Filed under: Indonesia Negeriku, Wakatobi | Tags: Orang Bajo, perjalanan, sampah, Travelling, wakatobi, wisata
Menurutku, Kota Wanci tidak jauh berbeda dengan kota kabupaten lain yang baru mekar. Kota lama yang sudah terbangun dirapikan sarana dan prasarananya, sementara itu pemerintah mempersiapkan lahan untuk perluasan kota. Infrastruktur, terutama jalan, sedang dalam proses perbaikan dan pengerasan. Bahkan jalan porosnya pun masih diaspal kasar, jadi sepanjang perjalanan mengelilingi Wangi-Wangi tubuh kami jogad joged di mobil.
Akses menuju Wakatobi terasa lebih mudah karena Bandara Matahora (bukan manohara) sedang dalam proses pembangunan. Meskipun belum sempurna, landasan pacu bandara sudah bulak balik dipakai Susi Air terbang dari Wanci-Kendari, Kendari-Wanci. Setidaknya saat terakhir aku kesana kondisinya seperti itu (8okt2009). Sementara pelayaran dari Kendari-Wanci dan Bau-bau-Wanci terbuka sangat.
-Desa Mola Selatan, Wang-Wangi-
Saat tiba waktunya mengunjungi kampung Orang Bajo, saya dibuat ternganga-nganga oleh apa yang ada didepan saya. Mereka (Orang Bajo) membangun peradaban bukan lagi di tepi pantai, tapi sudah sampai ke tengah laut. Saluran-saluran air yang adalah laut airnya sangat jernih sehingg saya bisa melihat dengan jelas penyu hijau berenang diantara sampah.
Di sini, di Wakatobi, orang bajo membahasakan diri mereka orang laut dengan arti yang sebenarnya karena memang mereka hidupnya dilaut, tidak punya tanah didarat. Dulunya mereka nomaden, hanya tinggal diperahu mereka, tapi lama kelamaan mereka membuat rumah diatas karang.
Menurut Pak Desa Mola, Orang Bajo itu tidak bisa lepas hidupnya dari laut. Beliau cerita, pernah tinggal di kota selama berbulan-bulan. Saat beliau sakit, yang dicari bukan dokter melaikan laut. Ketemu laut seperti ketemu pacar, katanya. Penyakit dibadannya langsung hilang, sehat lagi dia. Ada keterikatan batin yang kuat antara Orang Bajo dan laut. Bagaimana tidak, kalau kita yang orang darat, kebiasaan menanam ari-ari bayi ditanah, sementara Orang Bajo membuang ari-ari mereka di laut. Sehingga ada kecenderungan timbul perasaan kuatir/takut/perasaan negatif lain apabila kita (orang darat) berada bukan dihabitat kita. Begitupula dengan Orang Bajo.
Orang bajo mengandalkan sumberdaya laut untuk hidup mereka. Kabanyakan dari mereka adalah nelayan laut dangkal, penambang pasir, penambang karang, dan bertani rumput laut. Dengan demikian, jika ada kehidupan yang berlangsung diatas laut, maka sudah sewajarnya akan timbul masalah. Sehingga sudah seharusnya pemerintah daerah membuat aturan pengelolaan sumber daya laut yang terpadu. Dan sungguh bijaksana apabila kebijakan yang dikeluarkan pemeritah untuk mereka disertai dengan solusi atas kebijakan tersebut. Untuk kebaikan bersama. Terumbu karang sehat, ikan banyak, rakyat sejahtera.
Yang aku tanyakan pertama kali saat berkeliling di kampung laut adalah, dimana mereka membuang sampah. Dan benar saja jawabannya klasik, di laut. Ini persoalan besar, kawan. Mungkin pada saat angin timur yang ramah datang, laut wakatobi tenang, sampah dibawa arus ke tempat lain yang jauh dari daratan Wakatobi, tetapi saat musim berganti menjadi angin barat, petaka yang datang. Sampah itu akan terbawa kembali ke daratan mengotori darat dan laut Wakatobi yang indah luar biasa.
Sementara selama setahun penuh lalu Pak Hugua (Bupati Wakatobi) koar-koar promosi wakatobi kepenjuru dunia bahwa Wakatobi itu lautnya bersih, terumbu karangnya bagus, dan sebagainya, padahal masalah yang ada didalamnya belum tuntas diselesaikan, maka akan habislah keindahan itu. Apa tidak malu kalau nanti orang datang menagih janji keindahan yang dipromosikan ternyata tidak benar adanya. Harusnya ada orang/lembaga yang peduli menangani pengelolaan sampah di kampung laut. Ini baru satu kampung laut yang begini, belum lagi ada puluhan kampung laut lain yang tersebar di seluruh perairan Wakatobi.
-Desa Sampela, Kaledupa-
Kemudian aku datang ke Desa Sampela di Kecamatan (Pulau) Kaledupa. Untuk menuju kampung ini, tentunya harus menyabrang dari Wanci ke Kaledupa dengan kapal cepat baru menyewa kapal nelayan di pelabuhan Ambeua menuju Kampung Sampela.
Dikampung ini aku perhatikan sudah lebih teratur penataannya, meskipun tetap saja ditengah laut. Jembatan yang pancangnya beton dibangun berfungsi sebagai jalan poros kampung. Saat aku tiba, anak-anak bajo menyambut kami di dermaga mereka. Beberapa wajah sudah dikenal Yaya dengan baik, karena sebelumnya disudah sekali kesini. Dengan mudahnya kami menemukan rumah Pak Desa Sampela, kemudian wawancara dimulai.
Rata-rata kehidupan Orang Bajo dikampung laut sama saja. Melaut. Meskipun dari hasil melaut saja sudah mencukupi kebutuhan hidup mereka, bahkan ada yang bisa naik haji dari hasil lautnya, tetapi (ternyata) sifat mereka sangat konsumtif dan tidak perhitungan. Apa yang ada sekarang, ya dihabiskan sekarang juga. Masalah besok tidak ada, ya cari lagi.
Yah, inilah Indonesiaku dengan segala ragam budayanya. Jadi teringat kata dosen dulu, “hasil laut Indonesia kalau dikumpulkan bisa buat bayar utang Negara”. Nah loh, siapa bilang orang Indonesia miskin ?
Foto-foto kampung laut orang Bajo bisa dilihat disini [picasa web album]
[bersambung cerita di wakatobi lainnya]
Cerita sebelumnya : Perjalanan Bau-Bau ke Wanci [Wakatobi bagian 1], Senyam Senyum Sana Sini [Wakatobi bagian 2]
2 Comments so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
















![A I U E [ t o p e n g ] A I U E [ t o p e n g ]](http://farm3.static.flickr.com/2430/3813491004_62fd91b5c4_t.jpg)




Hmmm … orang bajo …
saya pernah melihat reportasenya di TV
Tetapi penjelasan di blog ini terasa lebih lengkap …
ini pengetahuan baru bagi saya …
Terima kasih banyak ya
Salam saya
Comment by nh18 November 19, 2009 @ 4:13 amlengkap mungkin karena saya mengalaminya sendiri di lapangan pak.
Comment by anakkutu November 20, 2009 @ 2:03 amthanks kunjungannya om nh