anakkutu


Senangnya Bermain Bersama Nemo di Pulau Hoga
December 14, 2009, 7:29 am
Filed under: Indonesia Negeriku, Wakatobi, ceritaku | Tags: , , , , ,

cerita hoga

Pagi-pagi sekali kami bangun untuk mencuci. Untungnya di rumah ini kami sudah dianggap anak sendiri sehingga (agak) bebas beraktivitas ala rumahan. Selayaknya teman yang saling berbagi, dalam mencuci pun kami saling bagi tugas. Aku bagian ngucek, Yaya bagian bilas kemudian menjemur sama-sama atau salah satu yang pakaiannya lebih banyak. Persahabatan yang penuh perhitungan.

:-D

Kami sarapan sambil membicarakan kemungkinan-kemungkinan perubahan rencana yang lazim terjadi selama kami di Wanci. Misalnya saja hari ini, harusnya kami masih tinggal di Wanci 1-2 hari lagi untuk survey keliling pulau baru kemudian menyebrang ke Kaledupa. Tapi semalam kami dapat tawaran untuk ikut ke Pulau Hoga bersama rombongan tamu Seminar Lingkungan Hidup yang kami ikuti kemarin. Bagaimana mungkin kami bisa menolak Pulau Hoga lewat begitu saja.. Akhirnya jadwal harus fleksibel, yang penting target tercapai.

Jam 8 pagi seperti yang sudah dijanjikan untuk temu, kami datang. Ternyata tamu lain masih sarapan di hotel, katanya kita akan berangkat dengan kapal cepat Pemda jam 10 nanti. Ya sudah, kami putuskan untuk menunggu di Rumah Makan Wisata yang terkenal enak (dan lama) makanannya. Tadinya aku dan Yaya hanya berdua, tapi kemudian Prof. Boedhi (UI), yang tidak cocok lidahnya dengan makanan yang disajikan hotel, bergabung dengan kami. Sambil ngobrol santai, kami pesan 3 ekor ikan masak pedas + nasinya (rasanya luar biasa nikmat)  yang akhirnya harus dibungkus karena terlalu lama menunggu sementara teman-teman lain sudah siap akan berangkat. Ternyata waktu berangkat dipercepat.

Kami berangkat menuju Hoga jam 8.30. Rute perjalanan kapal langsung tembak dari Sauh RM.Wisata ke Dermaga Hoga. Kata nakhoda waktu tempuh kurang lebih 1 jam 30 menit.

Laut tenang tak berombak. Kapal melaju cepat membawa kami ke pulau karang, Hoga. Diparo perjalanan, saat semua sedang asik bercengkrama, kami berpapasan dengan kawanan lumba-lumba. Kemunculan lumba-lumba diyakini sebuah indikasi keberadaan ikan dan cumi-cumi makanannya. Kami bertepuk tangan saat si lumba-lumba beraksi lelompatan dari air. Atraksi singkat yang berkesan. (more…)



Harimau Berworkshop
November 26, 2009, 5:15 am
Filed under: Field Spectrometry, Spatial Corner | Tags: , , , ,

Saat mendengar kata harimau yang terbayang pasti si kucing besar yang buas itu. Harimau yang disini adalah salah satu program yang sedang berjalan di PTISDA BPPT. Harimau singkatan dari Hydrometeorological ARay for ISP Monsoon AUtomonitoring.

Setelah setahun ini bergerilya di sawah mencari organisme pengganggu tumbuhan,  kini saatnya publikasi hasil yang diperoleh dalam kegiatan Harimau. Tanggal 5 November 2009, PTISDA BPPT bekerja sama dengan BPP-OPT mengadakan Workshop Aplikasi Radar Cuaca untuk Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Rangkaian acara selama workshop adalah laporan-laporan kegiatan selama penelitian, aplikasi yang diterapkan untuk peramalan OPT, serta launching produk dari analisis peramalan OPT.

Produk yang di luncurkan berupa website peta sebaran OPT seluruh Indonesia. Yang dikerjakan tim BPPT dan data supportnya adalah tim dari BBP-OPT Jatisari, Karawang.

akses terbuka bisa dilihat disini:

http://neonet.bppt.go.id/opt/

halaman muka web OPT

Identifikasi OPT dengan Data Penginderan Jauh

Saya sendiri membawakan panel berjudul Pengamatan Sebaran OPT – BLB dengan Identifikasi Spektral Daun Terdampak Menggunakan Data Hiperspektral [unduh materi]. Yang isinya kurang lebih menjelaskan bahwa OPT (kasus : BLB) dapat diidentifikasi menggunakan data penginderaan jauh dengan efektif, cepat, dan efisien. (more…)



Kampung Laut Orang Bajo
November 9, 2009, 5:47 am
Filed under: Indonesia Negeriku, Wakatobi | Tags: , , , , ,
2009-10-10_WKTB4

wanci in frame

Menurutku, Kota Wanci tidak jauh berbeda dengan kota kabupaten lain yang baru mekar. Kota lama yang sudah terbangun dirapikan sarana dan prasarananya, sementara itu pemerintah mempersiapkan lahan untuk perluasan kota. Infrastruktur, terutama jalan, sedang dalam proses perbaikan dan pengerasan. Bahkan jalan porosnya pun masih diaspal kasar, jadi sepanjang perjalanan mengelilingi Wangi-Wangi tubuh kami jogad joged di mobil.

Akses menuju Wakatobi terasa lebih mudah karena Bandara Matahora (bukan manohara) sedang dalam proses pembangunan. Meskipun belum sempurna, landasan pacu bandara sudah bulak balik dipakai Susi Air terbang dari Wanci-Kendari, Kendari-Wanci. Setidaknya saat terakhir aku kesana kondisinya seperti itu (8okt2009). Sementara pelayaran dari Kendari-Wanci dan Bau-bau-Wanci terbuka sangat. (more…)



Senyam Senyum Sana Sini
November 8, 2009, 4:30 pm
Filed under: Indonesia Negeriku, Wakatobi, ceritaku | Tags: , , ,
Wanci dari Kapal

Wanci dari Kapal

Tidur nyenyakku digugah petugas tiket. Ternyata sudah pukul 5.30 jumat pagi. Saat petugas memeriksa tiket, kulihat daratan sudah dekat, ah tidak lama lagi kapal akan merapat di Pelabuhan Wanci. Segera kubangunkan yaya dari tidurnya. “Ya, Ya, bangun, udah deket!!”, kataku. Kami berdua lompat dari ranjang untuk melihat matahari terbit yang kesiangan hehe.. ternyata sunrise-nya jam 5 tadi, terlambat deh.

Mumpung sudah terang dan masih diatas kapal, maka ini saatnya mengeluarkan si nikko (kameraku dinamai nikko) untuk memuaskan dahaganya memotoh. Hoho..  tidak lama kemudian si nikko sudah terisi aneka pose kami di haluan kapal dan berbagai sudut pelabuhan Wanci.

Kapal sandar. Kami kembali ke kamar, beberes barang dan sedikit memoles wajah biar lebih segar saat bertemu orang darat. Mudah-mudahan ada yang jemput. Kalau tidak juga tidak apa, banyak tukang ojeg disana.

Kabarnya, tarif ojeg di Wanci jauh dekatnya 3ribu hehe.. Jadi, kalau anda berencana backpaker ke Wanci, jangan kuatir soal kendaraan, karena tukang ojeg siap mengantar anda kemana saja dengan harga bersahabat. Hanya saja, saranku, waspadalah mengenali tukang ojeg yang waras dan mabok. Ada selentingan berita miring tentang orang-orang wanci. Tidak perlu dibahas sebabnya. Memilih yang waras penting untuk keselamatanmu, bukan ? :-) (more…)



Perjalanan Bau-Bau Ke Wanci
October 30, 2009, 6:25 am
Filed under: Cerbung, Wakatobi | Tags: , , , ,
pelabuhan#2

suasana pelabuhan

Pelabuhan ini seperti pasar malam, ramai orang. Sepanjang  10 meter orang berjualan didepan kapal UKI Raya III yang akan berangkat malam itu dari Bau-Bau ke Wanci. Obor-obor kecil dari mereka menerangi langkah kami menuju kapal. Jarak sandar kapal “cukup” jauh sehingga membuatku hati-hati melangkah lewat papan panjang ke badan kapal, kuatir terpeleset karena sendal karet yang kugunakan gak yakin anti selip.

Kapal kayu ini cukup besar. Mungkin muat sekitar 100 penumpang, ditambah dengan motor yang satu-dua dibawa penumpang. Kata temanperjalanku, dia lebih nyaman naik kapal kayu seperti ini dibanding naik speedboat yang terbuat dari fiber. Alasan keamanan, katanya. Speedboat lebih mudah pecah dan karam kena hantaman ombak (ombak-ombak tertentu pastinya) dibanding kapal kayu. Juga dalam hal rancangan badan kapal, jika terjadi sesuatu (semoga tidak) penumpang lebih cepat menyelematkan diri dari kapal ketimbang dari speedboat. Ah, semoga kami selamat sampai tujuan.

Kapal kayu ini disiapkan untuk perjalanan jauh. Dilengkapi dengan kamar tidur yang didalamnya ada 2 pasang ranjang tingkat dengan alas kasur busa tipis, bantal, dan guling. Sementara di luar kamar berjajar ranjang tingkat dengan alas matras tanpa bantal guling. Harga tiket untuk penumpang berkamar 133 ribu rupiah ditambah pajak masuk penumpang di pelabuhan 2 ribu/orang. Pas 135 ribu. Sedangkan yang tidak dikamar harganya 80 ribu. (more…)



wakatobi photo-slide
October 19, 2009, 1:56 am
Filed under: Flickr, Ruang Belajar | Tags: , , , ,

Bulan ini aku kembali berplesir. Kali ini tujuannya adalah jantung segitiga karang dunia, Wakatobi. Sementara laporan pandangan mata dulu yah..ceritanya belakangan ;-)

Foto juga bisa dinikmati di album wakatobi fb dan jepretan terbaiknya (based on me hehe) ada di flickr.

Wakatobi, oh my Godness!

:-D



Lukisan Khombouw, Oleh-Oleh dari Teman Lama
September 11, 2009, 11:06 am
Filed under: Indonesia Negeriku, Zona Berbahaya | Tags: , , ,

Resiko orang tua yang kerjanya mengabdi pada negara adalah bersedia ditempatkan diseluruh wilayah republik ini, sampai membawa aku dan keluargaku ke wilayah timur indonesia, Papua. Dulu orang menyebutnya Irian, bahkan sampai sekarang di keluargaku masih fasih menyebut pulau kepala burung itu dengan sebutan Irian :-)

Sepanjang sekolah dasar kuhabiskan di Ibukota Papua, Jayapura. Setelah itu pindah ke Kalimantan. Sampai sekarang masih ada teman-teman sekolah dasarku yang tinggal di papua. Bertahun-tahun lost contact dari teman-teman sekolah dasar, tapi berkat friendster dan facebook kami saling menemukan satu sama lain. Jejaring semakin luas, semakin hari semakin bertambah temu teman SDku.

Sapa basa basi  sering terjadi. Hingga beberapa waktu lalu ada seorang teman yang menawarkan sebuah lukisan dari kulit kayu padaku. Oleh-oleh dari teman lama, katanya. Meskipun tak tau seperti apa bentuknya benda yang dimaksud, tapi ku iya-kan saja, tanda setuju. Eh tak tahunya paket kiriman dari papua itu bukan basa basi, dia sampai di rumah.

Ternyata begini bentuknya lukisan dari kulit kayu yang dimaksud. Cantik sekali.

Lukisan Khombouw

Lukisan Khombouw

(more…)



Indah dan Cemas di Pantai Pulo Merah
September 1, 2009, 6:02 am
Filed under: Indonesia Negeriku, Spatial Corner | Tags: , , , , ,
panoramic pantai PUlo Merah

Pulo Merah Beach in panoramic frame

Survey ke Banyuwangi awal agustus lalu membawa saya (bersama tim, tentu saja) sampai di Pantai Pulo Merah. Salah satu tempat wisata yang letaknya di Desa Pancer, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Pantai pasir putih yang menurut saya biasa saja, menjadi lebih cantik dengan adanya bukit kecil dibibir pantai. Khas. Saat air surut pengunjung bisa berjalan kaki ke bukit ini. Jangan lupa waktu kalau tidak mau terpaksa menginap semalaman di bukit itu.

Bukit yang menurut saya tidak kecil, kurang lebih 50 meter, ini kemungkinan adalah sisa proses denudasional dari tebing yang jauh disana (Gn.Tumpang Pitu) sehingga tampak terisolasi dari kawanannya. Saat kemarau, pohon-pohon di bukit itu meranggas, membuat karang di bukit terlihat jelas. Warnanya kemerahan. Konon, hal inilah yang membuat warga di sekitar pantai itu menyebut bukit tersebut Pulo Merah. (more…)



Get Your Direction
August 19, 2009, 7:22 am
Filed under: Spatial Corner | Tags: , , ,

 

Hari ini dapat kejutan dari google maps. Awalnya seperti biasa, hanya ingin mengintip subuah lokasi di Jakarta ternyata yang kudapatkan tidak hanya lokasi tujuanku tapi sedikit dieksplore ternyata google maps dengan apik menyajikan jalan mana yang harus ditempuh dari asal ke tujuan yang ditentukan. Ditambah dengan informasi nama jalan, jarak dan waktu tempuh. Sebagai catatan, rute yang disarankan disini menggunakan mobil, sehingga jalur yang dilewati adalah jalan raya, bukan jalan lingkungan/kampung.

Fasilitas ini sangat membantu orang-orang sepertiku yang senang jalan tapi tak tahu jalan. Karena untuk Kota Jakarta sendiri informasi jalan yang ditampilkan sudah cukup detil, sampai tingkat jalan lingkungan atau jalan kampung. Aku tidak tahu pasti kota mana saja yang informasinya selengkap Jakarta, belum sempat mengeksplor.

bppt-bakmijawa 

Gambar ini adalah halaman google maps saat menampilkan rute jalan. Contonya rute dari kantor (BPPT – Jl.Thamrin) ke tempat kumpul anak-anak Rogads di Bakmi Jawa Kalibata.

Garis biru adalah rute yang disarankan. Garis Orange adalah Jalan Protokol, Garis kuning adalah jalan lokal/jalan raya. Kalau diperbesar lagi nanti muncul garis putih, yaitu jalan lingkungan.

interface GM

Di-sidebar tertulis : Jalan MH Thamrin to Jalan Kalibata 13.3 km, 17 mins. Kemudian dibawah keterangan jarak dan waktu tempuh ada informasi detil driving direction, dimana harus belok, dimana haru berputar arah, dsb. Dijamin ga bakalan nyasar kalo ngikutin rute ini.

NB : tulisan ini coba diposting langsung dari Windows Live Writer. Info lengkapnya dari weblognya fahmi.

Get your direction, now!

:-D



Kasih tak Sampai [Kawah Ijen]
August 17, 2009, 3:25 am
Filed under: Indonesia Negeriku, ceritaku | Tags: , , ,
perjalanan menuju kawah

perjalanan menuju kawah

Lepas dari PT. Perkebunan Lijen kami masih harus menempuh perjalanan 17 kilometer untuk sampai di taman wisata kawah ijen. Ntah benar diukur atau tidak sepertinya kami melewati lebih dari jarak tempuh yang tertulis dengan kondisi terlempar-lempar didalam mobil. Sungguh tidak nyaman menuju lokasi wisata ijen dengan kondisi beberapa ruas jalanan di aspal dengan asal nempel atau dibagian lain rusak karena tergerus air. Bahkan ada satu tikungan yang menanjak dengan kondisi aspal-nya parah sekali. Pedal gas mobil harus diinjak sampai habis beberapa meter sebelum menanjak, dengan kondisi jalan yang jelek sekali mobil bisa saja kehilangan keseimbangan kemudian terpeleset. Untuk tempat (yang katanya) sebagus Kawah Ijen aksesibilitas seperti ini benar-benar tidak nyaman untuk wisatawan.

peta wisata Kawah Ijen

peta wisata Kawah Ijen

Sampai di rest point, teman semobil kompak menuju toilet. HIV [hasrat ingin vivis] yang sejak separo perjalanan ditahan karena tidak ada pom bensin atau mesjid dipinggir jalan selama perjalanan ke sini ditumpah ruahkan saat sampai. Paltuding marupakan “pintu selamat datang-nya” Kawah ijen. Rest point Paltuding berada di ketinggian 1850 mdpl (meter diatas permukaan laut). Di sini tersedia warung makan, satu pondok besar untuk wisatawan menginap, fasilitas toilet umum, dan pondok pengawas lingkungan kawah ijen.

Waktu menunjukkan pukul 3 sore saat teman-teman selasai dengan ‘urusan’ pribadinya. Di pinggir taman tertulis : “Kawah ijen 3 kilo” kemudian ada simbol tapak kaki yang artinya menuju ke Kawah dengan berjalan kaki. Belum terbayang sebelumnya arti 3 kilo yang sebenarnya, maka dengan semangat “coba dulu” kami mulai naik. Coba dulu kalau sampai ya syukur, tapi kalau tidak sanggup ya turun, begitu maksudnya. Jangan samakan Kawah Ijen seperti Gunung Tangkuban Perahu atau Gunung Bromo yang kawahnya bisa dinikmati sambil berkuda santai. 3 kilometer yang dimaksud adalah 3 kilometer menajak dan berliku-liku yang jika di proyeksikan dengan rata-rata kemiringan tanjakan sekitar 40 derajad maka panjang datar jalan sebenarnya bisa jadi lebih dari 5 kilometer.

Coba dulu… (more…)