Skip to content
June 21, 2010 / anakkutu

Another Holiday in Derawan

Kepulauan Derawan - National Geographic - Januari 2010

Sore itu speedboat yang ku tumpangi melaju cepat di atas peairan Derawan yang teduh bak permadani. Kami meninggalkan Pelabuhan Tanjung Batu menuju gugusan pulau terdepan, Derawan. Keramba pancing nelayan disepanjang perjalanan menjadi foreground pemandangan laut disekelilingnya. Dan matahari tenggelam, menyempurnakan perjalanan ini. Indah sekali. Sekitar dua puluh menit, sampailah di dermaga Pulau Derawan.

Perjalanan yang bak mimpi ini sudah ku idam-idamkan sejak lama, tepatnya sejak sepuluh tahun lalu ketika menginjakkan kaki di bumi Kaltim. Mengenang seorang sahabat yang bercerita tentang kemolekan kepulauan ini, tentang terumbu karangnya, dan bagaimana antusiasnya dia yang baru pertamakali melihat penyu sebesar meja belajarnya, membuat ku semakin menjadikan Derawan menjadi target “the place i must visit before die” versi sendiri.

Semua ini berawal dari perintah atasan kepada ku untuk hadir pada acara yang diadakan di Tanjung Redeb, Berau. Seketika aku terbangun dari mimpi-mimpi indah tentang derawan dan bersiap untuk mewujudkannya. Dan, perjalanan mewah ini semakin mudah karena ada teman yang mengatur semuanya.

Sampai di darat, penjemput sudah siap. Kami digiring menuju penginapan yang cukup mewah ditepi pantai. Penginapan milik mantan Bupati Berau yang dibangun sejak sepuluh tahun lalu dibangun dengan konsep natural, begitu menurut keterangan keluarganya yang tinggal disitu. Sebuah cottage empat kamar yang totalnya seharga 1.200.000/malam dipesan khusus untuk rombonganku. Tiap kamarnya dilengkapi dengan AC dan kamar mandi sendiri, menjaga privacy tamunya. Benar-benar liburan yang mewah.

dari kiri atas searah jarum jam ke kanan bawah : 1. speedboat yang disewa untuk menyeberang dari Tanjung batu ke Derawan; 2. Cottage milik Pak Masjuni (mantan Bupati Berau) per malam 1,2jt; 3. Enterance Resort Derawan; 4. Pantai Teluk Penyu tempat bertelurnya penyu

Daratan cukup sepi, pulau derawan seperti pulau pribadi. Belum banyak pengunjung hari begini, kata si penjaga cottage. Biasanya pulau ramai diakhir pekan. Orang datang dari berbagai daerah, tapi yang paling banyak datang dari Tanjung Redeb (Berau), Tarakan, Nunukan, dan daerah-daerah utara Kalimantan Timur, serta turising (turis asing). Umumnya turis lokal hanya berenang atau snorkeling tidak jauh dari pantai. Sementara turis asing lebih senang ke Pulau Sangalaki dan Kakaban yang (katanya) suasananya lebih tenang (tidak banyak penduduk) dan biota lautnya lebih banyak. Pari Manta yang sering disebut batman (karena memang bentuknya mirip dengan simbol batman), hiu, penyu, dan ubur-ubur (tidak menyengat) ada disana. Sayang, hari berikutnya saat kami menjadwalkan akan singgah di kedua pulau ini gelombang laut cukup tinggi tidak berani diterjang speedboat kecil dan di Tanjung Batu sedang sulit mendapatkan bahan bakar solar. Sangalaki dan Kakaban akan menjadi target pribadi selanjutnya.

dapat cerita dari teman arti nama-nama di kepulauan derawan adalah “paket kelurga” : Pulau Derawan artinya pulau perawan; Pulau Sangalaki artinya laki/suami; Pulau Kakaban artinya kakaknya si perawan; Pulau Maratua artinya pulau mertua, dan sebagainya. Boleh percaya atau tidak, intermesso

Setelah cukup melepas lelah sebentar, aku dan teman-teman langsung me-laut alias menuju laut. Mandi sore di akuarium alam derawan. Kami hanya snorkeling di titik selam terdekat karena hari sudah menjelang gelap.

dari kiri atas searah jarum jam ke kanan bawah : 1. dua penyu sedang berenang bersama; 2. terumbu karang di peairan dangkal pulau derawan; 3. terumbu karang yang sehat; 4. penyu hijau sebesar meja belajar

Sore itu ikan cukup banyak seliweran. Ada satu penyu jauh diujung sana, dibawah jembatan dermaga. Saling menjauh karena takut. Paling banyak jenis school fish, mereka merapatkan barisan dibawah jembatan dan disisi terumbu karang ditempat yang lebih dalam.  Sedangkan satu dua ikan napoleon besar berenang sangat dekat dan sempat mengejutkanku. Satu lagi yang tidak pernah mau ketinggalan pertunjukan, ikan badut. Si nemo dan bapak-nya berenang tidak jauh dari rumahnya, anemon laut. Sayangnya terumbu karang ditempatku snorkeling sebagian besarnya mati dan sebagian lagi bleaching dan kurang dari 10% yang hidup ditambah gerombolan duri babi yang tersebar dilautan. Semoga saja hanya ditempat ini yang terumbunya jelek begini.

Langit berangsur-angsur gelap, tanpa diiring kumandang azan terasa sepi sekali.

Kami naik dan bersiap untuk makan malam. Rencananya adalah mencari makan malam di kampung. Aku tidak berekspektasi terlalu tinggi untuk makan malamnya karena sepengalaman tinggal di pulau yang jauh begini, pasti ada saja makanan yang tidak sesuai dengan keinginan. So, indomie rebus telor yang paling netral jadi santapan seadanya dan nikmat.

Usai makan malam di Warung Nikmat, kami mengelilingi pulau derawan yang luasnya “hanya” kurang lebih 44 ha. Dengan luas sekecil itu tentu saja hampir tidak ada kendaraan bermotor, yang artinya menambah sunyi malam di Pualu Derawan. Pantai sunyi dan hangat seperti inilah yang disenangi penyu-penyu hijau maskot derawan untuk mengubur telur-telur mereka. Sekali lagi tidak beruntungnya aku, tidak ada penyu mendarat malam itu.

Keesokan siangnya, saat aku jalan-jalan ke dermaga teluk penyu, muncul satu penyu sebesar meja kerjaku berenang santai di perairan dangkal teluk, kemudian muncul satu lagi, lagi, dan banyak lagi di perairan itu. Air jernih dan dangkal memudahkan untuk mengamati aktivitas mereka. Makan di padang lamun, pindah dari satu lamun ke lamun lainnya, kemudian secara singkat dan sesekali timbul kepermukaan menyemburkan air dari mulutnya membuat penonton semakin penasaran dan bernafsu untuk mengambil gambarnya. Namun “Si Kakek Tua” tetap santai dan tidak peduli (seperti manusia yang semakin tidak peduli pada alamnya).

Penyu Show siang itu menjadi akhir dari perjalanan ini, dan kami harus kembali ke Tanjung Batu untuk mengejar pesawat pulang ke Balikpapan.

senja - waktunya pulang

Foto – foto di Derawan bisa dinikmati di album Picasa #Derawan

How to get Derawan : terbang dari Balikpapan (Bandara Sepinggan), maskapai Batavia Air adalah satu-satunya yang pesawat boing yang terbang menuju Tanjung Redeb, Berau. Atau berangkat dari Samarinda (Bandara Temindung) langsung Tanjung Redeb dengan pesawat baling-baling Kalstar atau Trigana Air. Harga tiket pesawatnya saat peak season berkisar 800 ribu rupiah.

Where to live : Apabila akan menginap di Kota Tanjung Redeb, Hotel Derawan Indah, Hotel Herlina, atau motel dan hotel yang banyak terdapat di Kota Tanjung Redeb. Untuk di Pulau Derawan, banyak penginapan murah dan minim fasilitas di kampung (rumah warga yang kamarnya disewakan) seharga 60 ribu permalam, atau yang lebih mewah anda bisa menyewa cottage di tepi pantai yang kisaran harganya 800 ribu – 1,2 jt per malam.

What to do : aktivitas laut terutama snorkeling dan diving sangat disarankan. Peralatan snorkeling bisa disewa “warung” tepi pantai seharga 10 ribu rupiah. Atau bisa sekalian bayar paket sewa alat + guide dan diantar ke lokasi-lokasi penyelaman yang bagus snorkeling @350 ribu/orang dan diving @500-600ribu/orang. Aktivitas lain untuk keluarga ada banana boat atau memancing.

Happy Holiday!!

:D

About these ads

7 Comments

Leave a Comment
  1. httsan / Jun 21 2010 3:35 pm

    must visit, someday…
    : )

  2. mutiara / Jun 22 2010 2:45 am

    kira2 setelah ditotal dengan uang transport n sebagainya kira2 dana yang harus dipersiapkan per orang berapa ya?

    • anakkutu / Jun 23 2010 4:02 am

      yang jelas, semakin banyak orang biayanya bisa makin murah. Kalau ambil harga tertinggi pesawat PP BPN-Berau = 1,6 jt;
      sewa mobil dari Tj.Redeb – Tj.Batu = 500 rb PP;
      sewa speedboat ke p.derawan = 400 rb PP;
      cottage derawan 1 kamar/malam = 300 rb bisa utk 2 orang.

      silakan dihitung sendiri ya..

  3. nda / Jul 13 2010 4:27 pm
  4. Rino Sangbadak / Sep 14 2010 9:07 pm

    ahahaya.. ui anak kutu… kalo jalan2 ke derawan lagi ajak2 donk,,, udh lama g nyelem disitu,, jagai lah kalo aku nyelem, takut g muncul2… ahahay

    • anakkutu / Sep 15 2010 1:28 am

      baru tau badak bisa berenang :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 781 other followers

%d bloggers like this: