Sebuah tempat yang sangat tidak asing bagiku. Namanya Jl. Kebon Jahe. Kalo dari Monas atau gambir naik bajaj bilang “kebon jahe, tenabang lima, Bang!” sekitar 6-8rb perak, atau kalo dari bandara cengkareng naik DAMRI bandara turun di Jatibaru, ya bayar tarif DAMRI lah.., 15rb kalo ga salah. Atau kalo gamau ribet naik taxi, tarif normal (ga macet) sekitar 80-100rb belom termasuk tariff tol.
Secara teknis aku tidak tinggal di sini, tapi kalo aku melakukan perjalanan ke Jakarta selalu tempat ini dapat dijadikan “rumah” nemplok semetara untuk sekedar main bercandatawa dengan sodara-sodara atau cuma pengen ngemil kue rangi. Itu loh..kue yang dibuat dari adonan terigu dan kelapa dikukus sebentar trus kalo udah jadi ditaburin gula aren/jawa yang dilelehkan diatasnya. Rasanya? Cuma lidah yang tau,
satu loyang (10strip kue) harganya 2rb perak, murah kan! Dulu nenek dan orang tuaku tinggal disini, bisa dibilang tempat kecil kami (keluargaku) atau kampung lah sebelum akhirnya migrasi. Jadi ya wajar saja kalau terdapat ikatan yang kuat antara tempat ini dan keluargaku.
Secara administratif Kebon Jahe masuk wilayah Jakarta Pusat, Kecamatan Gambir, Kelurahan Petojo Selatan. Jalan Kebon Jahe terletak persis sebelah selatan tenabang V (arah pusat belanja tenabang) hanya dipisahkan oleh Pasar Gang Tomas. Jalan besar didepan Jalan Kebon Jahe namanya Jalan Cideng Timur, yang mengapit Kali Cideng. Lokasi yang strategis dipusat kota, kalo mau jalan ‘kemana-mana’ relatif dekat, tapi sayang tidak untuk dijual J (isu : udah di lirik BI untuk perluasan lahan kantornya).
Lingkungan Fisik
Jangan bayangkan kebon jahe adalah tempat yang nyaman dengan pohon-pohon hijau dikanan kiri jalannya, atau jalanan bersih dan rapi mulus dengan saluran air yang baik, dan rumah-rumah bagus dari beton dengan halaman luas dan pagar sebagai pelindung (dari maling) sehingga aku betah bulak-balik ke tempat ini.
Berkebalikan dari itu, mungkin disinilah salah satu tempat hampir kumuh dipusat ibukota. Jalanan beraspal tapi hanya jalan utama, selebihnya jalanan di gang-gang kecilnya adalah jalanan semen atau tanah. Got-got saluran pembuangan tidak lagi mengalirkan air karena sudah tersumbat sampah, sehingga kondisinya sekarang air hanya diam disitu jadi tempat beranak, bertelur dan hidupnya makhluk2 jorok pembawa penyakit. Tapi kala Jakarta heboh dengan banjir pada musim penghujan, kebon jahe tetap aman-aman saja. Catat ya, Poin 1. Air limpasan hujan langsung mengalir ke Kali Cideng, makanya ga banjir.
note : Sekalinya banjir jaman dulu (jalam ibuku masih muda) air menghanyutkan foto-foto pernikahan ibuku dan surat-surat penting lainnya (sertifikat, akte kelahiran, ijazah, dll) mengenaskan.
Bagian utara kampung sudah digusur (termasuk rumah emaknya ibuku-nenek), karena dulu sempat heboh kampung ini akan dibeli oleh BI guna melebarkan lahannya. Ternyata sampai sekarang isu itu tidak (belum) terealisasikan sehingga masih banyak warga yang bertahan. Lahan yang sudah digusur, oleh warga dijadikan lapangan sepakbola. Siapa saja boleh main disitu (dengan ijin pejabat setempat,
)
Lingkungan Sosial
Aktifitas warga kebon jahe sehari-harinya bervariasi dari yang duduk-duduk dipos ronda sampai didepan rumah sendiri, hehe.. Gotong royong dan saling berbagi gosip adalah hal yang biasa di kampung ini. Dari ujung jalan sampai ujung jalan yang satunya orang-orang saling mengenal dan bertegur sapa. Anaknya si ini cucunya si anu, semuanya kenal. Tingkat kriminalitas juga rendah, bahkan hampir tidak pernah ada riwayat kemalingan dirumah warga (kecuali kemalingan duit sama anaknya sendiri-buat jajan.red-
)
Mushola yang berdiri sejak akugataukapan sampe sekarang masih rame didatangi warga, dari anak-anak sampai aki-aki (kakek). Kegiatan-kegiatan kejuaraan lokal antar warga juga sering diadakan, apalagi 17-an. Terakhir aku datang (minggu lalu) ada football cup, yang bertanding ga main-main. Ada MU vs Barca, trus Juve vs Lyon, Chelsea vs Ajax, dmc (dan macemmacem). Pemainnya juga ga tanggung-tanggung! Langsung menarik pemain dari TIMNAS!! Angga Putra, Cecep, Muji, Mulyadi, dmc.
Yah begitulah..
Lingkungan Ekonomi
Roda perekonomian warga sebagian besar dikendalikan oleh perdagangan felg ban mobil. Pangkalan-pangkalan felg ban berjejar didepan jalan kebon jahe. Kebanyakan adalah usaha keluarga atau banyak juga pemuda yang menjadi kuli angkut felg. Yang lainnya jadi pekerja sipil, satpam, marbot mesjid, pemain futsal nasional, mahasiswa, pengangguran, ibu rumah tangga, anak-anak, dan wulan (wanita usia lanjut).
Dan secara umum tingkat kemiskinan warga pada level: Miskin, agak miskin, hampir miskin. Ada sih beberapa warga tidak miskin, tapi tidak ‘bergaul’ dengan warga.
Begitulah Kebon Jahe dan pada personilnya; ada kelompok orang kaya, orang miskin, komunitas lansia, komunitas anak kecil, bahkan kambing juga ada disini!
Foto-foto bisa diliat disini
1 Comment so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
















![A I U E [ t o p e n g ] A I U E [ t o p e n g ]](http://farm3.static.flickr.com/2430/3813491004_62fd91b5c4_t.jpg)
oya gw baru tau ca yg satu ini.
Comment by ocha June 19, 2008 @ 4:31 amko g pernah cerita2..