tanah, buat lubang kecil dengan jempol sedalam kuku, tebar benih yg ingin ditanam, tutup lagi dengan tanah, siram. Selesai. Selanjutnya rawat bayam cukup disiram 2x sehari.

Tembok tempat menggantung pot ini cukup strategis. Pertama, tidak bisa dipanjat tikus. Kedua, tembok ini kena sinar matahari pagi dan teduh saat siang hingga sore. Ketiga, benih bisa langsung ditanam di pot karena tembok ini tidak terkena guyuran hujan secara langsung sehingga bibit bibit tanaman yang masih lemah batangnya tidak rusak kena hujan.

Pada tanam perdana saya pilih tanaman yg mudah dan cukup bandel, yaitu bayam. Dua hari setelah tanam benih, mulai muncul tunas dipermukaan tanah. Percobaan pertama dengan bayam bisa dikatakan cukup sukses. Saya bilang cukup sukses karena dengan pengetahuan seadanya, bahkan diawali dengan tidak yakin tentang berkebun, bayam tumbuh subur. Sebulan kemudian panen raya bayem :)

image

Panen Perdana Bayam

Panen raya perdana semakin memotivasi untuk menanam lebih banyak lagi. Menanam tanaman yang bisa dikonsumsi sehari hari. Tanaman produktif seperti sayuran, dedaunan yang sering dipakai memasak, dan bunga bungaan penarik kumbang. Tentunya diimbangi dengan menambah pengetahuan lebih baik tentang berkebun.

Panen raya perdana ini memberikan inspirasi bahwa menanam tidak perlu tangan tangan dingin seorang ahli. Menanam hanya perlu benih, tanah, air, dan matahari. Termasuk inspirasi bahwa kini tembok juga bisa ditanami.
:-)

About these ads
This entry was posted in Berkebun, Ruang Belajar and tagged , , , , by anakkutu. Bookmark the permalink.

About anakkutu

Nama boleh keren ya Lisa, tapi kalo tau di kampung-kampung Jawa Barat sana Lisa adalah kutu/anak kutu/telur kutu ya itu lah, kutu. Maka saya pun di panggil anakkutu :) Menulis disela kesibukan seorang ibu dan pekerja kontrak di sebuah instansi pemerintah yang bertemakan "Pembangunan Nasional" dan saya mengurusi hal hal seputar "Kartografi, GIS, penginderaan jauh". Maka kemudian blog ini pun isinya seputar urusan menjadi ibu dan urusan remeh temeh tentang peta. Enjoy!

2 thoughts on “Berkebun di Tembok Beton

  1. Pingback: Berkebun di Tembok Beton | #MustVisit - Pintu Gerbang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s